
Will, Felix dan Jaydon pun hanya terdiam melihat kedua Tuannya yang berlutut tanpa ada perlawanan sedikit pun. Dan begitu nama Julia di sebutkan oleh Regis, Will yang tadinya ingin membantu Rayden Noland berdiri akhirnya mengurungkan niatnya.
“Apa kalian sudah puas saling bicaranya?”
Sebuah suara wanita seketika mengejutkan mereka semua. Mereka pun segera beralih menatap ke arah sumber suara yang ternyata berasal dari Zhia yang tengah berjalan menghampiri mereka bersama dengan Julia yang berada tepat di sampingnya.
“Nyonya Julia! Nyonya Zhia kami, _....”
“Kalian semua juga berlutut di samping Tuan kalian itu!” titah Julia yang tidak membiarkan satu pun dari mereka bicara.
“Apa sekarang kalian tidak akan mematuhi perintah kami lagi!” bentak Zhia yang membuat mereka semua langsung berlutut saat itu juga.
“Apa yang terjadi dengan Mamah dan Grandma, Pah?” tanya Regis berbisik pada papahnya, tapi tidak ada jawaban.
“Benar, apa yang terjadi?” imbuh Rayga yang tidak tahu apapun dan langsung kena marah dari Grandma dan Mamahnya.
Bukan hanya Regis saja yang menyadari kemarahan dari Julia dan Zhia, tapi bahkan seluruh orang yang ada di dalam Mansion itu merasakannya.
Bahkan Rayden dan Noland sampai tidak berani membuka suara sedikit pun untuk menghadapi kemarahan dua Queen mafia itu.
“Apa kalian tahu apa kesalahan kalian semua?” tanya Julia penuh penekanan.
Hanya Noland dan Rayden yang menganggukkan kepalanya pertanda keduanya menyadari kesalahan mereka, sedangkan Will dan yang lainnya menggelengkan kepala. Sebab mereka belum mengerti apa yang telah terjadi sana.
“Kalian pasti sudah tahu apa yang Luca hadapi di negara H, bukan?” ujar Zhia memperjelas pertanyaan Julia.
Pada akhirnya, kini mereka semua mengerti akar permasalahannya. Fakta bahwa kemungkinan besar Luca akan berhadapan dengan anak dari Evan yang memimpin klan mafia di negara itu.
Mungkin yang di takutkan Zhia dan Julia, bahwa kemungkinan besar kejadian buruk di masa lalu akan terulang kembali.
“Jadi, memang benar kalian semua sudah mengetahuinya,” ujar Zhia saat melihat tidak ada satu pun yang berani membuka suara.
“Mamah! Grandma, boleh Rayga jelaskan?” Rayga mencoba untuk berdiri dan menghampiri kedua wanita cantik itu.
“Tetap di tempatmu! Bicara saja dari sana,” titah Julia yang tidak mengijinkan siapapun bergerak sebelum dia memberinya ijin.
“Tidak perlu penjelasan apapun lagi!” ujar Zhia.
“Sekarang katakan siapa di antara kalian yang akan menjemput putraku kembali ke sini secepatnya?” lanjut Zhia yang membiarkan para pria itu memutuskannya sendiri.
Namun, baik Rayden dan yang lainnya hanya saling lempar pandangan saja satu sama lain. Emosi Julia dan Zhia pun kembali memuncak, ketika tidak mendapat jawaban dari para pria itu. Tapi ketika Zhia akan memulai bersuara lagi, Rayden dengan cepat memberi jawabannya.
__ADS_1
“Ouh, … Felix dan Jaydon yang akan membawa Luca kembali!” seru Rayden sebelum istrinya semakin bertambah murka.
“Hanya mereka berdua?” ujar Julia dengan nada penuh penekanan.
“Will juga akan ikut! Iya ‘kan, Will?” imbuh Rayden yang menyadari bahwa Felix dan Jaydon saja masih belum cukup.
“Ouh, … Ba-baik, Tuan!” sahut Will.
“Bagus! Pergilah pagi ini juga! Aku hanya akan memberi waktu kalian satu minggu untuk membawa Luca kembali. Jika, kalian gagal maka aku sendiri yang akan menjemputnya,” ujar Zhia dengan nada penuh penekanan.
“Ba-baik, Nyonya!” sahut Will dan yang lain.
“Tetaplah seperti ini sampai matahari terbit. Jika ada yang tidak menurut, maka aku akan menambah hukumannya!” ujar Julia pada pria itu.
“Ta-tapi, _....”
“Tidak ada bantahan! Terima ini sebagai hukuman kalian,” potong Julia menekankan.
“Kalian awasi mereka!” perintah Zhia pada beberapa pelayannya yang berada di sana.
“Baik, Nyonya!” sahut para pelayan itu.
Setelah itu, Zhia dan Julia kembali ke kamarnya masing-masing. Membiarkan Rayden dan Noland beserta yang lainnya tetap berlutut di ruang tamu hingga matahari benar-benar menampakan dirinya. Akhir penderitaan Rayden dan yang lainnya pun sudah berada di depan matanya.
...****************...
Sementara Luca sendiri, sudah mulai menjalankan rencananya. Seperti biasa dia akan pergvi bekerja dengan Ashlyn. Akan tetapi, Luca lebih sibuk pada ponselnya di bandingkan sebelumnya. Hal itu membuat Ashly merasa bahwa Luca terasa sangat berbeda hari itu.
“Ada apa? Kenapa kau terus memeriksa ponselmu?” tanya Ashlyn yang terus memperhatikan Luca sejak mereka tiba di mini market untuk bekerja.
“Emm, … Ada masalah penting yang harus aku segera selesaikan! Maaf, … Jika aku terlalu sibuk dengan ponselku,” ucap Luca yang segera menyembunyikan ponselnya.
“Kau sedang ada masalah?” tanya Ashlyn yang terlihat sedikit khawatir.
“Emm, … Tapi aku akan segera menyelesaikan semuanya,” jawab Luca yang tersenyum tipis.
“Termasuk masalahku dengan keluargamu atas kematian Axlyn. Meskipun pada akhirnya kalian akan sangat membenciku, tapi aku harus secepatnya memberitahu semua kebenarannya,” batin Luca.
“Apa kau baik-baik saja? Apakah ada yang bisa aku bantu untukmu?” ujar Ashlyn yang juga ingin membantu Luca, jika dia memang bisa membantunya.
“Benarkah kau bisa membantuku? Kalau begitu cukup jangan terlalu membenciku saat kau mengetahui bahwa aku ‘lah yang menyebabkan kematian Axlyn.”
__ADS_1
Luca ingin mengatakannya secara langsung, tapi pada akhirnya dia hanya bisa mengatakan di dalam hatinya saja.
“Luca, kenapa diam?” Pertanyaan Ashlyn menyadarkan Luca.
“Emm, …” Luca hanya menanggapinya dengan dehaman.
“Jadi, aku benar-benar tidak bisa membantumu ‘yah!” ujar Ashlyn yang terlihat kecewa pada dirinya sendiri karena tidak bisa membantu Luca.
“Tidak apa-apa! Aku bisa mengatasinya sendiri,” balas Luca seraya tersenyum tipis pada Ashlyn.
“Tapi terima kasih sudah mengkhawatirkan keadaanku,” imbuhnya.
Drrtt, … Drrttt, ….
Ponsel Luca kembali berdering, menandakan adanya panggilan masuk. Luca segera memeriksanya, dia segera mengangkat panggilan itu begitu melihat nama Max di layar ponselnya.
Luca pun segera memberikan isyarat kepada Ashlyn bahwa dia akan mengangkat panggilan telepon itu sebentar. Setelah itu Luca pergi mencari tempat yang nyaman untuk bicara dengan Max melalui sambungan telepon.
“Iya, Max! apa kau sudah bisa membuat jadwal untuk bertemu dengan mereka?” tanya Luca begitu menerima panggilan telepon tersebut.
“Saya sedang berusaha untuk mengatur pertemuannya, tapi ada kabar yang lebih penting yang perlu anda ketahui, Tuan muda!” jelas Max yang terlihat panik saat mengatakannya.
“Apa yang terjadi?” tanya Luca yang menjadi ikut khawatir.
“Nyonya Julia dan Nyonya Zhia mengirim Will, Felix dan Jaydon untuk memaksa anda kembali, Tuan muda! Dan saat ini mereka sudah berada di pesawat,” jelas Max memberitahu Luca tentang kedatangan Will, Felix dan Jaydon.
^^^Bersambung, ....^^^
...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...
...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari....
...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...
...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...
...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....
...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...
...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...
__ADS_1
...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...
...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...