Ashlyn, Bukan Cinta Pengganti

Ashlyn, Bukan Cinta Pengganti
Akhirnya Di Maafkan


__ADS_3

“Hay, Nak! Bisakah kau membantuku memukul pantat bocah nakal ini? Beraninya bocah tengik ini mengancam Papahnya sendiri,” ujar Rayden pada Leo yang sejak tadi tertunduk sedih melihat keharmonisan Luca dengan Papahnya, sedangkan Leo sudah tidak memiliki Papah lagi.


“Apa boleh, Paman?” tanya Leo ragu.


“Tentu saja! Paman sendiri yang meminta padamu, bukan?” jawab Rayden dengan penuh keyakinan.


“Kalau begitu aku tidak akan sungkan lagi, Paman!” seru Leo memperlihatkan senyuman indahnya.


“Yakh, … Jangan pernah sentuh pantat berhargaku!” pekik Luca yang mulai panik melihat kerjasama keduanya untuk membully dirinya.


Plak, … Plak, …


Leo pun beberapa kali memukul pantat Luca dengan gemas. Rayden dan Leo pun tertawa bahagia di atas penderitaan pantat Luca. Apalagi Luca tidak bisa menghindarinya, karena Papahnya tidak mau menurunkan tubuhnya dari gendongannya.


Setibanya di rumah sakit mereka yang terluka langsung mendapatkan perawatan. Ashlyn, Max, Matt dan Vinno bahkan sudah mendapatkan perawatan yang semestinya sesuai luka masing-masing.


Rayden memeriksa ke empatnya satu persatu, karena mereka memang di tempatkan di ruangan yang berbeda-beda.


Waktu dirinya berkunjung semua tengah dalam pengaruh obat tidur, sehingga Rayden hanya menanyakan keadaan mereka pada dokter yang menangani.


Kemudian, dia kembali ke ruangan putra sulungnya, dimana Luca tengah di kunjungi oleh keluarga Gustavo. Namun, Rayden tidak begitu khawatir ketika melihat ada Levi yang selalu berada di samping putra sulungnya.


“Pah!” panggil Luca begitu melihat Papahnya baru saja masuk ke dalam ruangan rawatnya.


“Tuan Xavier!” ujar Simon membungkuk sebagai tanda hormat dan sapaan formal, di ikuti oleh Joana dan juga Leo. Sehingga Rayden harus ikut membungkuk untuk membalas sapaan tersebut.


“Tuan Simon, ada maksud apa anda mendatangi putra saya?” tanya Rayden yang tak ingin membuang waktu dengan basa basi.


“Maksud kedatangan kami hanya untuk meminta maaf atas kejadian sebelumnya. Kami sungguh menyesal, terutama saya sendiri karena keegoisan saya banyak orang yang terluka dan mati tanpa alasan yang jelas,” ucap Simon penuh penyesalan.


“Dan kami juga ingin menyampaikan rasa terima kasih kami yang begitu mendalam, terutama untuk Luca. Sebab meski kalian membenci kami, tapi kalian tetap menyelamatkan kami semua dalam pertarungan itu,” sambung Simon.


“Tunggu dulu! Kalian hanya akan meminta maaf dan berterima kasih seperti ini saja?” Rayden segera menyela pembicaraan.


“Papah, ….” Luca mencoba mengingatkan Papahnya, tapi ucapannya kembali terpotong oleh Simon.


“Aaah, … Katakan saja apa yang anda inginkan, Tuan Xavier! Kami pasti akan melakukannya dengan senang hati untuk anda,” ujar Simon yang mengerti maksud perkataan Rayden.

__ADS_1


“Undang kami sekeluarga pada jamuan makan malam di kediaman kalian. Bagaimana? Apa kalian mau menyambut kedatangan kami dengan senang hati dan lapang dada?” ujar Rayden seraya menunjukan senyuman hangatnya.


Mendengar penjelasan Rayden, akhirnya Luca dan Levi bisa bernapas dengan lega. Mereka sempat mengira bahwa Rayden akan memperpanjang masalah yang seharusnya telah selesai dan bahkan bisa menutup kejadian tragis di masa lalu.


Simon, Joana dan Leo pun turut merasa lega sebab kali ini mereka akhirnya bisa berteman satu sama lain. Tanpa terikat adanya kejadian di masa lalu.


“Tentu saja, Paman! Datanglah ketika Luca sudah membaik, kami sekeluarga mengundang anda semua untuk jamuan makan malam. Sekalian aku ingin menyombongkan betapa lezatnya masakan Mamahku ini!” seru Leo dengan penuh antusias.


“Leo, ….” Joana menjadi tersipu malu karena ucapan putranya.


“Seperti yang cucuku katakan! Kami sekeluarga akan menanti kedatangan kalian dengan senang hati,” imbuh Simon membenarkan apa yang Leo katakan sebelumnya.


“Tentu, kami sekeluarga pasti akan datang! Tolong siapkan masakan yang enak seperti yang bocah tengil ini janjikan,” ujar Rayden menunjuk pada Leo yang kini terlihat seperti anak kecil di matanya.


“Kami tidak akan mengecewakan Tuan Xavier sekeluarga,” balas Simon.


“Kalau begitu kami akan pamit pulang sekarang, karena sepertinya Luca membutuhkan banyak istirahat!” pamit Simon yang tidak ingin mengganggu istirahat Luca.


“Baiklah, mari saya antar sampai di depan!” ujar Rayden dengan penuh keramahan dan kehangatan seolah tidak pernah terjadi hal buruk di antara kedua keluarga tersebut.


Awalnya Levi membiarkan saja ketika melihat Luca turun dari ranjangnya, karena mengira bahwa dia akan pergi ke kamar mandi.


Namun, Luca malah berjalan ke arah pintu keluar. Sehingga Levi langsung menghentikannya dan bertanya, “Mau kemana? Kondisimu masih belum pulih.”


“Yaah, … Aku tidak terluka parah, apalagi habis melahirkan! Jangan bertingkah seperti suami yang siap siaga, nanti saja ketika Lucia melahirkan!” celetuk Luca yang seketika membuat Levi kesal dan menjitak kepalanya.


Ctakk, ….


“Yakh, … Sakit tahu!” berang Luca sembari memegangi kepalanya yang terkena jitakan tangan Levi.


“Makanya kalau punya mulut di jaga! Selama ini bersikap seolah pria dingin yang pendiam, tapi begitu membuka mulut isinya sampah semua,” sindir Levi.


“Kau, _...”


“Kau mau pergi kemana? Katakan padaku, biar aku mengantarmu,” potong Levi menyudahi perdebatan mereka.


“Aku bisa sendiri,” tolak Luca.

__ADS_1


“Kau tanggung jawabku selama Papah tidak ada di sini! Jadi, aku harus selalu mengawasi mu,” jelas Levi bersikeras dengan ucapannya.


“Aku ingin melihat keadaan Max dan Matt! Paman Vinno juga dan terutama Ashlyn,” ungkap Luca yang tahu bahwa dirinya tidak akan menang berdebat Dengan Levi.


“Baiklah, aku akan menunjukan ruangan Ashlyn padamu!” ujar Levi yang membantu Luca membukakan pintu.


“Aku ingin ke tempat Max dan Matt dulu,” pinta Luca dengan tatapan bingung dengan perkataan Levi yang hanya ingin menunjukan ruang rawat Ashlyn saja.


“Matt dan Max masih berada di ruang rawat intensive, karena mengalami infeksi serius pada luka tembaknya. Sedangkan Vinno, aku yakin kau tidak akan bicara apapun padanya. Jadi, bukankah lebih baik kalau kau mengunjungi Ashlyn saja lebih dulu,” jelas Levi.


“Pasti banyak yang ingin kalian berdua bicarakan, bukan?” sambung Levi yang sangat mengerti dengan apa yang Luca rasakan dan pikirkan saat ini.


Levi tidak perlu mendengarkan jawaban dari Luca, karena dia sudah bisa menebaknya sendiri. Levi pun memimpin jalan untuk menunjukan kamar Ashlyn berada.


Dan siapa sangka kamar itu merupakan kamar yang pernah Lucia tempati saat pertama kali datang ke negara H dan mengeluh perutnya sakit.


“Masuklah! Sepertinya Alicia sedang berada di ruangan rawat Bu Hanna,” ujar Levi mempersilahkan Luca untuk masuk sendirian, sedangkan dia kan menunggunya di depan pintu saja karena Rayden pasti akan mencari keberadaan mereka.


^^^Bersambung, ....^^^


...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...


...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari....


...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...


...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...


...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....


...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...


...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...


...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...


...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...

__ADS_1


__ADS_2