
Melihat segerombolan preman yang menghampiri Tuannya, Matt dan Max yang sedari tadi hanya diam mengawasi sambil berghibah ria tentu saja sangat terkejut.
Mereka pun segera memberikan isyarat kepada para anak buahnya yang sedang bersembunyi di sana untuk dalam keadaan siap siaga melindungi Luca di butuhkan.
“Wah, … Siapa para cecunguk yang berani mengganggu Tuan-ku!” gumam Matt sembari mendengus kesal.
“Iya, berani mereka melukai Tuan Luca, maka belati kesayanganku ini akan menetap selamanya di jantungnya!”
Tak kalah horornya, Max bahkan sudah menyiapkan senjata mematikannya dan setiap saat siap untuk melesatkan belati tersebut pada bagian tubuh yang dia inginkan. Matt yang tak mau kalah keren juga segera mengeluarkan senjata api kesayangannya.
“Benar, berani melukai Tuan Luca, maka akan aku ledakan kepala mereka satu persatu tanpa tersisa satu pun,” imbuh Matt seraya mengecup senjata apinya penuh sayang.
“Hay, … Setidaknya sisakan beberapa untuk belatiku ini,” sergah Max yang menatap kesal pada Matt.
“Hehehee, … Sebaiknya kita perhatikan saja dari sini! karena sudah pasti Tuan Luca akan menyelesaikan sendiri dengan mudah. Jika kita muncul sekarang, maka identitas Tuan Luca akan di ketahui semua orang.”
Tidak seperti biasanya, kali ini otak Matt sedikit berguna dengan mempertimbangkan perasaan dan kemapuan Luca.
Sehingga kini mereka masih bersembunyi sambil memperhatikan apa yang akan terjadi selanjutnya dan dengan kesiapan penuh menyerang kapan saja.
Okay, sekarang kita beralih lagi pada Luca yang secara langsung menantang para preman itu untuk adu kemampuan. Tidak ingin Ashlyn terluka ketika dia sedang focus bertarung, Luca pun menyuruh gadis itu berlindung di tempat yang aman.
“Sialan, berani sekali cecunguk sepertimu menantangku!” umpat preman itu penuh kemarahan.
“Hey, … Majulah! Majulah kalian sekaligus!”
Luca semakin menantang, smirknya yang, …Yaa Tuhan! Tolong, author yang nulis dan membayangkan cerita ini jadi sport jantung melihat betapa tampannya Luca dengan smirk evilnya. Tatapan matanya terlihat jelas bahwa dia sedang meremehkan beberapa preman yang ada di hadapannya saat itu.
Ilustrasi, .....
“Bajingan sialan!”
Preman itu langsung melayangkan bogem mentah tepat menargetkan ke arah wajah Luca dengan penuh kemarahan.
Namun sayangnya, Luca yang sudah sangat berpengalaman dengan semua adegan kekerasan dan membunuh tentu saja bisa dengan mudah menghindarinya.
Bahkan dengan mudahnya, Luca berhasil melumpuhkan preman tersebut hanya dengan menggunakan satu kakinya.
Ketika Luca menghindari pukulan itu, kaki kirinya menendang tubuh sang preman hingga tersungkur mencium lantai yang ada di sana.
__ADS_1
“Dasar bajingan sialan!” umpat preman yang sedang mencium dinginnya lantai.
“Sampah, sekali membuka mulut langsung menyebabkan polusi udara!” cibir Luca dengan nada dan tatapan dinginnya.
“Yakk, … Kenapa kalian semua diam saja! Cepat hajar dia!” perintah preman itu pada teman-temannya.
Tanpa menunggu perintah yang kedua kalinya, gerombolan preman itu pun langsung menyerang Luca bersamaan.
Melihat hal itu, Matt dan Max sudah bersiap siaga untuk turun membantu. Namun, kenyataannya Luca bisa dengan mudah membereskan para preman itu.
Kalah jumlah bukanlah hal yang menakutkan untuk Luca, tapi kalah kemampuan yang lebih Luca takutkan.
Apalagi mengalah sebelum bertarung, maaf itu bukan gaya Luca sama sekali. Hingga membuat mereka langsung melarikan diri pontang-panting hanya dengan melihat tatapan dingin Luca.
Luca memang membiarkan mereka pergi begitu saja, tetapi dia tidak sebodoh itu untuk melepaskan dengan mudah orang-orang yang telah mencari masalah dengannya.
Sejak awal Luca menyadari keberadaan Matt dan Max serta beberapa anak buahnya di sana. Luca pun secara diam-diam memberikan isyarat untuk Matt dan Max untuk membereskan sisanya.
Semua orang pun terperangah dengan kemampuan bela diri Luca yang bisa mengalahkan beberapa preman sekaligus hanya seorang diri.
Semua orang pun segera menghampiri Luca sembari memuji dan menyanjungnya. Ashlyn juga ikut menghampiri Luca, tapi dia tidak berani mendekat kepada Luca dan temannya.
“Iya, ini pertama kalinya aku melihat orang yang berhasil mengalahkan preman-preman itu sekaligus! Bahkan kau melawannya seorang diri!”
“Waah, … Siapa sangka karyawanku ini memiliki banyak kemampuan.”
Luca mengabaikan semua kata sanjungan dan pujian itu untuknya, netranya hanya terfokus pada sosok Ashlyn yang saat ini tengah menundukkan kepalanya dengan sedih. Tidak ada satu pun yang mempertanyakan keadaan gadis itu.
Lagi dan lagi, kesendirian Ashlyn di tengah banyaknya orang kembali mengingatkan Luca pada mendiang Axlyn.
Hatinya seketika terasa sesak ketika melihat air mata Ashlyn kembali berjatuhan. Tanpa memperdulikan yang lainnya, Luca pun menarik Ashlyn pergi dari sana.
“Ayo, kita pergi!” ajak Luca sembari meraih dan menggenggam tangan Ashlyn untuk mengikutinya.
Luca terus berjalan sembari menggenggam erat tangan Ashlyn, menyusuri gelapnya malam yang hanya di terangi oleh lampu jalan yang ada di sana.
Keduanya sama-sama diam tanpa ingin ada yang ingin memulai pembicaraan lebih dulu. Hingga mereka berhenti di salah satu bangku taman dan di saat itu juga Luca melepaskan genggaman pada tangan Ashlyn.
“Maaf, aku tidak bermaksud, _....”
“Tidak apa-apa! Terima kasih sudah mau membantuku,” ucap Ashlyn yang terlihat memaksakan diri untuk tetap tersenyum.
__ADS_1
“Emm, …” Luca hanya menanggapinya dengan dehaman saja.
Lalu keduanya kembali diam, hanya keheningan malam yang terasa di antara keduanya. Sesekali Luca menatap wajah Ashlyn yang masih menunduk penuh kesedihan.
Sebenarnya dia tidak ingin terlalu ikut campur dengan kehidupan dari adik cinta pertamanya itu. Akan tetapi, rasa penasarannya lebih mendominasi tentang apa yang terjadi pada keluarga Axlyn itu.
Sehingga Luca memberanikan diri untuk bertanya, “Bolehkah aku menanyakan sesuatu padamu?”
“Apakah tentang para preman tadi?”
Ashlyn menebaknya dengan tepat, sehingga Luca hanya menganggukkan kepalanya saja pertanda bahwa itu yang memang ingin dia tanyakan.
“Mereka adalah anak buah rentenir dimana aku meminjam uang beberapa bulan yang lalu! Aaah, … Seharusnya aku tidak meminjam uang kepada orang-orang brengsek itu!”
Ashlyn merutuki dan menyesali keputusannya di masa lalu. Namun, apalah daya nasi sudah terlanjur menjadi bubur. Semuanya kini sudah terjadi, bukannya lunas dengan semua uang yang dia bayarkan malah bunganya terus menumpuk tanpa perlu Ashlyn menanyakan kebenarannya.
“Memang untuk apa kau meminjam uang itu?” tanya Luca yang semakin merasa penasaran, hingga dia tanpa sadar kembali menggali lebih dalam perkataan Ashlyn.
“Maaf, kalau aku terlalu ikut campur! Jika kau tidak berkenan menjawabnya, aku tidak masalah!” imbuh Luca yang segera mengucapkan permintaan maaf begitu menyadari kesalahannya.
“Mungkin karena kau orang baru di sini, makanya kau tidak mengetahui apapun mengenai gossip yang beredar tentang keluargaku! Apakah kau masih penasaran gossip seperti apa itu?” tanya Ashlyn menatap lekat pada Luca.
^^^Bersambung, ....^^^
...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...
...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari....
...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...
...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...
...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....
...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...
...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...
...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...
...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...
__ADS_1