Ashlyn, Bukan Cinta Pengganti

Ashlyn, Bukan Cinta Pengganti
Buah Kejujuran


__ADS_3

Tumpah sudah air mata yang sejak tadi Luca berusaha tahan. Terlebih lagi, ingatan tentang kematian Axlyn kembali terlintas jelas di dalam kepalanya.


Pernyataan cinta yang Axlyn katakan kepadanya sebelum menutup mata dan berhenti bernapas dalam pelukannya, terlihat jelas seolah kejadian itu baru saja terjadi.


“Apa katamu?” tanya Hanna penuh penekanan, wajahnya pun sudah di basahi dengan air mata.


Begitu juga dengan Alicia yang menangis terisak sambil menutup mulutnya sendiri agar sedikit menekan rasa sakit sekaligus kehilangan di hatinya.


Vinno juga ikut meneteskan air matanya, dengan sigap dia langsung menggenggam erat tangan istrinya serta memeluknya untuk memberikan kekuatan menghadapi kenyataan pahit itu. Kenyataan bahwa mereka kehilangan putri sulung mereka untuk selamanya.


“Maafkan aku, Hiks, … Seharusnya aku yang mati pada malam itu! Seharusnya pisau itu yang menembus jantungku."


"Hiks, … Seharusnya Axlyn tidak melindungiku dengan menggunakan tubuhnya sebagai tameng. Hiks, … Hiks, … Aku sungguh menyesal karena membiarkan tubuh kecilnya menahan tajamnya pisau pada malam itu.”


Secara tidak sadar Luca menceritakan runtutan kejadian bagaimana Axlyn meninggal dunia. Bagaimana Axlyn sangat mencintainya, hingga rela mengorbankan hidupnya sendiri agar bisa membuat Luca, pria yang sangat dia cintai tetap hidup.


“Hiks, … Apa kalian sedang mencoba memberitahuku bahwa Axlyn, putriku sudah tidak ada lagi di dunia ini lagi! Hiks, …” Suara Hanna terdengar sangat lemah dan putus asa.


“Kami sungguh menyesal, Nyonya! Kami juga tidak menginginkan hal itu terjadi pada Axlyn ataupun anak kami, tapi takdir berkata lain.” Rayden yang menjawab saat melihat Luca yang tidak bisa berhenti menangis.


“Dimana, …”


“Dimana putriku kalian makamkan? Atau dimana kalian menaburkan abu jenazahnya? Tolong beritahu aku dimana putriku berada sekarang?” pinta Hanna dengan suara bergetar menahan perasaan sedih kehilangan seorang anak untuk selamanya.


Air matanya tidak bisa berhenti mengalir, perasaan seorang ibu yang kehilangan anaknya tidak bisa di gambarkan dengan apapun. Zhia dan Julia sejak tadi hanya diam serta berlutut, tiba-tiba beranjak dari tempat mereka. Kemudian berjalan menghampiri Hanna dan langsung memeluknya dengan erat.


Ketiganya pun menangis bersama, Julia yang pernah merasakan kehilangan seorang putri tentu saja sangat mengetahui bagaimana perasaan Hanna saat itu.


Sedangkan Zhia, meski tidak pernah kehilangan seorang anak tetap saja sebagai seorang Ibu yang melihat seorang ibu lainnya kehilangan anaknya akan merasakan hal yang sama.


“Kita akan mengunjungi Axlyn bersama! Hiks, … Sekarang Axlyn juga putriku, dia putri kesayanganku!” ujar Zhia dengan berderai air mata.


“Benar, Axlyn juga cucuku! Dia sudah menjadi bagian dari keluarga kami, maka dari itu dia di makamkan di pemakaman pribadi keluarga Xavier di samping makam Rayna, mendiang putriku. Kita semua akan mengunjunginya bersama-sama,” imbuh Julia.

__ADS_1


“Hiks, … Hiks, …! Pantas saja, Axlyn tidak pernah mengujungiku meski hanya dalam mimpi. Ternyata dia sudah memiliki Ibu dan keluarga yang sangat menyayanginya,” ujar Hanna yang memaksakan diri untuk tersenyum.


“Tidak, Axlyn tetap paling mencintaimu sebagai Ibunya! Hanya saja, dia tidak ingin mendahului kami untuk menemuimu,” ujar Zhia yang ikut memaksakan diri untuk tersenyum.


“Kau benar! Sepertinya dia takut kalau aku akan membenci pria yang dia cintainya, jika menemuiku lebih awal sebelum kalian datang ke sini,” sahut Hanna yang kini beralih menatap Luca yang masih menunduk sambil menangis terisak.


“Nak Luca, kemarilah!” pinta Hanna yang menyuruh Luca untuk mendekat kepadanya.


Luca sedikit mendongakkan kepalanya ketika mendengar namanya di panggil. Akan tetapi, dia tidak langsung beranjak dari sujudnya karena merasa ragu dengan apa yang baru saja dia dengar.


Hingga Luca melihat lambaian tangan Hanna yang mengisyaratkan dirinya untuk mendekat. Luca pun segera berdiri dan berjalan penuh keraguan untuk mendekati Hanna.


“Apakah kau menyukai putriku, Axlyn?” tanya Bu Hanna ketika Luca sudah berada tepat di depannya.


Luca menganggukkan kepalanya pelan, lalu menjawab, “Ya, … Aku mencintai!”


“Bagaimana dengan Putriku? Apakah Axlyn juga mencintaimu?”


Bu Hanna kembali bertanya untuk memastikan, apakah kematian Axlyn seperti yang saat ini sedang dia pikirkan.


“Sekarang aku mengerti, mengapa Putriku rela mengorbankan nyawanya untuk melindungi dirimu. Sebab perasaan cintanya lebih besar dari yang kau bayangkan.”


Perkataan Bu Hanna sudah seperti sebuah anak panah yang menancap tepat di jantung Luca.


“Aku tidak menyalahkan mu, Nak Luca! Itu adalah keputusan putriku dan aku tidak berhak mempermasalahkan keputusannya. Namun, aku tidak bisa memaafkanmu, karena telah mempermainkan perasaan putri keduaku. Meski kau tidak menyadari, Ashlyn yang tulus mencintaimu selama ini terluka atas sikap diammu selama ini,” sambung Bu Hanna.


“A-anda me-memaafkan saya?”


Perkataan Luca serasa tercekat mendengar penuturan dari Bu Hanna. Siapa sangka wanita itu, akan dengan mudahnya memaafkan dirinya setelah mendengar apa yang terjadi pada putri sulungnya.


Tidak ada kemarahan dari raut wajahnya, tetapi dapat di lihat dengan jelas perasaan kehilangan dan kesedihan yang ada di sorot matanya.


Berbeda dengan Vinno yang lebih memperlihatkan rasa penyesalannya yang begitu mendalam. Sebab bukannya dia menjadi ayah yang melindungi anaknya, Vinno malah menempatkan Axlyn dalam bahaya. Sehingga kini putri sulungnya harus berakhir dalam kematian.

__ADS_1


Jauh halnya dengan Alicia yang hanya bisa menangis meratapi kepergian sang kakak sulungnya. Ada penyesalan di dalam dirinya, kenapa dulu dia selalu mengeluh dan membicarakan tentang ayah mereka.


Alhasil, Axlyn memutuskan untuk pergi mencari keberadaannya. Ayahnya memang kembali, tetapi Axlyn sendiri yang malah harus pergi untuk selamanya.


“Kenapa aku tidak bisa memaafkan mu? Jika aku tetap menyalahkanmu, maka secara tidak langsung aku menyalahkan keputusan Axlyn yang ingin menyelamatkan pria yang di cintainya."


"Aku tidak bisa membiarkan pengorbanan putriku menjadi tidak berarti hanya karena rasa kesedihan dan kehilanganku sebagai ibunya,” jelas Bu Hanna yang mengatakan hal itu dengan setulus hatinya.


“Ma-maafkan aku,” ucap Luca penuh penyesalan.


“Tidak! Kau pantas mendapatkan maaf dariku, seharusnya aku yang berterima kasih padamu sudah mau mengatakan semuanya dengan jujur. Padahal bisa saja kau memilih diam dan selamanya aku tidak akan pernah mengetahui apa yang terjadi pada putri sulungku,” ujar Bu Hanna yang menghargai kejujuran Luca.


“Hanna, aku sungguh berterima kasih padamu! Terima kasih sudah memaafkan putraku ini dan kami semua yang tidak bisa menjaga putrimu dengan baik. Kami sungguh sangat menyesal, hal buruk itu harus terjadi dan menimpa putrimu.”


Kali ini Zhia yang membuka suara untuk mewakili keluarganya. Zhia tidak bisa membiarkan putranya menghadapi dan bertanggung jawab atas semua yang terjadi seorang diri.


^^^Bersambung, ....^^^


...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...


...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari....


...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...


...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...


...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....


...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...


...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...


...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...

__ADS_1


...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...


__ADS_2