
“Siapa yang sebenarnya memimpin WL Group dan klan Death Lion?”
Luca membisikan pertanyaan itu pada Leonard agar Ashlyn tidak bisa mendengarnya.
“Semuanya milikku!” jawab Leonard dengan kesal.
“Benar, semuanya memang milikmu! Namun, siapa yang mengoperasikan keduanya secara aktif? Ibumu, Joana Gustavo? Atau Kakekmu, Simon Gustavo?” bisik Luca lagi yang membuat Leonard segera membulatkan kedua bola matanya ketika Luca menyadari semuanya.
“Setelah kau menjawabnya, aku akan segera melepaskan mu,” lanjut Luca yang terdengar seperti sebuah bujukan kepada anak kecil.
“Kakekku yang mengatur semuanya,” jawab Leonard yang ingin segera di bebaskan oleh Luca, karena tangannya sudah semakin terasa sakit.
“Aku sudah menjawabnya, cepat lepaskan aku!” ujar Leonard yang menuntut janji Luca untuk melepaskan.
“Sat pertanyaan lagi!” seru Luca.
“Yakh, … Kau sudah berjanji akan melepaskan aku setelah aku menjawabnya!” protes Leonard yang berusaha melepaskan dirinya dari Luca.
“Pertanyaan ini hanya untuk memastikan saja! Berapa usiamu sekarang?” tanya Luca.
“Aaakh, … Aku tidak mau menjawabnya! Cepat lepaskan!” Leonard meraung mencoba melepaskan diri.
“Jawab dulu!” desak Luca.
Namun, ketika Leonard mau menjawabnya. Tiba-tiba Luca di serang dari belakang oleh seseorang. Untuk menghindari serangan itu, Luca pun terpaksa melepaskan Leonard begitu saja. Ternyata pria itu adalah pengawal terbaik Leonard yang bernama Yuta.
“Darimana saja kau!” teriak Leonard yang menatap kesal pada Yuta karena datang sangat terlambat.
“Maaf, … Apakah anda terluka, Tuan muda?” tanya Yuta memeriksa keadaan Leonard.
“Tanganku sangat sakit! Cepat beri dia pelajaran,” perintah Leonard yang ingin melihat Luca di pukul setidaknya beberapa kali oleh pengawal terbaiknya itu.
“Baik, Tuan muda!” sahut Yuta yang langsung saja menyerang Luca lagi.
Tidak seperti pengawal yang lainnya, Luca menyadari bahwa kemampuan bela diri Yuta sangat tinggi. Dan bahkan hampir sepadan dengan kemampuan bela diri Lucia, yang sedikit lebih tinggi dari kemampuan Luca.
Alhasil, Luca beberapa kali di buat kewalahan saat menghadapinya. Dan beberapa kali juga dia mendapat pukulan dari Yuta, karena gagal menghindari atau membaca serangannya.
Begitu juga sebaliknya, Luca juga berhasil mendaratkan beberapa pukulannya pada Yuta. Pertarungan itu cukup sepadan satu sama lain, hingga memerlukan waktu yang cukup lama untuk melihat pemenangnya.
__ADS_1
“Yuta, hentikan! Sepertinya dia sudah cukup mendapat pelajarannya,” perintah Leonard yang mengakhiri pertarungan yang tidak ada habisnya itu.
“Baik, Tuan muda!” sahut Yuta yang segera mundur.
Melihat Luca yang mendapat beberapa luka akibat pertarungan sengit itu, Ashlyn pun segera menghampiri untuk melihat keadaan Luca. Namun, siapa sangka kemunculan Ashlyn kembali memunculkan niat jahat paa Leonard.
“Hay, kau! Segera lunasi semua hutangmu padaku atau aku akan menjual sebagai pelacur sebagai pelunasan hutangnya!” seru Leonard menunjuk pada Ashlyn.
“Sialan sekali mulutmu itu,” umpat Luca yang tidak suka cara bicara Leonard.
“Jangan ‘sok jadi pahlawan, bahkan kau tidak bisa membantu melunasi semua hutang kekasihmu itu,” ejek Leonard yang mengira bahwa Luca juga berasal dari orang miskin.
“Sebutkan saja nominalnya, aku yang akan membayar semua termasuk bunganya!” tantang Luca dengan santainya.
“Tidak, Luca! Kau tidak akan mampu membayar semuanya,” ujar Ashlyn yang masih mengira bahwa posisi Luca seperti dirinya yang tidak akan pernah memiliki uang sebanyak itu.
“Kau tenang saja! Aku akan mengurus semuanya,” terang Luca menenangkan Ashlyn.
“Benarkah? Kita lihat apakah kau bisa mendapatkan uang sebanyak ini dalam waktu satu malam,” ujar Leonard dengan angkuhnya.
“Kau berikan nota hutang itu padanya,” perintah Leonard pada salah satu anak buahnya.
“Sial, ternyata hanya segini saja bahkan tidak sampai ratusan juta. Tapi dia sudah begitu angkuh, sama seperti karakter Paman Evan!” batin Luca ketika melihat total hutang yang tertera dalam Nota yang dia terima.
“Baiklah, kau akan mendapatkan uangnya malam ini juga! Aku sendiri yang akan mengantarnya di rumahmu,” ujar Luca dengan santainya.
“Tidak! Kita bertemu di club saja!” tolak Leonard yang menggagalkan rencana Luca untuk menemui Joana dan Simon di rumah itu.
“Ayo, kita pergi!” perintah Leonard pada Yuta dan anak buahnya.
“Sial, padahal tai kesempatan emas agar aku bisa menemui Joana maupun Simon,” umpat Luca dalam hatinya sambil memperhatikan kepergian Leonard yang menaiki mobil mewah.
Luca bahkan tidak menyadari bahwa Ashlyn yang sedang memperhatikannya sambil menangis. Gadis itu mengira bahwa dirinya yang menyebabkan Luca terluka dan harus menanggung semua hutang yang dia perbuat.
“Ma-maafkan aku, Luca! Hiks, …” ucap Ashlyn di sela isak tangisnya.
“Kenapa kau menangis? Aku baik-baik saja,” ujar Luca yang segera menatap lekat pada Ashlyn.
“Kau terluka karena menolongku, bahkan kau juga harus mendapatkan uang untuk melunasi hutang-hutangku,” papar Ashlyn yang semakin merasa bersalah kepada Luca.
__ADS_1
“Tidak masalah! Aku akan mengurus dan menyelesaikan semuanya,” ujar Luca seraya menghapus sisa air mata di pipi Ashlyn.
“Lebih baik kita bereskan semua kekacauan ini, sebelum pemiliknya datang!” lanjut Luca yang mengalihkan topik pembicaraan mereka.
“Kita obati dulu luka yang ada di wajahmu,” ujar Ashlyn yang tidak tega melihat wajah tampan luka yang kini terdapat beberapa luka lebam.
“Baiklah, asalkan kau berhenti menangis maka aku mau di obati olehmu,” sahut Luca seraya tersenyum manis pada Ashlyn.
Tidak seperti biasanya, kali ini jantung Ashlyn berdebar sangat kencang ketika melihat senyuman Luca. Pipinya terasa memanas dan dirinya menjadi salah tingkah ketika mata mereka saling bertemu.
Luca memang sangat tampan, tapi saat ini di mata Ashlyn sosok Luca semakin mempesona lebih dari biasanya.
“Apa yang terjadi dengan jantungku? Kenapa jantungku berdebar lebih kencang dari biasanya ketika menatap wajah Luca,” batin Ashlyn yang saat ini sedang memberikan obat pada dahi Luca yang sedikit tergores.
Ketika Ashlyn beralih mengobati sudut bibir Luca, tiba-tiba tangannya berhenti dan tatapannya focus melihat bibir seksi Luca yang terlihat seperti buah cherry di mata Ashlyn. Tanpa Ashlyn sadari, dia tiba-tiba mengecup bibir itu penuh kelembutan.
Sontak saja, Luca sangat terkejut. Seketika kedua bola matanya membulat sempurna, bahkan Luca sampai tahan napas saat Ashlyn menempelkan menyatukan bibir mereka.
Dan yang lebih mengejutkan bagi Luca, Ashlyn bahkan hampir ******* bibirnya kalau saja Luca tidak segera menarik tubuhnya dan menyudahi ciuman mereka.
Seketika itu juga, Ashlyn mulai tersadar dengan apa yang saja dia lakukan pada Luca. Keduanya sama-sama mematung dan saling menatap satu sama lain. Keduanya sama-sama tidak bisa mempercayai apa yang baru saja terjadi di antara mereka.
^^^Bersambung, ....^^^
...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...
...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari....
...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...
...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...
...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....
...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...
...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...
...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...
__ADS_1
...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...