Ashlyn, Bukan Cinta Pengganti

Ashlyn, Bukan Cinta Pengganti
Pertemuan Terakhir


__ADS_3

Pada malam yang sama, Rayden juga mengadakan rapat dadakan bersama dengan Will dan yang lainnya. Demi kebaikan bersama Rayden membeli sebuah rumah flat yang di jadikan sebagai markas mereka untuk sementara.


“Bagaimana? Apakah kalian mendapatkan informasi lain?” tanya Rayden memulai rapat daruratnya tanpa kehadiran Luca.


“Tidak ada, Tuan! Keberadaan Joana dan putranya sama sekali tidak bisa kami lacak, sudah pasti semua pihak yang ada di negara ini berada di bawah kekuasaan Simon. Sehingga sulit bagi kita untuk melakukan pergerakan di sini,” jawab Will.


“Begitu juga dengan Simon dan Joshua yang belum melakukan pergerakan apapun sampai sekarang! Antara mereka takut atau sedang merencanakan sesuatu yang lebih besar lagi, kami tidak bisa mendekati markas utama mereka sama sekali.”


Felix menambahkan jawaban yang belum Will sampaikan. Memang pada dasarnya mereka memiliki tugas yang berbeda satu sama lain. Berbeda dengan Levi yang hanya memiliki satu tugas yaitu melindungi istri dan calon anak kembarnya.


“Apakah tidak masalah, kita semua kembali begitu saja?” tanya Levi yang merasa sedikit khawatir.


“Max dan Matt akan tetap berada di sini! Max bisa mengurus masalah perusahaan, sedangkan Matt bisa mengawasi pergerakan mereka. Kalian berdua sanggup melakukannya, bukan?” ujar Rayden yang memberikan tugas yang cukup berat kepada kedua pengawal pribadi putra sulungnya itu.


“Tentu, Tuan! Kami pasti akan melakukan yang terbaik untuk menyelesaikan tugas yang anda berikan,” jawab Max penuh keyakinan.


“Saya juga, Tuan! Akan melaksanakan tugas yang anda berikan bahkan dengan mempertaruhkan nyawa sekalipun.” Matt menimpali.


“Kalian harus tetap hidup! Jika terjadi sesuatu pada kalian berdua, maka putra sulungku bisa menggila lagi. Sebab meskipun dari luar Luca terlihat tidak menyukai keberadaan kalian berdua, tetapi di dalam hatinya kalian sudah di anggapnya sebagai orang yang harus dia jaga dan lindungi,” jelas Rayden yang tahu persis dengan karakter putranya seperti apa.


“Jadi, kalian harus menjaga nyawa kalian itu sebaik mungkin saat melaksanakan tugas dariku. Mengerti?” sambung Rayden menekankan.


“Siap, Tuan! Kami mengerti!” sahut Matt dan Max serentak.


“Lalu bagaimana dengan tugas kami bertiga, Pah?” celetuk Rayga yang juga ingin ikut membantu.


“Tugas kalian belajar saja yang benar! Jangan selalu membuat onar, kasihan Mamah Zhia yang selalu pusing mendengar kelakuan bar-bar kalian,” sindir Levi yang tidak habis pikir dengan kelakuan ketiga adik iparnya itu.


“Ayolah, Kak Levi! Jika bukan karena kelakuan bar-bar kami, mungkin Kakak tidak akan pernah bisa menikahi Kak Lucia,” balas Rayga yang tidak terima di sindir seperti itu.


Meskipun memang benar adanya mereka hanya selalu berbuat onar saja di mana pun mereka berada.


“Aish, … Kau ini, _...” geram Levi yang tak bisa membalas perkataan Rayga lagi.


“Kalian berhentilah berdebat! Sebaiknya kita sudahi saja pertemuan hari ini dan bersiap untuk kembali ke negara kita.” Rayden menengahi perdebatan itu.

__ADS_1


“Tapi, Pah! Aku dan Lucia sudah membahas untuk kembali saja ke rumah kami dan, _....”


“Tidak bisa! Untuk sementara waktu tetap tinggal bersama dengan kami, tidak ada kata penolakan lagi!” Rayden menegaskan keputusannya.


“Baiklah, Pah!” sahut Levi.


Pertemuan itu pun akhirnya berakhir, sebelum itu Levi diam-diam tetap memerintahkan anak buah kepercayaannya untuk tetap bergerak. Meski Rayden juga melakukan hal yang sama, tetapi itu lebih baik.


Sebab mereka tidak bisa memprediksi apa yang di lakukan Simon dan mantan anak buah Luke setelah mereka kembali ke negara A.


Luca kembali ke Villa setelah memastikan, Ashlyn kembali ke rumahnya dengan selamat. Alhasil, dia akhirnya tiba di Villa ketika tengah malam. Mengira bahwa semua orang sudah terlelap dalam tidurnya, Luca pun langsung saja berjalan menuju ke kamarnya.


Hingga sebuah suara menghentikan langkahnya, “Kau baru pulang, Luca? Apakah berhasil mendapatkan maaf dari Ashlyn?”


Bukannya menjawab Luca malah balik bertanya, “Papah belum tidur?”


“Papah sedang menunggumu! Bisa kita bicara sebentar,” ujar Rayden yang secara tidak langsung menyuruh Luca untuk duduk di depannya. Tak membantah, Luca lalu duduk di tempat yang Papahnya tunjuk.


“Ada apa, Pah?” tanya Luca dengan perasan gugup yang tiba-tiba menghampirinya.


“Tidak ada hal yang penting! Papah hanya ingin memastikan, apakah kau sudah siap untuk kembali ke negara kita besok?” ujar Rayden membuat Luca sedikit merasa lega.


“Ini demi kebaikanmu juga, Luca!” Rayden berusaha membuat putra sulungnya itu mengerti akan niat baiknya.


“Luca tahu, Pah! Kalau sudah tidak ada lagi iangin Papah bicarakan, maka Luca mau pergi ke kamar untuk istirahat,” ujar Luca yang langsung beranjak dari tempat duduknya dan berjalan pergi menuju kamarnya tanpa mendengar jawaban dari Papahnya lebih dulu.


“Maafkan Papah, Luca!” ucap Rayden meski Luca tidak bisa mendengarnya.


Sinar rembulan kini telah di gantikan sinar mentari yang mulai memunculkan sosoknya. Seperti biasa Zhia akan bangun terlebih dahulu dari yang lainnya untuk menyiapkan sarapan.


Siapa sangka, dia malah kembali berpapasan dengan putra sulungnya yang sudah terlihat sangat rapi.


“Luca, kamu mau kemana?” tanya Zhia yang penasaran.


“Mamah, Luca akan pergi sebentar untuk bertemu Ashlyn! Luca akan kembali sebelum kita semua kita berangkat ke bandara,” jawab Luca yang tidak mau membohongi Mamah tercintanya itu.

__ADS_1


“Kau sudah berbaikan dengannya?” tanya Zhia semakin penasaran dengan hasil usaha putra sulungnya itu dalam mendekati Ashlyn.


“Antara iya dan tidak, Mah! Mungkin bisa jadi ini pertemuan terakhir kami,” jawab Luca dengan raut wajah yang berubah sendu dan penuh kesedihan.


“Tidak apa-apa, Nak! Jika kalian berjodoh dan takdir mengijinkan, maka tidak akan ada yang namanya terakhir kali. Percaya saja pada rencana yang di tuliskan Tuhan untukmu,” ujar Zhia yang memeluk putranya seolah memberikan sebuah dorongan agar Luca tetap semangat.


“Iya, Mah! Kalau begitu Luca pergi dulu,” pamit Luca yang mengecup pipi mamahnya sebelum pergi.


“Hati-hati di jalan, Luca!” seru Zhia mengingatkan putranya.


Cukup lama Luca mengemudikan mobilnya, akhirnya dia tiba juga di tempat yang semalam dia berhasil bicara tenang dengan Ashlyn. Namun sayangnya, Luca sepertinya datang terlalu awal sehingga dia harus bersabar menunggu kedatangan Ashlyn.


Detik berganti menit dan menit kini sudah berganti jam. Sudah satu jam berlalu, tapi Ashlyn belum juga menunjukan sosoknya dan Luca masih tetap menunggunya dengan penuh kesabaran.


“Apa kau sudah menunggu lama?” Hingga sebuah suara menyadarkan Luca dari lamunannya.


“Ashlyn, …”


Bukannya menjawab Luca malah menebarkan senyuman manisnya ketika melihat orang yang sejak tadi di tunggunya kini telah berdiri tepat di hadapannya.


^^^Bersambung, ....^^^


...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...


...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari....


...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...


...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...


...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....


...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...


...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...

__ADS_1


...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...


...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...


__ADS_2