
“Haish, … Padahal Mamah dan Grandma tidak pernah sekalipun ikut campur dengan masalah klan. Pasti karena perkataanku semalam, makanya mereka berdua ikut turun tangan,"
"Jangan sampai kalau Lucia juga mengetahui. Bisa lebih rumit lagi nanti masalahnya,” gumam Luca yang bisa terdengar dengan jelas oleh Max yang masih terhubung melalui telepon.
“Tuan muda, apa yang akan kita lakukan sekarang?” tanya Max.
“Apalagi memangnya! Kalau itu perintah dari Mamah dan Grandma, Papah saja tidak akan berani melawan apalagi aku,” ketus Luca yang melampiaskan kekesalannya pada Max.
“Cepat atur pertemuannya! Kita harus segera selesaikan semua masalah di sini, sebelum Mamahku sendiri yang datang menjemput aku,” perintah Luca pada Max.
“Baik, Tuan muda! Saya akan berusaha untuk mengatur pertemuan anda dengan mereka secepat mungkin,” sahut Max.
“Tunggu, berikan aku informasi tentang semua keluarga Gustavo,” perintah Luca yang memiliki rencana cadangan untuk menemui keluarga Gustavo termasuk Leonard.
“Baik, Tuan muda! Saya akan segera mengirimkannya sekarang juga!” sahut Max yang segera mengirimkan informasi yang Luca minta melalui email.
“Bagus! Lanjutkan pekerjaanmu,” ujar Luca yang langsung memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak.
Kemudian, Luca segera memeriksa informasi yang di kirimkan Max dengan hati-hati. Berbeda dengan Max yang masih mematung menatap layar ponselnya. Padahal dia belum selesai mengatakan tujuan dia menghubungi Luca.
“Padahal aku belum menanyakan soal menjemput Will dan yang lainnya di bandara atau tidak! Tapi Tuan muda malah langsung mematikan teleponnya begitu saja,” gumam Max masih menatap layar ponselnya.
“Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang? Haruskah aku menjemput mereka atau membiarkannya?”
Max bingung sendiri apa yang harus dia lakukan dengan kedatangan Will dan yang lainnya.
“Sudahlah, kalau mereka menghubungi dan meminta untuk menjemput maka aku tinggal melakukannya saja,” lanjut Max yang akhirnya masa bodoh dengan masalah itu.
Beralih pada Luca yang masih sibuk dengan ponselnya untuk memeriksa semua latar belakang dari anggota keluarga Gustavo.
Sampai dia melupakan bahwa saat itu dirinya masih dalam waktu kerja di mini market. Hingga terdengar suara keributan yang berasal dari mini market yang membuat Luca tersadar bahwa dia meninggalkan Ashlyn sendirian di sana.
Brakk, ….
“Suara apa itu? Tunggu, suara itu bersalah dari mini market! Jangan-jangan terjadi sesuatu pada Ashlyn,” gumam Luca yang segera berlari untuk memastikan asal suara itu.
Benar saja, begitu hampir tiba di mini market Luca melihat keberadaan Leonard dan anak buahnya di sana yang sedang menghancurkan semua barang-barang yang ada di mini market. Luca pun menghela napas berat saat menyadari bahwa kali ini tidak akan berakhir dengan aman.
__ADS_1
“Yakh, … Dimana kekasihmu yang brengsek itu, Hah?” bentak Leonard pada Ashlyn yang kini dalam posisi terduduk di lantai sambil menangis dengan barang-barang yang sudah berserakan.
“Aish, … Sialan! Kau dan bajingan itu sama saja!” umpat anak buah Leonard yang melayangkan sebuah pukulan kepada Ashlyn.
“Apa yang kalian lakukan di sini?”
Namun, Luca datang tepat waktu dan berhasil menghentikan aksi pria berbadan kekar itu. Luca menahan tangan kekar pria itu hanya dengan satu tangannya yang kemudian dia dorong. Hingga membuat pria berbadan kekar itu mundur beberapa langkah.
“Menyingkir ‘lah dari tempat ini!” usir Luca pada Leonard dan anak buahnya.
“Ashlyn, kau baik-baik saja?” tanya Luca sembari membantu Ashlyn berdiri.
“A-aku baik-baik saja,” jawab Ashlyn lirih.
“Yakh, … Kau bajingan sialan! Berani sekali kau semalam memukuliku, Hah?” teriak Leonard sembari menunjuk pada Luca
“Seingat Ku, … Aku semalam tidak memukulmu sama sekali! Yang aku pukuli hanya anak buahnya, sedang yang aku lakukan padamu hanya mendorongmu saja agar menyingkir dari tubuhnya,” jelas Luca sesuai apa yang terjadi semalam.
“Itu sama saja! Dengan tanganmu menyentuhku, maka kau sudah memukulku!” seru Leonard yang terlihat seperti anak kecil di mata Luca.
“Jika aku tidak menyentuhmu, lalu bagaimana caranya agar aku menyingkirkan tubuhmu dari Ashlyn. Kau pikir aku pesulap yang hanya menjentikkan jari saja sudah bisa menyingkirkan tubuhmu dari Ashlyn,” ujar Luca dengan santai.
Pertarungan pun tidak bisa Luca hindari lagi. Dia harus kembali berhadapan dengan anak buah yang jumlahnya cukup banyak dan menyerangnya secara bersamaan.
Namun, kemampuan bela diri anak buah Leonard ternyata bukan masalah besar untuk Luca. Dan hanya membutuhkan waktu beberapa menit, Luca telah bisa membereskan semuanya.
Melihat semua anak buah yang dia bawa kalah telak oleh satu orang. Leonard yang merasa terpojok, akhirnya menggunakan Ashlyn sebagai sanderanya. Dia mengeluarkan belati pemberian Kakeknya dan mengarahkannya pada leher Ashlyn.
“Yakh, … Berani kau mendekat padaku, maka aku tidak akan segan lagi untuk membunuhnya kekasihmu ini,” ancam Leonard.
Namun, ancaman yang di lontarkan Leonard tidak membuat Luca takut sedikitpun. Dengan ekspresi wajah dinginnya, Luca terus berjalan mendekati Leonard hingga membuatnya terus mundur beberapa langkah.
“Lakukanlah! Aku juga ingin tahu pisau mainanmu itu bisa membunuh ‘Kekasihku’ atau tidak?”
Bukannya takut, Luca malah semakin menantang Leonard. Melihat kelakuan Leonard mengingatkan Luca pada kelakuan ketiga adik kembarnya saat pertama kali terlibat dengan klan mafia mereka.
Akan tetapi, Luca tidak menyadari bahwa kata ‘Kekasih’ yang dia ucapkan benar-benar membuat Ashlyn jatuh hati padanya.
__ADS_1
“Hah? Tidak mungkin, ini belati asli pemberian Kakekku!” seru Leonard yang segera memeriksa belatinya.
Disaat itu juga, Luca menarik tubuh Ashlyn dari Leonard hingga berakhir di pelukannya. Kemudian, dengan gerakan yang sangat cepat Luca langsung menjatuhkan belati yang ada di tangan Leonard.
Lalu,Luca memutar tangan kanan Leonard ke belakang dan menguncinya. Sehingga Leo tidak bisa bergerak dengan bebas lagi.
“Haish, … Kenapa kau selalu membuat masalah! Kelakuanmu ini mengingatkanku pada ketiga adik kembarku,” ujar Luca yang masih mengunci tangan Leonard dalam keadaan Ashlyn berada di pelukannya.
“Aah, … Sakit! Cepat lepaskan tanganku!” teriak Leonard yang meminta untuk di lepaskan.
Teriakan Leonard pun menyadarkan Ashlyn yang sejak tadi terus menatap wajah tampan Luca. Dia segera menjauhkan tubuhnya dari pelukan Luca, lalu berusaha menetralkan detak jantungnya yang berdebar sangat kencang ketika melihat Luca.
“Baiklah, asal kau bisa menjawab beberapa pertanyaanku! Maka aku akan melepaskanmu,” ujar Luca yang memberikan penawaran pada Leonard.
“Okay, … Baiklah, aku akan menjawabnya! Jadi, lepaskan tanganku dulu!” sahut Leonard yang masih memohon untuk di lepaskan.
“Tidak, jawab dulu semua pertanyaanku! Baru aku lepaskan,” ujar Luca yang tidak semudah itu di bodohi.
“Baiklah, cepat apa yang ingin kau tanyakan!” seru Leonard yang terpaksa harus menurut.
^^^Bersambung, ....^^^
...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...
...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari....
...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...
...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...
...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....
...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...
...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...
...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...
__ADS_1
...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...