Ashlyn, Bukan Cinta Pengganti

Ashlyn, Bukan Cinta Pengganti
Hilangnya Max & Matt


__ADS_3

Selesai pertemuan itu, Joshua langsung memerintahkan anak buah kepercayaannya untuk mengurus Matt dan Max yang di tinggal di negara ini.


Karena jika keduanya masih bebas, maka akan mempersulit mereka untuk memutuskan informasi dengan keluarga Xavier lainnya.


“Gery, bisakah kau memutuskan informasi yang terhubung antara Matt dan Max dengan keluarga Xavier?” perintah Joshua pada anak buah kepercayaannya.


“Tentu, Tuan! Saya akan melaksanakan perintah Tuan malam ini juga,” sahut orang bernama Gery yang langsung menyanggupi perintahnya.


“Bagus, aku percayakan mereka padamu!” ujar Joshua.


“Dan satu hal lagi! Kalian boleh memperlakukan keduanya sesuka hati, tapi jangan sampai mereka berhenti bernapas. Apa kau mengerti?”


Joshua menambahkan perintahnya yang secara tidak langsung menginginkan Matt dan Max di siksa sebagai pengkhianatan yang keduanya lakukan pada Luke.


“Tentu, saya sangat mengerti maksud anda,” sahut Gery yang menyeringai senang akan perintah itu.


“Kau boleh pergi sekarang!” ujar Joshua.


Gery dan beberapa anak buahnya pun segera meninggalkan markas itu untuk menjalankan perintah yang sudah mereka terima.


Kini di markas utama masih ada Joshua dan Simon yang tengah duduk santai sembari menikmati minuman mereka.


“Kapan kita akan memancing umpannya?” tanya Simon yang sudah tidak sabar melihat kematian Luca, anak yang telah membunuh calon menantunya yaitu Evan.


“Jangan terburu-buru! Bukankah tidak seru kalau kita langsung membunuhnya, setidaknya kita harus sedikit mempermainkannya lebih dulu sebelumnya mengirimnya ke neraka,” jawab Joshua sembari menyunggingkan senyumannya yang penuh arti.


“Kau benar! Rencana memang yang terbaik,” puji Simon dan Joshua hanya menunjukan seringainya.


Kini Gery sudah menggerakkan belasan anak buahnya untuk menyelesaikan tugas. Sejak awal mereka juga sudah melakukan pengawasan seperti yang Rayden perintahkan kepada anak buahnya.


Sehingga dia mengetahui dengan pasti lokasi keberadaan Matt dan Max serta mata-mata yang di perintahkan Rayden dan Levi secara diam-diam.


Saat ini, Matt dan Max sedang berada di dalam apartemen mereka sembari mempersiapkan rencana untuk besok.


Namun, siapa sangka tiba-tiba sekelompok orang mendobrak masuk pintu apartemen mereka dan langsung menyerang keduanya secara membabi buta.


Mereka yang tidak siap dengan penyerangan dadakan itu, tentu saja situasi mereka sangat terdesak. Bahkan kini Matt sudah terkena luka sayatan pada bagian lengan kirinya, sedangkan Max pada bagian dadanya.


“Siapa kalian? Apakah Joshua yang mengirim kalian untuk membunuh kami?” seru Max yang mencoba mengulur waktu untuk memulihkan tenaganya.

__ADS_1


“Jika sudah bisa menebaknya, kenapa kau harus menanyakannya lagi,” ujar Gery dengan santainya.


“Sialan, beraninya kalian keroyokan!” umpat Matt.


“Hahahaa, … Apakah itu penting sekarang? Namun, bukankah mafia memang selalu berkelompok dalam menyelesaikan misinya.”


Gery tertawa saking merasa lucu dengan cara berpikir Matt yang terdengar seperti anak polos yang tidak tahu apapun.


“Kalian tunggu apalagi, cepat tangkap mereka dan bawa ke markas kita!” perintah Gery yang tidak ingin membuang waktu untuk bermain-main sebelum penghuni apartment yang lain menyadari aksi mereka.


“Baik, Tuan!” sahut anak buah Gery yang kembali menyerang Matt dan Max, karena tidak mungkin keduanya mau mengikuti mereka secara baik-baik.


Pertarungan kembali terjadi di dalam apartemen itu, terlihat Max dan Matt yang sudah sangat terdesak dengan serangan anak buah Joshua itu.


Padahal Gery sendiri tidak terlibat dalam pertarungan itu, dia lebih memilih untuk menyaksikan pertarungan itu sembari memeriksa keadaan sekitar.


Hingga akhirnya Gery merasa sedikit bosan, karena Matt dan Max masih saja bisa bertahan dengan gempuran serangan yang anak buahnya lakukan. Tanpa ingin berlama-lama, Gery segera mengeluarkan senjata api dari balik jaketnya.


Dorr, … Dorrr, ….


Dua buah tembakan Gery arahkan pada Matt dan Max yang sedang serius menghadapi anak buahnya. Satu tembakan berhasil bersarang di bagian perut Matt, sedangkan satu tembakan lagi berhasil bersarang di bahu kanan Max.


“Kau tak apa?” tanya Max dengan penuh rasa khawatir.


“Setidaknya aku tidak akan langsung mati, karena tembakan ini!” jawab Matt yang semakin meringis kesakitan.


“Karena Tuanku tidak ingin membiarkan kalian mati dengan mudah!” seru Gery yang ternyata sudah berdiri tepat di depan Matt dan Max yang bersujud di bawahnya.


“Sialan kalian semua!” umpat Max penuh kemarahan, sayangnya tangan kanannya tidak bisa di gunakan untuk menyerang karena bahunya terkena luka tembak.


“Bawa mereka!” perintah Gery pada anak buahnya dan mengabaikan umpatan yang Matt dan Max terus lontarkan.


Matt dan Max pun di seret untuk ikut bersama mereka dan di kurung dalam sebuah ruangan yang adai di bawah tanah markas utama Death Lion. Baik Matt dan Max hanya mendapatkan perawatan sederhana atas luka tembak mereka.


Meski begitu, setidaknya mereka tidak perlu khawatir karena peluru yang sebelumnya bersarang di tubuh mereka sudah di ambil. Meski sisanya mereka harus bertahan dengan rasa sakit yang mendera dan meminum obat seadanya.


...****************...


Tiga hari telah berlalu, mata-mata Rayden dan Levi pun menyatakan bahwa Matt dan Max menghilang begitu saja. Namun, dari jejak yang di tinggalkan di apartemen keduanya mereka dapat menyimpulkan bahwa hilangnya Matt dan Max ada hubungannya dengan klan Death Lion.

__ADS_1


“Apa kalian masih belum bisa menemukan mereka?” tanya Rayden pada orang kepercayaannya yang masih tinggal di negeri H untuk mengawasi setiap pergerakan Simon dan Joshua.


“Iya, Tuan! Jika kami bergerak dengan gegabah, maka nasib kami sudah pasti jauh lebih mengerikan dari Matt dan Max,” jawab orang di seberang telepon itu.


“Haish, … Sialan! Jadi, ini rencana mereka yang ingin membuat putraku kembali seorang diri ke sana,” gumam Rayden yang merasa frustasi dengan ulah klan Death Lion.


“Kalian tetap awasi pergerakan mereka! Dan awasi juga Ashlyn, aku takut mereka akan menggunakan gadis itu sebagai umpan untuk memancing Luca datang mengantarkan nyawa dengan sendiri,” perintah Rayden.


“Baik, Tuan!” sahut pria di seberang sana.


Kemudian, Rayden menutup sambungan teleponnya secara sepihak.


Tidak berhenti di situ saja, Rayden juga memikirkan cara untuk mengatasi masalah itu dan cara untuk membuat Luca tidak menyadari tentang hilangnya Matt dan Max.


Sebab Rayden tahu persis bagaimana karakter putranya yang hampir sama persis dengan karakternya sendiri.


“Sepertinya aku harus mengirim beberapa orang lagi ke sana! Namun, aku tidak bisa mengirim Will karena akan menimbulkan kecurigaan pada Luca,” gumam Rayden yang memikirkan siapa kandidat terbaik yang bisa dia utus.


“Kalau Jaydon, dia terlalu jujur untuk membuatnya berbohong pada Luca. Jadi, pilihan terbaik saat ini hanya Felix,” sambungnya.


^^^Bersambung, ....^^^


...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...


...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari....


...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...


...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...


...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....


...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...


...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...


...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...


...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...

__ADS_1


__ADS_2