
Pertanyaan yang di lontarkan Mamahnya seketika membuat Leo terdiam. Jujur saja, Leo tidak memiliki jawaban yang pasti akan pertanyaan dari Mamahnya itu. Namun, sepertinya apa yang Mamahnya katakan memang ada benarnya.
“Leo, pada akhirnya sebuah balas dendam tidak akan bisa mengembalikan apa yang telah hilang dari kita. Bahkan balas dendam akan membuat kita kehilangan kebahagiaan yang kita rasakan saat ini. Jadi, Mamah mohon jangan pernah berpikir seperti Kakekmu.” Joana kembali menasehati putra semata wayangnya itu.
“Leo, Mamah sungguh tidak ingin kehilangan orang yang sangat Mamah cintai lagi yaitu dirimu. Jadi, tolong jangan menaruh dendam pada masa lalu yang tidak bisa kita ubah lagi.” Kali ini Joana memohon sembari menangkup wajah teduh putranya.
“Leo mau berjanji pada Mamah, bukan?” Joana kembali memastikan jawaban putranya atas permintaannya itu.
“Iya, Mah!” jawab Leo singkat.
“Mamah selalu bangga padamu, Leo! Tolong jangan kecewakan Mamah kali ini,” ujar Joana seraya mengecup kening Leo dengan penuh cinta.
“Ayo, kita pulang sekarang!”
Kemudian, Joana menggenggam tangan putranya dan keduanya kembali melangkahkan kaki menuju mobil jemputan mereka yang sudah menunggu sejak tadi.
Beralih pada Ashlyn yang pada akhirnya tidak bisa focus melakukan pekerjaannya, karena terus memikirkan tentang Luca.
Bahkan Ashlyn menjadi sering melamun sembari memperlihatkan wajah sedihnya. Ada sedikit rasa penyesalan mengapa dia tidak memanfaatkan pertemuan terakhir mereka untuk bersama lebih lama.
“Apakah kau tiba dengan selamat? Haah, … Sungguh ini sangat menggelikan! Ketika kau ada di hadapanku, aku sangat membenci dan setalah kau pergi aku malah menyesali dan merindukanmu,” batin Ashlyn dalam lamunannya.
Sementara Luca yang masih berada di dalam pesawat juga terus memikirkan tentang Ashlyn. Ada rasa kehilangan di hatinya dan sungguh perasaan itu sangat mengganggu hati dan pikirannya.
Namun, apalah daya Luca yang masih terombang ambing dengan perasaannya sendiri. Satu sisi Luca tidak ingin kehilangan Ashlyn, tapi sisi yang lainnya masih ada nama Axlyn yang tersemat di dalam hatinya.
“Ashlyn, kini aku telah menepati janjiku! Aku pergi sesuai keinginanmu, meski hati ini tidak pernah rela. Apakah kau bahagia sekarang? Aku harap begitu, jangan menangi lagi karena diriku karena aku tidak pantas untuk kau tangisi dan kau cintai,” batin Luca menatap kosong pada jendela pesawat yang ada di sampingnya.
“Aku merindukanmu,” gumam Luca tanpa sadar.
“Apa Ashlyn yang kau maksud?” tanya Levi yang tiba-tiba berpindah tempat duduk di sampingnya.
“Kenapa kau di sini? Bukankah seharusnya kau berada di samping adikku.” Luca sengaja mengalihkan topik pembicaraan.
“Adikmu sedang ingin bermanja-manja dengan Mamah dan Papah! Karena tidak ingin mengganggu, makanya aku pindah ke sini,” jelas Levi yang hanya tersenyum tipis saat menyadari bahwa Luca sedang mengalihkan dirinya dari topik pembicaraan mereka sebelumnya.
__ADS_1
“Tapi kau malah menggangguku,” gerutu Luca dengan raut wajah dinginnya yang terlihat sedikit kesal.
“Apa karena aku melihat rahasiamu,” goda Levi yang langsung mendapat tatapan mematikan dari Kakak Iparnya itu.
“Diamlah, sialan! Aku sedang tidak ingin di ganggu!” umpat Luca yang terlanjut kesal dengan kelakuan Levi.
“Haish, … Kau ini! Meskipun statusku adik iparmu, tapi secara usia aku ini lebih tua darimu, Sialan!” Levi pun tak tahan untuk membalas umpatan Luca padanya.
“Pergilah, duduk di tempat lain!”
Kali ini Luca bahkan berani mengusir Levi, bahkan mengabaikannya dengan berpura-pura tidur.
“Haish, … Sulit sekali untuk mengetahui hatinya,” gumam Levi yang hanya bisa menghela napas dengan kelakuan Luca.
Pada akhirnya keluarga Xavier telah mendarat dengan selamat di negara mereka. Mereka memutuskan untuk kembali ke kediaman Xavier untuk beristirahat lebih dulu sebelum memulai kembali aktivitas mereka seperti biasanya. Namun, tidak dengan Luca yang langsung menggunakan mobilnya menuju ke suatu tempat.
“Kak Luca, mau kemana?” tanya Lucia ketika melihat Kakaknya hampir masuk ke dalam mobil kesayangannya.
“Kakak ingin mengunjungi suatu tempat sebentar! Kau masuklah dan istirahat saja,” jawab Luca yang langsung masuk ke dalam mobilnya tanpa memperdulikan Lucia lagi.
“Hay, Axlyn! Bagaimana kabarmu di sana? Maaf, aku baru bisa mengunjungimu lagi,” ujar Luca seraya meletakan bunga lily di atas makam Axlyn.
“Axlyn, aku sudah bertemu dengan keluargamu! Mereka orang-orang yang sangat baik, terutama ibumu yang sangat hangat, …”
“Dan aku tidak menyangka bahwa adikmu, Ashlyn sangat mirip denganmu! Namun, sifat kalian berdua sungguh jauh berbeda. Kau itu wanita paling bar-bar dan menyebalkan yang pernah aku temui, lalu kau juga wanita yang berhasil membuatku jatuh cinta dan mematahkan hatiku di saat yang bersamaan, …”
“Tapi Ashlyn berbeda denganmu! Dia gadis yang ceria, penuh semangat dan pantang menyerah. Gadis yang sangat menyenangkan dan mengajarkan aku dalam hal baru dan dia juga cukup menggemaskan.” Luca mengakhiri ceritanya.
“Mereka juga sudah bertemu dengan Ayahmu! Akan tetapi, jujur saja aku tidak terlalu menyukai Ayahmu. Sejak aku berada di sana dia cukup menggangguku,” ungkap Luca.
“Dan satu hal lagi, aku harus mengakuinya kepadamu! Tanpa aku sadari, … aku malah melukai perasaan adikmu! Sikapku yang hanya ingin melindungi dan menjaganya malah membuatnya jatuh cinta kepadaku, …”
“Kau tahu sendiri ‘kan bahwa saat ini di hatiku masih ada dirimu! Jadi, aku tidak bisa memberikan harapan palsu kepadanya, …”
“Pada akhirnya aku memutuskan untuk pergi sesuai apa yang dia inginkan. Namun, sekarang aku malah merasa kehilangan dirinya! Aku ingin menjaga dan memperhatikannya, meski hanya dari kejauhan. Di sisi lain, aku tidak ingin membuatnya menangis lagi, …”
__ADS_1
“Apa yang harus aku lakukan, Axlyn?” tanya Luca yang kini duduk di samping makan Axlyn.
“Bahkan sampai di pikiranku hanya ada tentang adikmu,” lanjutnya.
“Jadi, kau juga mencintai Ashlyn?”
Sebuah suara mengejutkan Luca yang mengira dirinya hanya seorang diri di pemakaman pribadi milik keluarganya itu.
Luca pun segera berbalik untuk melihat siapa orang yang berani menginjakan kakinya di area kekuasaan keluarganya itu.
Siapa sangka suara itu ternyata berasal dari Jack, teman baik Axlyn dan saat ini menjadi anak buah kepercayaan Levi menggantikan posisi Axlyn.
“Jack!” Luca tak percaya dia akan bertemu lagi dengan pria itu.
“Iya, ini aku! Aku datang karena perintah dari Tuan muda Levi dan saat di jalan aku tidak sengaja melihatmu, maka dari itu aku mengikutimu sampai di sini!” jelas Jack, sedangkan Luca masih diam.
“Apakah itu makam Axlyn?” tanya Jack mengalihkan topik pembicaraan.
^^^Bersambung, ....^^^
...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...
...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari....
...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...
...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...
...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....
...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...
...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...
...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...
__ADS_1
...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...