Ashlyn, Bukan Cinta Pengganti

Ashlyn, Bukan Cinta Pengganti
Kedatangan Joana


__ADS_3

Akhirnya pasukan Rayden tiba juga di lokasi Luca berada. Dan dari kejauhan bisa terlihat bahwa keadaan Luca sudah sangat terdesak dengan di kelilingi musuh bersenjata dari segala penjuru. Rayden tidak bisa bertindak gegabah, jika tidak ingin putra sulungnya dalam bahaya.


“Tuan, lihatlah! Sepertinya kita sangat terlambat kali ini,” ujar Felix yang pertama menyadari situasi Luca sangat buruk karena di kepung para musuh.


“Tidak ada kata terlambat selama putraku masih bernapas,” sahut Rayden sembari memperhatikan sekelilingnya sembari memikirkan rencana terbaik yang terlintas di otak geniusnya.


“Sepertinya aku menemukan strategi perang yang sangat bagus,” ujar Rayden yang membuat Levi dan Felix penasaran.


“Okay, perintahkan saja apa yang harus kami lakukan, Pah!” seru Levi yang tidak perlu penjelasan panjang lebar, karena saat ini mereka tengah di kejar waktu.


“Levi, bawa sebagian besar pasukan kita yang dapat menggunakan senapan jarak jauh dan posisikan mengitari tempat itu. Sedangkan Felix, masuklah diam-diam ke dalam Gedung itu. Kita akan menyergap mereka dari segala penjuru!” Rayden membagi tugas sesuai dengan rencana yang dia pikirkan.


“Siap, Pah!” sahut Levi.


“Siap laksanakan, Tuan!” sahut Felix.


“Sedangkan aku akan berakting sebagai seorang Ayah yang akan kehilangan anaknya,” sambung Rayden.


“Cepatlah bergerak, sebelum kita kehabisan waktu!” seru Rayden.


Levi pun langsung memberikan arahan kepada sebagian pasukan penembak jitu untuk menempati posisi yang bisa mengitari tempat itu dari segala sisi.


Sementara, Felix hanya membawa sekitar sepuluh orang untuk menyelinap masuk ke dalam gedung itu. Sedangkan Rayden harus menunggu sampai Levi dan anak buahnya siap di posisi masing-masing.


Sekarang kita akan membahas tentang Yuta sebentar. Dimana setelah dia memastikan di ruangan bawah tanah tidak ada siapapun, Yuta pun berniat untuk mencari keberadaan Tuannya.


Dan pada saat itu, Yuta melihat dan mendengar bahwa Simon dan Joshua memaksa Tuan mudanya untuk membunuh Luca.


Yuta yang memang tumbuh bersama dengan Leo sejak kecil tahu persis bagaimana sifat dan karakter Tuan mudanya itu. Meski kelakuannya nakal dan suka membuat masalah, pada dasarnya Leo adalah anak yang baik dan polos.


“Tidak! Aku tidak bisa membiarkan Tuan muda mengotori tangannya dengan darah!” Yuta mulai panik saat mendengar Leo harus memilih antara membunuh Ashlyn atau Luca.


“Benar, Nyonya! Hanya Nyonya Joana yang bisa menghentikan perbuatan Tuan besar! Aku harus memberitahu Nyonya tentang ini,” ujar Yuta yang segera menghubungi Joana dan menceritakan segalanya.


Kembali dimana Leo lebih memilih mengambil senjata itu dan berjalan menghampiri Luca yang masih berlutut. Meski di hadapkan dengan kematian, Luca malah tersenyum bangga dengan keputusan yang Leo pilih.


Kini Leo sudah berdiri tepat di depan Luca yang masih berlutut sambil memegang senjata pemberian dari Josh.

__ADS_1


“Tidak apa-apa, Leo!” ucap Luca pasrah akan takdirnya.


“Lakukan saja sesuai apa yang bajingan itu perintahkan, setelah itu pastikan Ashlyn baik-baik saja,” sambungnya dan untuk pertama kalinya Luca menunjukan senyumannya pada Leo.


“Cepat tembakan senjata itu tepat di kepalanya! Atau Rio yang akan menebas leher gadis malangmu ini!” teriak Josh tidak sabar.


“Tidak, Leo! Hiks, … Aku mohon, jangan lakukan itu! Hiks, … Hiks” pinta Ashlyn yang sudah menangis tersedu-sedu tanpa memperdulikan golok panjang yang berada tepat di depan leher mulusnya.


“Jangan dengarkan, Leo! Lakukan saja apa yang bajingan itu perintahkan, aku tidak akan pernah menyalahkanmu,” ujar Luca menyakinkan Leo untuk tetap membunuhnya.


“Tuan muda! Kenapa kau mengatakan itu, apa kau lupa keluargamu juga sedang menunggu kita untuk pulang dengan selamat!” teriak Jack mengingatkan Luca bahwa ada keluarga Xavier yang selalu menginginkan Luca kembali dengan selamat.


“Jack, diamlah! Ini sudah menjadi keputusanku!” bentak Luca.


Sedangkan Matt, Max dan Vinno yang keadaannya sudah sangat lemah hanya bisa pasrah menyaksikan kejadian itu sambil menangis pedih.


Detik itu juga mereka menyadari bahwa perhatian dan kasih sayang Luca sangat tulus, hingga rela mengorbankan nyawanya sendiri untuk kebaikan semua orang.


“Cepat lakukan atau gadis ini yang akan mati!” perintah Josh lagi semakin mendesak Leo.


“Ma-maafkan aku, …” ucap Leo dengan suara dan tangan bergetar, dia mulai mengarahkan senjatanya tepat mengarah ke kepala Luca.


“Yakh, … Bocah tengik!”


Kali ini sebuah suara yang sangat keras berhasil mengalihkan semua orang, bahkan Yuta yang masih bersembunyi di dalam Gedung juga mendengarnya dengan sangat jelas.


Berkat teriakan itu juga Felix dan anak buahnya berhasil menyelinap ke dalam Gedung dengan sempurna.


Siapa lagi kalau bukan sang Raja iblis, Rayden Cano Xavier yang telah mengerahkan semua pasukan penghuni nerakanya untuk mencabut nyawa para musuh yang berani membangunkan kemarahannya.


“Bocah tengik sialan! Berani sekali kau memutuskan kematianmu tanpa membicarakannya dulu dengan Papah dan Mamahmu!” seru Rayden lagi.


“Kau pikir untuk apa Mamahmu melahirkan dirimu ke dunia ini. Memberimu makan, minum dan segala yang kau butuhkan hingga kau tumbuh besar seperti sekarang, Hah! Haish, … Sialan membuatku semakin marah saja,” umpat Rayden.


“Aish, … Leo cepat tembak!” teriak Josh menyadarkan Leo untuk melanjutkan tugasnya membunuh Luca.


“Tidak, Leo! Hentikan!” teriak seorang wanita yang tengah berlari menghampiri Leo dengan deraian air matanya.

__ADS_1


“Mamah, …” ujar Leo yang akhirnya meneteskan air matanya, ketika melihat Mamah tercinta menangis karena dirinya.


“Buang senjata itu, Sayang! Dan kemarilah, Mamah akan melindungi!” ujar Joana yang langsung di turuti Leo tanpa memperdulikan apapun lagi dan langsung menghamburkan tubuhnya ke dalam pelukan hangat Joana.


“Tidak apa-apa, Sayang!” bisik Joana menenangkan putra semata wayang itu, tetapi pandangan matanya menatap tajam ke arah Simon.


“Kenapa Papah mengabaikan peringatan Joana? Apakah Papah juga ingin kehilangan aku dan Leo?” cecar Joana seolah menghakimi Simon dengan cara menatap dan bicaranya.


“Joana, kau kehilangan, _....”


“AKU TIDAK KEHILANGAN APAPUN, PAH! DAN SELALU MENGATAKAN ITU PADA PAPAH!” teriak Joana meluapkan segala amarahnya yang sudah memuncak melihat kelakuan keji Papahnya sendiri.


“Aku malah mendapatkan hal yang paling membahagiakan seumur hidupku yaitu kehadiran Leo sebagai putraku” sambung Joana dengan berderai air mata dan mulai merendahkan nada bicaranya.


“Joana, …”


“Aku sudah cukup bahagai selama ini bersama putraku! Bersama dengan Papah, tapi kenapa Papah ingin menghancurkan kebahagian yang kita miliki hanya karena dendam masa lalu,” potong Joana yang tidak ingin mendengar alasan apapun lagi dari Simon.


“Sekarang Papah putuskan saja di sini dan saat ini juga! Papah ingin tetap melanjutkan balas dendam Papah yang tidak berguna itu, atau kembali bersamaku dan cucu Papah yaitu Leo!” Joana membalikkan keadaan.


^^^Bersambung, ....^^^


...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...


...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari....


...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...


...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...


...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....


...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...


...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...


...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...

__ADS_1


...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...


__ADS_2