Ashlyn, Bukan Cinta Pengganti

Ashlyn, Bukan Cinta Pengganti
Takdir Tak Terduga


__ADS_3

“Sudah jangan membicarakan tentang itu lagi, Will! Biarkan Luca yang menyelesaikan sendiri dengan Ashlyn,” ujar Noland mengingatkan.


“Benar, sebaiknya kalian segera pergi dan lakukan tugas masing-masing sekarang!” ujar Rayden yang terkesan mendukung apapun yang menjadi keputusan putra sulungnya itu.


“Baik, Tuan! Kami mohon pamit undur diri sekarang!” pamit Will mewakili yang lainnya.


Kemudian, mereka pun langsung beranjak dari tempat duduk dan berlalu pergi setelah membungkuk memberi hormat.


Kini hanya tersisa Noland, Rayden dan Luca saja yang masuk berada di dalam ruang rahasia itu. Sesaat mereka memang masih saling diam, hingga Noland mulai membuka suara dengan memberikan beberapa nasehat kepada Luca.


“Minta maaflah ketika kau dan dia sudah siap untuk saling berhadapan satu sama lain lagi,” ujar Noland memecahkan keheningan di antara ketiganya.


“Baik, Grandpa!” sahut Luca pelan.


“Luca, Papah hanya ingin memastikan ini! apakah kau benar-benar tidak memiliki perasaan sama sekali kepada Ashlyn, selain perasaan bersalah dan juga kasihan?” tanya Rayden yang membuat Luca terdiam seribu bahasa seolah dia mendapatkan pertanyaan tersulit selama hidupnya.


Setelah cukup lama terdiam, Luca lalu menjawab, “Luca juga tidak tahu, Pah!”


“Jangan seperti itu terhadap perasaanmu sendiri, Luca! Belajarlah dari pengalaman masa lalu, kau pasti selalu mengingatnya, bukan?” ujar Rayden yang sedikit menekankan nada bicaranya.


Sebab Rayden sendiri tidak ingin Luca kembali menyesal seperti yang telah terjadi pada Axlyn. Penyesalan ketika Luca terlambat menyadari perasaannya kepada Axlyn.


Bahwa Luca menyatakan perasaan cintanya ketika Axlyn sudah pergi untuk selamanya. Baik Rayden sendiri maupun anggota keluarga yang lainnya tidak ingin penyesalan seperti itu.


“Jujur saja, Papah dan semua orang yang menyayangimu tidak ingin melihat kau terpuruk lagi seperti sebelumnya. Papah tidak ingin kau terjebak dalam rasa penyesalan lagi, karena kau mengabaikan perasaanmu seperti ini,” sambung Rayden memberi Luca sebuah nasehat dan saran.


“Benar, Luca! Pastikan terlebih dahulu perasaanmu kepada gadis itu sebelum nanti kau membuat keputusa. Karena setiap keputusan yang akan kau ambil nantinya akan menimbulkan akibatnya yang kadang bisa kau perkirakan dan kadang tidak bisa kau perkirakan.”


Noland membantu Rayden menjelaskan apa yang di katakan oleh Rayden.


“Pikirkan baik-baik apa yang Papah dan Grandpa mu katakan saat ini! Jangan sampai kau mengulang kesalahan yang sama dan menyesal lagi seperti sebelumnya. Apa kau mengerti?” Rayden menegaskan.


“Sudahlah, Cano! Putra sudah dewasa, setelah semua yang terjadi padanya. Dia pasti sudah bisa membedakan mana keputusan yang terbaik untuknya sendiri dan semua orang,” ujar Noland yang juga mengingatkan Rayden agar tidak terlalu mendesak Luca.


“Iya, aku juga tahu! Ayo, kita pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan Lucia saja. Sepertinya Zhia dan Mamah sudah tiba di rumah sakit, tapi kenapa mereka belum menghubungiku?”

__ADS_1


Rayden mengalihkan topik dan perhatian pada ponselnya, apalagi setelah melihat Luca yang diam saja mendengarkan dirinya dan Noland berbicara.


“Benar, seharusnya mereka menghubungi kita tapi sampai sekarang masih tidak memberi kabar. Sebaiknya kita langsung menyusul saja” ujar Noland jadi ikut memeriksa ponselnya berharap istrinya tercinta menghubunginya.


Tapi sayangnya nasibnya sama dengan sang putra, karena Julia sama sekali tidak menghubunginya maupun mengirim pesan.


“Aku ikut, Pah! Bolehkan?” tanya Luca yang sebenarnya sangat mengkhawatirkan Lucia sekaligus Ashlyn dan keluarganya.


“Tentu, ayo kita pergi!” jawab Rayden yang dengan senang hati memperbolehkannya.


Mereka bertiga pun akhirnya langsung pergi menuju ke rumah sakit. Dengan Rayden yang menjadi sopirnya, mengingat Noland yang sudah sangat berumur.


Sedangkan Luca perasaan dan pikirannya sedang sangat kacau. Sehingga lebih aman kalau Rayden sendiri yang membawa mobilnya.


Sementara itu, setelah meninggalkan Leo begitu saja di taman. Ashlyn berjalan dengan tatapan kosong hingga sampai di rumah sakit.


Setibanya di depan rumah sakit, Ashlyn mencoba bersikap biasa saja. Apalagi dia akan menemui adik dan ibunya, sungguh Ashlyn belum siap menyampaikan tentang kabar meninggalnya Axlyn kepada dua orang itu.


“Ashlyn, kau pasti bisa! Jangan tunjukan kesedihanmu pada ibu dan Alicia!” seru Ashlyn yang menyemangati dirinya sendiri sembari menahan air matanya.


Seketika semangat yang tadi sempat terkumpul lenyap begitu saja, raut wajahnya kembali di landa kesedihan.


Ashlyn hanya diam menatap pintu masuk ke rumah sakit dengan perasaan bimbang yang berkecamuk, hingga akhirnya dia berbalik badan dan perlahan pergi menjauh dari area rumah sakit itu.


“Aku belum siap menemui Ibu dan Alicia sekarang! Aku butuh lebih banyak waktu untuk menyiapkan diriku sendiri,” gumam Ashlyn yang tidak menyadari bahwa mobil yang baru saja melewatinya ada Luca di dalamnya yang terus memperhatikan dirinya melalui kaca jendela mobil.


“Pah, Luca berhenti di sini saja!” seru Luca yang membuat Rayden langsung menghentikan movbilnya secara mendadak.


“Kau mau kemana?”


Begitu mobil berhenti, Luca langsung saja keluar dari mobilnya. Dia bahkan mengabaikan pertanyaan dari papahnya dan terus berjalan untuk mengikuti Ashlyn.


Noland akhirnya mengerti mengapa Luca terlihat tergesa-gesa seperti itu, ketika dirinya melihat keberadaan gadis bernama Ashlyn yang tengah berjalan menjauh dari rumah sakit melalui kaca spion mobil.


“Biarkan saja, Cano! Luca sudah mendapat banyak pelajaran hidup sebelumnya. Jadi, dia tidak akan melakukan akan melakukan kesalahan untuk yang ke sekian kalinya,” ujar Noland pada putranya.

__ADS_1


“Sepertinya kali ini Papah benar! Biarkan Luca menentukan perasaannya terlebih dahulu, siapa tahu sebentar lagi aku mendapat menantu perempuan kali ini.” Rayden ternyata juga melihat keberadaan Ashlyn.


“Ayo, cepat parkirkan mobilnya! Papah suda tidak sabar untuk menemui cucu perempuan kesayanganku itu,” perintah Noland yang tidak sabar untuk melihat keadaan Lucia.


Rayden pun kembali melajukan mobilnya menuju ke area tempat parkir yang tersedia. Kemudian, dia langsung menuju ke ruangan Lucia sedang di rawat saat ini.


Begitu tiba di ruang rawat Lucia, Rayden dan Noland sedikit terkejut ketika melihat ruangan itu sangat ramai.


Baik Rayden maupun Noland sama-sama terdiam ketika melihat keberadaan Ibu dan adik Ashlyn sedang bercengkrama dengan nyaman bersama dengan keluarganya.


Levi yang menyadari keterkejutan Rayden dan Noland segera menghampirinya dan mengajak bicara di tempat yang lain.


“Papah! Grandpa!” seru Lucia ketika melihat Rayden dan Noland mulai memasuki ruang tersebut.


Hal itu membuat mata semua orang langsung tertuju pada dua pria keren yang datang itu. Bu Hanna dan Alicia tampak sedikit menundukan kepala mereka sebagai sikap sopan santun dan menghormati kedua orang itu. Keduanya bahkan berniat untuk kembali ke ruangan mereka, karena takut mengganggu.


^^^Bersambung, ....^^^


...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...


...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari....


...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...


...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...


...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....


...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...


...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...


...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...


...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...

__ADS_1


__ADS_2