
Sontak, bukan hanya Ashlyn saja yang terkejut dengan sikap Luca. Vinno dan Hanna pun juga merasa terkejut dengan kehadiran Luca dan Ashlyn seolah keduanya datang bersama, apalagi mengingat hubungan keduanya sedang tidak baik-baik saja.
Belum lagi perubahan sikap Luca yang dulu mereka kenal terkesan dingin dan pendiam, saat ini seakan mereka berhadapan dengan sosok yang sangat berbeda. Bisa di katakan Luca tidak sedingin dulu lagi dan bahkan terasa lebih hangat serta ceria.
Berkat ulah tidak tahu malu Luca, Ashlyn pun akhirnya terpaksa masuk ke dalam ruang rawat ibunya meski hatinya belum siap. Luca diam-diam tersenyum melihat Ashlyn yang tidak bisa melarikan diri lagi selain menghadapi ibunya.
“Bu, Lihatlah! Aku membawakan kalian beberapa menu makanan untuk sarapan! Aku tidak tahu makanan yang seperti apa yang Ibu sukai. Jadi, aku memutuskan membeli semua menu makanan yang ada di restaurant itu,” jelas Luca seraya mengeluarkan makanan dari kantung plastiknya.
“Percuma kau membeli semua makanan ini, karena Ibu tidak bisa memakannya kecuali makanan yang sudah di sarankan oleh dokter!” tukas Ashlyn, meski dia sedang dalam keadaan marah tapi kondisi kesehatan ibunya tetap yang dia utamakan.
“Benar, Nak Luca! Ibu tidak bisa makan sembarang, karena penyakit Ibu yang sudah cukup parah.”
Bu Hanna pun akhirnya tersenyum melihat putrinya masih begitu memperdulikannya, walau keadaan marah sekalipun. Bu Hanna menatap Ashlyn dengan penuh kasih sayang, tetapi putrinya itu malah dengan sengaja mengalihkan pandangan matanya ke arah lain.
“Aah, … Maafkan aku! Seharusnya aku menanyakannya kepada dokter terlebih dahulu,” ucap Luca penuh penyesalan. Lagi-lagi otak geniusnya tidak bisa dia gunakan di saat seperti ini.
“Tidak apa-apa! Makanan itu bisa kalian makan untuk sarapan,” ujar Bu Hanna yang menghargai niat baik Luca.
“Benar! Ashlyn dan Emm, …. Paman Vinno! Ayo, kita sarapan bersama,” ajak Luca yang sebenarnya tidak tahu menggunakan sebutan apa untuk memanggil ayah kandung dari Ashlyn itu.
“Kau memanggil istriku dengan sebutan Ibu, tapi kau memanggilku sebagai Paman! Sungguh sangat mengagumkan,” sindir Vinno, walau demikian dia tetap duduk untuk menikmati menu sarapan yang Luca bawa.
Berbeda dengan Ashlyn yang tidak bergeming sama sekali dari tempatnya berdiri. Gadis itu malah bersikap tidak mendengar apa yang Luca katakan kepadanya. Hingga akhirnya Luca yang harus kembali mengalah dan menghampiri Ashlyn sambil membawa sekotak makanan.
“Makanlah ini! Jangan sampai jatuh sakit dan, _....”
Prangg, ….
Siapa sangka Ashlyn akan menepis uluran tangan Luca, hingga membuat makanan yang berada di tangannya jatuh berantakan di lantai. Luca hanya terdiam akan sikap kasar yang di tunjukan Ashlyn dan dia bisa mengerti mengapa sikapnya menjadi seperti itu.
Berbeda dengan Vinno dan Hanna yang terkejut atas kelakuan putri mereka. Namun, ketika Hanna hendak memarahi Ashlyn, Vinno segera mencegahnya dan menyuruh istrinya untuk tidak terlalu ikut campur dengan permasalahan di antara Luca dan Ashlyn.
__ADS_1
“Jangan bersikap seolah kau peduli padaku! Sikapmu yang seperti ini sungguh menjijikan,” tukas Ashlyn yang langsung berbalik pergi setelah mengatakan itu.
Sedangkan Luca hanya bisa terdiam tanpa sepatah kata pun sambil menatap kepergian Ashlyn.
“Nak Luca, kau tak apa?” Pertanyaan Hanna menyadarkan Luca kembali dari lamunannya.
“Emmm, … Bukan hal besar, Bu!” jawab Luca seraya menunjukan senyuman tipisnya.
“Maaf, Bu! Sepertinya aku harus pergi sekarang! Nanti aku akan menjenguk Ibu lagi dengan membawa buah,” pamit Luca yang ingin segera menyusul dan mengikuti Ashlyn.
“Baiklah, datanglah kapan pun, Nak!” sahut Bu Hanna yang tak ingin menahan Luca.
Luca pun segera pergi mengikuti Ashlyn secara diam-diam. Sesuai dengan dugaannya semalam, Ashlyn masih bekerja paruh waktu di tempat sebelumnya yaitu di sebuah mini market yang berada di dekat area sekolah Alicia.
Untuk beberapa saat Luca hanya memperhatikan setiap gerak gerik Ashlyn yang tengah menata beberapa barang yang sudah kosong pada raknya. Alhasil, Luca pada akhirnya merasa bosan dan juga sangat lapar, kerena dia melewatkan sarapannya.
Kruuk, … Krukk, ….
“Aish, … Sial, mengapa rasa lapar mendera di saat seperti ini!” umpat Luca pada perutnya yang tidak bisa di ajak kerjasama.
“Raut wajahnya kini penuh dengan kesedihan dan semua itu karena diriku,” gumam Luca kembali menyalahkan diri sendiri.
“Aku ingin menemuinya,” sambungnya.
“Tunggu! Bukankah bunyi perutku ini bisa di manfaatkan untuk bertemu dengannya secara kebetulan. Maksudnya kebetulan yang di rencana!” seru Luca ketika sebuah ide berlian terlintas di otak geniusnya.
Luca kembali masuk ke dalam mobilnya. Lalu menyalakan mesin mobilnya dan melaju untuk di parkirkan tepat di depan mini market itu. Kemudian, Luca bersikap seolah baru saja datang ke mini market itu dan mulai berjalan masuk ke dalamnya.
“Selamat datang! Ada yang bisa saya ban, _....” Sapaan ramah Ashlyn harus terhenti ketika melihat siapa yang datang sebagai pelanggannya.
“Hay, … Kita kebetulan bertemu lagi ‘yah!” sapa Luca balik, tapi hanya di balas dengan tatapan dingin Ashlyn sekilas. Sedangkan sisanya, keberadaan Luca di sana benar-benar di abaikan sepenuhnya.
__ADS_1
“Apa kau akan mengabaikan pelanggan seperti ini?” ujar Luca yang membuat Ashlyn semakin kesal.
“Jangan mengikuti ku! Sungguh ini sangat memuakkan, apakah kau belum cukup melukai hatiku sampai seperti ini, Hah!” bentak Ashlyn dengan berlinang air mata yang berusaha dia tahan agar tidak jatuh.
“Tidak bisakah kita bicara secara baik-baik?” pinta Luca dengan raut wajah yang sangat memohon.
“Berikan aku menjelaskan semuanya! Karena semua yang pikirkan selama ini hanya salah paham belaka. Ashlyn, … Apakah kau tidak pernah merasakan ketulusan hatiku selama kita melewati waktu bersama-sama, Hemm?” sambung Luca lirih.
“Hahahaa, … Memangnya apalagi yang harus dengarkan darimu? Apakah semua yang terjadi belum cukup jelas untukku?” seru Ashlyn dengan penuh kemarahan, bahkan dia sampai tertawa dan menangis dengan keadaan hatinya saat itu.
“Belum cukupkah aku mendengar tentang semua yang menyakiti hatiku! Luca, jika kau memang menyesal dan merasa bersalah kepadaku! Setidaknya kau sedikit tahu diri untuk tidak muncul di hadapanku lagi seperti ini,” lanjut Ashlyn di sela isak tangisnya.
“Kali ini biarkan aku yang memohon padamu! Pergilah dari hidupku, untuk sekarang dan selamanya aku tidak ingin melihatmu lagi!”
Ashlyn bahkan bersujud di hadapan Luca sambil menautkan kedua tangannya seolah dia sedang memohon kepada Tuhan. Sontak, Luca hanya terdiam menahan kemarahan di hatinya dan akhirnya dia lebih memilih untuk pergi.
^^^Bersambung, ....^^^
...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...
...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari....
...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...
...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...
...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....
...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...
...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...
__ADS_1
...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...
...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...