
“Silahkan cek saja keasliannya,” sahut Luca dengan santainya.
Leonard dan beberapa anak buahnya pun segera memeriksa keaslian uang itu. Dan tidak sesuai yang Leonard bayangkan, semua uang itu ternyata asli sampai membuatnya kehilangan kata-kata untuk menghina Luca lagi.
“Siapa kau sebenarnya?” tanya Leonard dengan tatapan menyelidik pada Luca.
“Luca Cano Xavier! Seorang anak yang telah membunuhmu Ayahmu, Leo!
Tiba-tiba pintu kembali terbuka, menampakan seorang pria tua berpakaian serba mewah yang berjalan masuk mendekati Leonard. Dalam sekali melihat, Luca sudah dapat mengenali pria tua itu yang merupakan Kakek dari Leonard yaitu Simon Gustavo.
“Kakek! Apa maksud perkataan Kakek barusan?” tanya Leonard yang terlihat bingung, karena sampai sekarang anak itu tidak mengetahui apapun tentang ayahnya.
“Apa kau tidak mendengar apa yang Kakek katakan padamu tadi? Dia adalah orang yang telah membuatmu tidak memiliki ayah!"
"Dia ‘lah orang yang telah menyebabkan ibumu gagal menikah dan harus membesarkan mu seorang diri. Dia ‘lah orang yang telah membunuh Ayahmu ketika kau masih berada di perut ibumu.”
Jelas sekali bahwa Simon berusaha memprovokasi cucunya sendiri untuk membalas dendam kepada Luca yang saat itu ada di hadapannya.
Sebagai seorang sahabat dan mantan orang kepercayaan dari Evan, serta kini menjadi orang kepercayaan Rayden.
Tentu saja Jaydon dan Felix tidak bisa tinggal diam melihat Simon yang ingin mengadu domba anak Evan dengan anak Rayden.
“Apa yang kau bicarakan Pak Tua! Inikah caramu mendidik cucumu sendiri?” sindir Felix yang kalau sudah merasa emosinya telah terpancing dia akan bicara tanpa menyaring ucapannya terlebih dahulu.
“Lihatlah! Ternyata dua pengkhianat ini sekarang berusaha melindungi pembunuh Ayahmu.”
Simon mengabaikan sindiran dari Felix dan malah membalasnya dengan menyindir balik. Apalagi Simon sangat mengetahui bahwa Felix dan Jaydon adalah mantan orang kepercayaan yang kini menjadi orang kepercayaan Rayden.
“Apa yang kau katakan di depan anak yang tidak tahu apapun ini, Hah?” bentak Jaydon yang tidak tahan dengan perkataan Simon yang terus memprovokasi kebencian Leonard pada Luca.
“Bukankah apa yang aku katakan adalah sebuah fakta,” ujar Simon yang menyeringai licik.
“Sialan kau, Pak Tua! Berani sekali kau menggunakan anak ini untuk mencapai tujuanmu,” umpat Felix yang tidak terima jika anak dari mantan bosnya di manfaatkan seperti ini.
“Aku hanya ingin memberitahu kepada cucuku, bahwa kalian ‘lah yang telah menyebabkan cucu kesayanganku itu menjadi anak yang tidak mengetahui siapa ayah! Menjadi anak yang tumbuh tanpa kasih sayang dari sosok ayah,” ujar Simon yang semakin membuat kebencian di hari Leonard semakin besar.
“Bukankah kau hanya ingin mengincar ku, tapi kenapa sekarang kau juga menyerang mereka berdua?”
__ADS_1
Akhirnya Luca angkat bicara setelah cukup lama diam mendengarkan dan mengamati apa yang akan Simon lakukan padanya.
Ternyata dia hanya ingin memprovokasi cucunya sendiri untuk melakukan balas dendam.
Will, Max dan Matt masih tetap diam dalam keadaan siaga karena takut jika tiba-tiba semua orang di sana mencoba untuk menyerang Luca.
“Jadi memang benar kalau kau yang telah membunuh Ayahku?” Leonard mencoba memastikannya langsung pada Luca.
Luca pun hanya terdiam sembari menundukkan kepalanya penuh penyesalan yang sangat mendalam.
Sikap diam Luca pun memberikan jawaban atas pertanyaan Leonard, hingga tanpa sadar dia meneteskan cairan bening dari kedua bola matanya.
Detik berikutnya, Leonard langsung melayangkan beberapa pukulan pada wajah Luca. Melihat Tuan mudanya di erang, Will dan yang lainnya mencoba untuk menolongnya tapi Luca melarang mereka untuk ikut campur.
“Sialan kau! Kenapa kau harus membunuh Ayahku? Kenapa kau harus membuat ibuku menjadi single parent? Dan kenapa kau harus membuatku tumbuh tanpa kasih sayang seorang Ayah! Hiks, …”
Tangis Leonard pecah setelah puas memukuli Luca secara membabi buta. Bagaimana pun juga Leonard tidak mengetahui apapun tentang kejadian yang terjadi di masa lalu, bahkan Luca sendiri saat itu masih sangat kecil.
Luca meraih tubuh Leonard yang bergetar karena menangis terisak ke dalam pelukannya.
“Aku tidak akan pernah memaafkan mu, Sialan!” umpat Leonard yang mendorong tubuh Luca dengan sangat kasar agar tidak memeluknya lagi.
“Aku pasti akan membunuhmu seperti kau membunuh Ayahku!” teriak Leonard pada Luca dengan nada penuh ancaman.
Setelah itu, Leonard pun berjalan pergi meninggalkan mereka semua penuh kesedihan. Yuta pun segera menyusul Leonard, sebab tugas utamanya adalah melindungi anak dari Joana selaku penyelamat hidupnya.
Padahal Leonard sempat berpikir untuk berteman dengan Luca, mengingat dia diam-diam mengagumi kemampuan bela diri Luca. Akan tetapi, kenyataannya sangat menyakiti hatinya. Orang yang dia kagumi adalah orang telah membuat dirinya tidak memiliki ayah.
Sementara, di dalam ruangan VVIP itu terjadi ketegangan antara pihak Simon dan pihak Luca. Terlihat Luca mengalami beberapa luka lebam di wajahnya akibat pukulan yang di lakukan Leonard, dimana Luca tidak membalas pukulan itu sama sekali.
“Apa yang kau inginkan dengan memanfaatkan anak yang tidak mengetahui apapun itu?” tantang Luca pada Simon.
Sejak awal Luca sudah menyadari bahwa Simon ‘lah yang menginginkan kematian dirinya. Karena itulah, dia mencoba untuk menemui pria tua itu untuk memastikannya secara langsung. Simon pun tersenyum puas melihat Luca hanya membiarkan Leonard memukuli wajah Luca.
“Tetaplah bersikap seperti tadi ketika Leo mengarahkan senjata padamu, maka semuanya akan berakhir!” ujar Simon dengan seringai liciknya.
“Beraninya kau, _....”
__ADS_1
“Paman Will, tenanglah!” potong Luca, karena dia sendiri yang akan mengurusnya.
Will sungguh tidak tahan lagi mendengar omong kosong yang di lontarkan oleh orang tua yang ada di hadapannya itu. Bagaimana bisa ada seorang Kakek yang memanfaatkan cucunya sendiri agar bisa membunuh seseorang untuk alasan yang tidak jelas.
“Awalnya aku memang akan bersikap seperti itu, membiarkan cucumu melakukan apapun termasuk membunuhku,” ujar Luca.
“Namun, sekarang aku berubah pikiran!” lanjutnya.
“Aku tidak akan membiarkan anak yang tidak mengetahui apapun memilih jalan yang salah dan terjebak dalam dunia mafia. Apalagi cucumu mengingatkan aku pada ketiga adik kembarku yang mungkin usia mereka hampir sama,” imbuhnya.
“Aku tidak akan tinggal diam lagi, jika kau memulai permusuhan! Lakukan apapun yang bisa kau lakukan untuk membunuhku, maka aku akan membalasnya berkali-kali lipat seperti yang ini,” tantang Luca.
“Bajingan sialan! Bagaimana kau masih bisa bersikap tidak tahu malu setelah menyebabkan putriku menjadi wanita single parent dan cucuku tumbuh besar tanpa kasih sayang dari ayahnya!” seru Simon dengan penuh kemarahan.
“Jangan menyalahkan Luca seperti itu!” ujar Jaydon
“Semua yang terjadi pada Evan adalah pilihannya sendiri,” sambungnya.
^^^Bersambung, ....^^^
...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...
...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari....
...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...
...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...
...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....
...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...
...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...
...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...
...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...
__ADS_1