
“Bagus, kau boleh pergi sekarang!” usir Luca begitu urusannya telah selesai dengan Max.
Max pun segera keluar dari kamar tersebut. Baru saja berhadapan dan keluar dari kandang anak mafia yang sudah dewasa.
Kini Max malah masuk dan terjebak di kandang si raja mafia ketika tiba-tiba ponselnya berdering yang tertera jelas nama sang pemanggil di layar ponselnya.
“Aish, sialan! Aku harus mencari Matt dan melibatkan dia soal Tuan Rayden,” umpat Max dengan raut wajah paniknya.
Dia lalu berlari kocar-kacir mencari keberadaan Matt yang akan mendampinginya menghadapi sang raja mafia bersama-sama. Dan membiarkan begitu saja ponselnya terus berdering sampai dia menemukan keberadaan Matt.
Sementara itu, Luca segera membersihkan tubuhnya yang terasa sangat lengket karena seharian terus berkeringat melayani para pelanggan mie.
Meski tubuhnya merasa sangat lelah, tapi tidak bisa dia pungkiri bahwa dia menyukai pekerjaan sebagai pelayan.
Luca sedikit mengingat beberapa kejadian lucu di restaurant ketika dia sebagai pelayan. Hingga Luca yang kelelahan tidak menyadari bahwa dirinya terlelap dengan mudahnya menaungi alam mimpinya yang indah dan kali ini membuat tidurnya sangat nyenyak.
...****************...
Beralih lagi pada Max yang akhirnya menemukan keberadaan Matt yang ternyata sedang asyik menggoda seorang gadis cantik di dekat parkiran mobil.
Tanpa permisi Max langsung saja menarik pergi Matt untuk mengikutinya kembali ke kamar mereka.
“Ada apa kau ini! Tidak lihat tadi aku sedang sibuk mengajak wanita itu untuk berkencan!” seru Matt yang melepaskan genggaman tangan Max dengan kasar.
“Darurat, Matt!”
Max langsung saja menunjukan layar ponselnya yang masih terus berdering setelah beberapa kali terhenti.
Melihat nama Rayden tertera jelas di layar ponsel tersebut, Matt pun seketika ikut panik. Keduanya tahu persis bahwa Ayah dan anak itu memiliki sifat dan karakter yang hampir sama. Kalau tidak memberi perintah, maka tentu saja akan mempersulit hidup mereka.
“Cepat angkat bodoh!” seru Matt seraya menjitak kesal kepala Max, karena tidak kunjung menerima panggilan tersebut.
“Ouhya, …”
Max pun segera menekan tombol hijau yang membuat panggilan itu langsung terhubung.
“Yakhh, … Darimana saja kalian berdua? Kenapa kalian baru menerima panggilan teleponku!”
Teriakan Rayden seketika menggema di setiap sudut kamar hotel yang cukup luas itu, sampai membuat telinga Matt dan Max berdenging. Beruntung saja jantung mereka tidak berlari keluar karena terkejut dengan teriakan Rayden barusan.
“Maaf, Tuan! Tadi kami berdua sedang menghadap Tuan Luca dan dia tidak mengijinkan kami menerima panggilan dari anda,” jelas Matt yang tentu saja berbohong.
__ADS_1
“Lalu dimana Luca sekarang?” tanya Rayden yang mulai merendahkan nada bicaranya.
“Di kamarnya, Tuan! Sepertinya Tuan Luca sudah tidur, karena terlalu kelelahan,” jawab Max dengan polosnya.
“Kelelahan memangnya apa yang dia lakukan? Apakah kalian berdua tidak menjaga putraku dengan baik?” cecar Rayden yang sudah mulai tersulut lagi emosinya.
“I-itu Tuan melakukan pekerjaan lain, setelah menyelesaikan masalah jual beli HK Group.”
Mau tidak mau Max harus menjawabnya dengan jujur, apalagi saat ini mereka malah sedang melakukan panggilan video yang membuat mereka tidak bisa membohongi Rayden dengan mudah. Apalagi mengingat kemarahan Rayden jauh lebih merepotkan dari pada kemarahan Luca.
“Memang apa yang Luca kerjakan! Cepat jawab!” perintah Rayden penuh penekanan.
“Tuan Luca bekerja sebagai pelayan restaurant, Tuan!” jawab Matt dan Max serentak.
“Hah? Pelayan? Mana mungkin Luca mau melakukan pekerjaan seperti itu, apalagi sejak kecil di selalu di layani oleh para pelayan. Tidak mungkin, _....”
“Tapi itulah kenyataannya, Tuan! Lihatlah sendiri foto yang saya kirimkan pada anda.”
Tidak ingin belibet menjelaskan dan menyakinkan Rayden, Matt pun mengirimkan foto Luca yang dia ambil secara diam-diam ketika sedang bekerja.
Percaya tidak percaya foto itu memang nyata, putra sulungnya sang pewaris BLOUSHZE Group perusahaan IT terbesar kini bekerja sebagai pelayan restaurant mie. Sungguh siapapun yang mendengarnya pasti tidak akan mempercayainya.
Setelah cukup lama memperhatikan foto putranya yang mengenakan seragam pelayan restaurant, Rayden baru menyadari bahwa ada seorang gadis yang sangat mirip dengan mendiang Axlyn.
Beberapa kali Rayden mencoba menyadarkan matanya tetap saja sosok Axlyn yang ada di dalam foto itu masih tetap ada.
“Dia bukan Axlyn, Tuan! Tapi Ashlyn, adik dari Axlyn!” Max mencoba menjelaskan.
“Apa?” seru Rayden yang semakin tidak bisa mempercayainya.
“Tuan, kami akan mengirim semuanya secara detail dalam bentuk laporan! Namun, bisakah anda berjanji bahwa anda mengetahui tentang ini dari kami berdua! Karena Tuan Luca sudah memperingati kami untuk tidak memberitahu siapapun apa yang terjadi di sini,” pinta Max dengan sangat memohon.
“Benar, Tuan! Jika Tuan Luca mengetahuinya bahwa kami yang memberitahu anda, maka Tuan Luca akan langsung membunuh kami,” imbuh Matt.
“Baiklah, asala kalian berdua selalu memberi laporan padaku apa saja yang Luca lakukan selama di sana!”
Bukan Rayden namanya kalau tidak memanfaat kesempatan untuk menjadikan Matt dan Max cctv hidup untuknya.
“Tuan, jangan kami berdua! Tugas kami berdua sudah cukup banyak di sini, karena Tuan Luca yang hanya bermain-main saja dengan Ashlyn,"
"Bukankah anda memiliki banyak anak buah, perintahkan saja yang lainnya dan kami akan berpura-pura tidak mengetahuinya,” ujar Max yang memberikan saran terbaik untuk mereka semua.
__ADS_1
“Okay, baiklah! Aku juga tidak ingin ketahuan oleh Luca bahwa kalian masih dalam kendaliku,” sahut Rayden yang menyetujuinya.
Lalu Rayden langsung saja memutuskan sambungan telepon itu secara sepihak untuk melihat laporan yang di kirimkan Max padanya.
Betapa terkejutnya dia melihat semua informasi itu, instingnya sebagai seorang mafia langsung merasakan bahwa ada yang aneh dengan keluarga Axlyn dan bahkan dengan perusahaan WL Group yang menjadi saingan bisnis putra sulungnya di negara H.
“Ada sesuatu yang menjadi misteri di sini! Aku harus memerintahkan Will untuk menyelidiki tentang ini secara mendetail. Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada putraku di sana,” gumam Rayden yang masih terus membaca informasi itu secara berulang-ulang.
Sementara disisi lain, Max dan Matt sedang meratapi penderitaannya.
Max berkata, “Kenapa nasib kita berdua selalu begini terus ‘yah, Matt! Dulu kita menjadikan tiga bersaudara yang sefrekuensi sebagai Tuan kita. Dan sekarang kita juga mendapatkan Ayah dan anak yang sifat dan kelakuannya tidak jauh beda, sama-sama membuat kita berdua gila!”
“Seharusnya aku menjadi pengawal pribadinya Nona Lucia saja,” gumam Matt yang mengkhayal.
“Hay, jangan mengkhayal terlalu jauh! Jika itu terjadi, maka seluruh tubuhmu itu bahkan sampai ke tulang-tulangnya pasti sudah menjadi sate untuk di berikan kepada harimau peliharaan suaminya. Apa kau tidak takut pada Tuan Levi,” ujar Max mengingatkan.
^^^Bersambung, ....^^^
Ilustrasi Tokoh, ....
...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...
...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari....
...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...
...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...
...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....
...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...
...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...
...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...
...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...
__ADS_1