
Melihat Leo yang sudah sadar lebih awal dari perkiraannya, Josh pun langsung melontarkan tatapan tajamnya kepada Rio. Jika menggunakan obat bius yang dia berikan, seharusnya Leo dan pengawalnya itu akan sadar sekitar 3 jam lagi.
“Lihatlah, apa yang kau perbuat sialan!” batin Josh yang melontarkan tatapan tajamnya pada Rio, karena tidak melakukan sesuai perintahnya.
Sedangkan di sisi lain, Rayden akhirnya meninggalkan Jaydon, Ryuga dan Rayga untuk mengurus para hama yang mencoba menghambat perjalanan mereka.
Sedangkan Rayden, Levi, Felix dan Regis kembali melanjutkan perjalanan menuju lokasi menurut alat pelacak yang terpasang di kalung Luca.
“Sialan, sudah aku duga semua ini adalah jebakan yang di persiapkan oleh bajingan tengik itu!” umpat Rayden dengan penuh kemarahan yang membara.
“Tuan, sebaiknya anda dan yang lainnya lanjutkan perjalanan saja! Biarkan saya yang mengurus sisanya di sini,” ujar Jaydon menyarankan.
“Baiklah, lakukan seperti biasanya!” Rayden langsung menyetujuinya.
“Ryuga dan Rayga, kalian berdua tetap di sini untuk membantu Jaydon! Jangan buat masalah lain,” perintah Rayden kepada dua putranya itu sekaligus memberikan peringatan agar tidak terlalu berlebihan.
“Siap, Pah!” sahut Ryuga dan Rayga bersamaan.
“Sisanya ikuti aku untuk melanjutkan perjalanan!” seru Rayden.
Setelah itu, Rayden dan yang lainnya kembali melanjutkan perjalanan menuju lokasi yang di tunjukan oleh alat pelacak dengan Regis yang bertugas mengarahkan jalannya.
Levi sebagai supirnya, sedangkan Rayden dan Felix sebagai penumpang sekaligus petugas pengaman jalan bagi para musuh yang nekad menghentikan mereka. Tentunya di bantu oleh Ryuga dann Rayga yang membantu membuka jalannya.
Sepeninggalan Rayden Cs, sejenak Jaydon menghentikan pertarungannya untuk memastikan sesuatu.
Ryuga dan Rayga yang memang lahir setelah Jaydon memutuskan untuk mengabdikan dirinya kepada keluarga Xavier, tentu saja tidak mengetahui apapun tentang Evan dan klan mafianya.
“Tunggu sebentar! Sebelum kita melanjutkan pertarungan ini dan kalian mati di tanganku. Aku ingin memastikan, kalian semua ini anak buah Simon atau Joshua?” tanya Jaydon dengan serius.
“Paman, apakah penting menanyakan hal seperti itu di saat genting ini?” Rayga tak habis pikir dengan tujuan Jaydon menanyakan itu.
“Tentu saja, sangat penting! Jika mereka adalah anak buah Simon, maka aku tidak akan membunuhnya. Mengingat dulu Paman pernah menjadi teman sekaligus orang kepercayaan Evan sebelum kejadian itu terjadi,” jelas Jaydon yang sampai sekarang masih menyesali semuanya yang telah terjadi.
“Jadi, anda benar-benar Tuan Jaydon?” tanya salah satu anak buah itu memberanikan diri untuk memastikan bahwa dia tidak salah mengenali orang.
“Apa kau ingat denganku?” tanya Jaydon balik.
__ADS_1
“Tentu saja! Tuan yang menyuruh kami untuk menjalani hidup sesuai keinginan kami, setelah Tuan Evan meninggal dunia!” jelas orang tadi.
“Begini saja! Yang mereka anak buah Simon berdiri di sisi itu, sedangkan untuk anak buah Josh tetap di tempat!” perintah Jaydon memberikan arahan.
Benar saja, sebagian dari mereka mengikuti arahan Jaydon untuk Pindak ke tempat yang di tunjuk. Sedangkan sebagian besar lainnya masih berada di tempatnya masing-masing dengan tatapan bingung, menimbang apakah perkataan Jaydon serius atau hanya sebuah bualan saja.
“Aah, … Jadi, penyergapan ini atas rencana bajingan sialan itu!” gumam Jaydon di sertai senyumannya yang penuh arti.
“Ryuga! Rayga, waktunya berpesta telah tiba!” seru Jaydon menandakan mereka sudah bia lanjutkan pertarungan.
“Kita adu skill! Siapa yang paling banyak membunuh hari ini, maka Paman aku membelikan motor sport keluaran terbaru dan edisi terbatas!” sambung Jaydon.
“Let’s go, Uncle Jay!” teriak Rayga penuh semangat membara.
Paman dan keponakan itu pun adu skill, siapa yang membunuh paling banyak. Maka akan mendapatkan sebuah motor sport keluaran terbaru. Rayga yang memang sangat menyukai arena balapan tentu saja yang paling antusias untuk memenangkan adu skill tersebut.
...****************...
Kembali pada situasi dimana Simon menyuruh cucunya sendiri untuk membunuh Luca. Tentunya, Leo akan merasa ragu untuk melakukannya.
Janji yang sudah dia buat dengan Mamahnya, lebih penting di bandingkan dengan balas dendam yang ujung-ujungnya tiada habisnya.
“Tentu saja untuk membalas dendam atas kematian Ayahmu, Leo! Lihatlah, Kakek berhasil membuatnya bertekuk lutut. Maka tugasmu sekarang adalah membunuhnya dengan tanganmu sendiri,” jawab Simon sambil menunjukan seringainya.
“Tidak, Kakek! Leo tidak bisa melakukannya lagi.” Leo menolaknya dengan tegas.
“Janji yang aku ucapkan kepada Mamah, lebih penting di bandingkan balas dendam yang tiada akhirnya ini! Kakek dan bajingan ini saja yang lakukan, Leo tidak ingin terlibat lagi,” sambung Leo membuat Kakek Simon langsung terdiam.
“Wahh, … Ini menjadi semakin menarik saja,” batin Josh menyeringai senang.
“Leo, semua ini Kakek lakukan untukmu!” seru Simon menyakinkan cucunya.
“Leo tidak pernah memintanya, Kakek! Leo sudah cukup bahagia hidup bersama dengan kalian berdua selama ini,” tukas Leo yang tetap pada keputusannya.
“Jika kau tidak mau membunuhnya, maka gadis malang itu yang akan mati tepat di depan matamu!” Josh yang tidak mau buang waktu lagi mengancam Leo dengan menggunakan Ashlyn.
“Bajingan tidak tahu malu! Jika kau memang ingin membunuhku, maka bunuh saja aku! Jangan mengotori tangan anak yang tidak tahu apapun!” umpat Luca yang semakin di penuhi kemarahan.
__ADS_1
Belum cukupkah Ashlyn di libatkan dan sekarang Leo, anak polos yang tidak tahu apapun tentang masa lalu ayahnya.
“Silahkan pilih keputusannya! Kau yang membunuh Luca atau Rio yang akan membunuh gadis malang itu! Aku sama sekali tidak memaksa pilihanmu, tapi aku pemegang batas waktunya!” ujar Josh mengabaikan umpatan Luca yang di tunjukan padanya.
“Ambil senjata ini dan bunuh Luca! Atau buang senjata ini dan golok di tangan Rio akan memisahkan kepala gadis itu dari tubuhnya.”
Josh mengeluarkan sebuah senjata api dan memberikannya kepada Leo. Sejenak Leo menatap Luca dan Ashlyn secara bergantian seolah meminta jawaban dari keputusan yang akan dia mabil nantinya. Namun, keduanya memberikan jawaban yang berbeda.
Dimana Luca tidak masalah, jika Leo membunuhnya. Sedangkan Ashlyn tidak menginginkan hal itu, lebih baik dia mati dari pada menghilangkan nyawa pria yang dia cintai dan mengotori tangan sahabat baiknya dengan darah pria tercintanya.
“Pilihan yang sangat bagus, Leo!” puji Josh yang tersenyum penuh kemenangan.
Ternyata Leo lebih memilih mengambil senjata itu dan berjalan menghampiri Luca yang masih berlutut. Meski di hadapkan dengan kematian, Luca malah tersenyum bangga dengan keputusan yang Leo pilih.
Kini Leo sudah berdiri tepat di depan Luca yang masih berlutut sambil memegang senjata pemberian dari Josh.
“Tidak apa-apa, Leo!” ucap Luca pasrah akan takdirnya.
^^^Bersambung, ....^^^
...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...
...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari....
...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...
...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...
...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....
...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...
...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...
...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...
...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...
__ADS_1