Ashlyn, Bukan Cinta Pengganti

Ashlyn, Bukan Cinta Pengganti
Pertemuan Dengan Sang Ibu


__ADS_3

“Aku titip ini! Jika gadis itu menanyakan harga pakaian di sini, katakan saja harga yang paling murah. Kalau bisa samakan dengan harga pakaian di pasar,” bisik Luca pada pegawai butik tersebut sembari memberikan Black Card miliknya.


“Ba-baik, Tuan!” sahut pegawai itu sampai tergagap, karena baru pertama kalinya ada pelanggan yang membayar menggunakan Black Card, kartu kredit yang tidak memiliki limit pembayaran.


Setelah itu, Luca segera mengikuti Ashlyn agar tidak ketahuan oleh gadis itu. Luca juga memilih beberapa pakaian atau lebih tepatnya kaos polos yang bisa di gunakan setiap kali akan bekerja dengan Ashlyn.


“Pilihlah, pakaian yang cocok untukmu! Kali ini aku yang akan membayarnya, anggap saja sebagai ucapan terima kasihku karena kau sudah memberiku beberapa pekerjaan sekaligus,” ujar Luca yang membiarkan Ashlyn memilih sesuka hatinya.


“Apa kau yakin akan mentraktirku membeli pakaian di sini?” tanya Ashlyn memastikan.


“Emm, … Pilihlah sebanyak yang kau mau,” ujar Luca membenarkan.


“Wow, …” Ashlyn sampai melotot ketika melihat harga yang tertera di label pakaian yang saat itu dia pegang.


“Ada apa?” tanya Luca yang segera menghampiri Ashlyn.


“Luca, lihat ini! Harganya mahal sekali,” ujar Ashlyn sembari menunjukan harga yang tertera di pakaian itu.


Seketika otak Luca terasa beku mencari alasan untuk menutupi harga sesungguhnya semua pakaian yang ada di butik itu.


Hingga pegawai yang dia titipkan Black Cardnya tiba-tiba menghampiri mereka dan memberikan penjelasan yang membuat Luca akhirnya bisa bernapas lega.


“Selamat malam, Tuan dan Nona! Saya ingin memberitahukan bahwa ada berdua menjadi pelanggan ke seribu kami. Jadi, semua barang yang ada di butik ini akan di berikan harga off sampai 97%! Silahkan anda berbelanja senyaman mungkin,” ujar pegawai butik tersebut dengan senyuman ramahnya.


“Kerja bagus! Aku pasti akan memberikan uang tip yang cukup besar untukmu,” ujar Luca dengan menggunakan bahasa isyarat pada pegawai butik tersebut.


“Benarkah? Dari harga segini sekarang off 97%?” seru Ashlyn yang tidak percaya dia seberuntung itu, setelah mengalami kesialan.


“Tentu, Nona! Mana mungkin saya membohongi pelanggan,” ujar pegawai tersebut.


“Apa sekarang kau percaya?” sela Luca dengan penuh percaya diri.


“Sudah aku bilang biasanya butik seperti ini akan jauh lebih murah saat menjelang tengah malam,” imbuh Luca.


“Kalau begitu selamat menikmati waktu belanja anda,” ujar pegawai itu yang kembali meninggalkan Luca dan Ashlyn.


Setelah pegawai butik itu meninggalkan mereka berdua, Ashlyn segera memilih beberapa pakaian sekaligus.

__ADS_1


Tentu saja bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk adik dan ibunya. Apalagi Luca sudah berjanji yang akan membayar semuanya.


Luca pun hanya tersenyum melihat kelakuan Ashlyn. Tidak sia-sia mengeluarkan Black Cardnya di awal, karena melihat Ashlyn yang dengan cepat melupakan kejadian ketika di club.


Uang yang dia keluarga untuk membayar seluruh pakaian itu, Luca anggap sepadan dengan senyuman kebahagiaan Ashlyn.


“Tetaplah tersenyum seperti ini. Dengan begitu aku juga bisa tersenyum dan sedikit melupakan rasa bersalahku,” gumam Luca yang terus memperhatikan Ashlyn yang tampak sangat antusias memilih baju untuk ibunya.


Cukup lama waktu yang mereka habiskan hanya untuk berbelanja. Kemudian, mereka meninggalkan butik itu dengan Ashlyn yang menenteng beberapa tas belanjaan yang sangat besar di kedua tangannya.


Begitu juga dengan Luca yang hampir memborong semua jenis kaos yang ada di butik itu. Bahkan Luca dan Ashlyn juga sudah mengganti pakaian mereka dengan pakaian baru.


“Kau mau kemana lagi sekarang! Hari ini aku akan mentraktir apapun yang kau inginkan,” ujar Luca yang menanyakan tujuan Ashlyn selanjutnya.


“Sepertinya sudah cukup untuk hari ini! Soalnya aku harus pergi ke rumah sakit untuk memberikan pakaian ini pada Ibu dan Alicia,” sahut Ashlyn yang masih terlihat bahagia.


“Apa kau mau ikut? Sekalian aku mempernalkanmu pada mereka,” ajak Ashlyn yang merasa tidak enak meninggalkan Luca begitu saja setelah mentraktirnya belanja.


“Apa boleh?” tanya Luca memastikan.


“Tentu saja! Makanya aku mengajakmu untuk ikut,” jawab Ashlyn dengan bersungguh-sungguh.


Dia terpaksa harus kembali, meskipun dirinya masih takut jika bertemu dengan Leonard lagi. Akan tetapi, hanya motor tua itu yang Ashlyn miliki untuk mengantarnya setiap berkerja.


Ashlyn tidak bisa memiliki kesempatan untuk takut akan sesuatu, karena jika dia takut maka hidupnya kan berakhir detik itu juga.


“Seharusnya aku yang menanyakan padamu seperti itu! Apa kau baik-baik saja, jika kita kembali ke club itu lagi,” tanya Luca dengan raut wajah yang memperlihatkan kekhawatirannya.


“Aku hanya akan mengambil sepeda motorku saja! Aku yakin baik-baik saja,” jawab Ashlyn penuh keyakinan.


“Kalau begitu aku akan selalu ada di sampingmu,” ujar Luca yang siap pasang badan Kaman dan dimana saja untuk melindungi Ashlyn.


“Baiklah! Ayo, kita pergi!” sahut Ashlyn.


Meskipun Luca bisa memperkirakan bahwa Leonard dan anak buahnya sudah tidak berada di club itu lagi. Akan tetapi, untuk berjaga-jaga Luca tetap mengawal Ashlyn kemanapun gadis itu pergi.


Setelah itu, Ashlyn mendapatkan sepeda motornya kembali, walaupun ada sedikit perdebatan dengan sang pemilik Club dengan Luca.

__ADS_1


Akhirnya Luca dan Ashlyn tiba di sebuah rumah sakit. Seperti biasa Ashlyn selalu menyapa para penghuni rumah sakit, baik itu dokter perawat ataupun pasien lainnya yang sudah dia kenal dengan baik.


Saking asyiknya menyapa, Ashlyn sampai tidak menyadari bahwa pria tampan yang dia bawa membuat mereka semua terpesona.


“Kita sudah sampai di ruang rawat ibuku! Ayo, masuk!” ujar Ashlyn yang tersenyum pada Luca.


“Iya, kau duluan!” sahut Luca yang sebenarnya dalam hatinya merasa ragu untuk menghadap wajah ibu yang telah melahirkan Axlyn itu.


“Kakak!” seru Alicia yang menyambut kedatangan Ashlyn dengan sebuah pelukan hangat.


“Nak, jangan seperti itu! Biarkan Kakakmu beristirahat dulu sebentar,” tegur sang ibu pada putri bungsunya itu.


“Ibu! Alicia, aku membawa seorang teman yang ingin bertemu kalian,” ujar Ashlyn yang membuat Ibu dan adiknya menjadi penasaran.


“Siapa? Kenapa kau tidak menyuruhnya masuk saja?” cecar sang Ibu yang tidak melihat adanya orang lan yang mengikuti putrinya masuk.


“Luca! Cepat masuk, Ibu sudah tidak sabar ingin melihat wajah tampanmu!” seru Ashlyn sembari ingin sedikit menggoda Luca.


“Hay, kau ini! Kenapa kau malah menggodanya seperti itu? Bagaimana kalau nanti dia pergi karena merasa malu dengan perkataanmu barusan.”


Kini sang ibu menegur kelakuan Ashlyn. Namun, yang di katakan Ashlyn memang benar ketika seorang pria muda yang sangat tampan perlahan memasuki ruangan itu.


^^^Bersambung, ....^^^


...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...


...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari....


...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...


...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...


...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....


...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...


...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...

__ADS_1


...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...


...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...


__ADS_2