
“Apakah terlihat begitu jelas?” gumam Luca yang langsung mencari cermin untuk memastikan ucapan Levi.
Tak berselang lama Rayden, Zhia, Noland dan Julia tiba di rumah sakit dengan membawa berbagai macam menu makanan sehat.
Rayden yang lainnya sengaja tidak sarapan saat masih berada di Villa, karena mereka memang ingin sarapan bersama di rumah sakit.
“Kau sudah siap, Luca?” tanya Rayden setelah mereka selesai sarapan.
“Emm, … Luca sudah siap, Pah!” jawab Luca menyakinkan pada dirinya sendiri.
“Benar! Siap tidak siap kau harus tetap menghadapinya, tapi jangan khawatir karena kami semua selalu ada di sampingmu,” ujar Noland yang menyemangati Luca.
“Mah! Pah, tapi Lucia yang belum siap! Lucia belum mandi maupun cuci muka, bagaimana ‘dong?” rengek Lucia hanya karena sebuah penampilan.
“Kamu tetap cantik, Sayang! Meskipun tidak cuci muka maupun mandi.”
Sebagai suami yang baik, tentu saja Levi akan memuji istrinya dalam keadaan apapun. Apalagi menghadapi istri yang super sensitive karena hormone kehamilannya membuat Levi harus sering-sering memujinya.
“Bohong! Kau pasti mengatakan itu karena aku istrimu, bukan?”
Namanya juga bumil yang perasaannya sangat sensitive, sehingga dia tidak mempercayai apa yang di katakan oleh suaminya dan menginginkan penilaian dari orang lain.
Beruntung, Rayden sudah sangat berpengalaman menghadapi sifat sensitive bumil, dia belajar banyak dari kehamilan Zhia ketika mengandung Triple R.
“Sayang, mana mungkin aku berbohong padamu. Kau memang sangat cantik dalam keadaan apapun.”
Levi mencoba menyakinkan, tapi sepertinya Lucia sama sekai tidak mau mempercayainya.
“Ya sudah, kau bersiap saja sekarang sambil menunggu Will dan yang lainnya datang!” ujar Rayden yabg menyuruh Lucia untuk melakukan apapun yang bisa membuatnya merasa cantik.
“Levi, bantu Lucia untuk bersiap saja sana!” perintah langsung Rayden tunjukan kepada Levi.
“B-baik, Pah!” sahut Levi yang hanya bisa menurut.
Setelah itu, Levi pun membantu Lucia menuju ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Tak lama, kemudian Will dan yang lainnya datang secara bersamaan hingga membuat ruang rawat Lucia menjadi penuh.
Sambil menunggu Lucia selesai merias dirinya, Will dan yang lainnya pun sedikit membicarakan tentang hasil tugas masing. Tentunya mereka tidak sepenuhnya membahas mengenai situasi yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
...****************...
Disisi lain, Ashlyn yang menjadi lebih pendiam setelah kedatangan Vinno atau ayah kandung semalam membuat suasana pagi hari di ruang rawat Bu Hanna menjadi sangat suram. Bahkan Ashlyn melewatkan sarapan yang telah di siapkan oleh Alicia seperti biasanya.
“Aku berangkat sekarang, Bu!” pamit Ashlyn tanpa melihat kea rah ibunya sama sekali.
“LynLyn, apa kau tidak sarapan dulu?” seru Bu Hanna yang mencoba menghentikan Ashlyn dan menyuruhnya untuk makan.
Sayangnya, Ashlyn menulikan telinganya dan berjalan keluar begitu saja tanpa menyahut, bahkan tanpa menoleh sedikitpun.
Bu Hanna pun hanya bisa menghela napas dengan berat melihat putrinya yang terlihat jelas sedang sangat tertekan itu, sedangkan Alicia hanya dia melihat sikap Kakaknya sangat berubah dari biasanya.
Ashlyn terus berjalan cepat sambil menahan tangisnya. Hingga sampai di parkiran motornya, gadis itu kembali menangis tersedu-sedu tanpa memperdulikan orang lain yang kini menatapnya.
Ashlyn sudah tidak peduli lagi kalau dia menjadi pusat perhatian orang-orang yang berada di sana. Sebab yang dia butuhkan adalah pelampiasan untuk mengeluarkan isi hatinya yang membuatnya merasa sangat sesak yaitu dengan cara menangis.
“Hiks, … Hiks, … Maafkan aku, Bu! Maafkan, Ashlyn! Hiks, … Ashlyn belum sanggup untuk menceritakan segalanya kepada Ibu dan Alicia!” ujar Ashlyn di sela isak tangisnya.
“Hiks, … Kenapa hidupku terasa lebih berat dari sebelum aku mengenalnya?”
“Mengapa Tuhan? Hiks, … Mengapa harus aku dan keluargaku yang selalu menderita, terluka dan tersakiti? Hiks, …Ugh, … Mengapa begitu sakit dan sangat menyesakkan?”
Ashlyn terduduk menangis terisak di samping sepeda motornya. Setelah merasa cukup tenang, dia pun berjalan menuju taman yang ada di area rumah sakit untuk sekadar menghirup udara segara atau pun berusaha menghilangkan sedikit kesedihan dan rasa sakit di hatinya.
...****************...
Sementara itu, sepeninggal Ashlyn terlihat Alicia sedikit ragu untuk membicarakan tentang Kakaknya dan juga tentang kedatangan Ayah mereka semalam.
Namun, pada akhirnya Alicia memberanikan diri untuk mengutarakan apa yang ada di hatinya kepada sang Ibu.
“Apakah Kak Ashlyn benar-benar sangat membenci Ayah, hingga dia sampai bersikap seperti itu, Bu?” tanya Alicia pada sang Ibu.
“Sepertinya begitu! Lalu bagaimana dengan pendapatmu, Alicia?” Bu Hanna pun tidak lupa menanyakan pendapat putri sulungnya itu.
“Alicia tidak tahu, Bu!” jawab Alicia yang memang terlihat jelas perasaan bingung dari raut wajahnya.
“Disisi lain, Alicia merasa sangat bahagia karena Ayah yang selama ini Alicia rindukan telah kembali. Akan tetapi, pada sisi yang lain Alicia merasa begitu marah. Mengapa Ayah baru muncul sekarang? Seharusnya Ayah selalu ada bersama kita dalam keadaan apapun!” sambung Alicia yang menyuarakan isi hatinya.
__ADS_1
“Ayahmu memiliki alasan untuk itu, Alicia! Dan Ibu pun mengetahuinya, karena itulah Ibu selalu berkata bahwa Ayah kalian sebenarnya sangat mencintai kalian semua meskipun dia tidak selalu ada bersama kita,” jelas Bu Hanna yang tidak ingin Alicia juga membenci ayahnya sendiri seperti Ashlyn.
“Tetap saja Ayah bersalah, karena meninggalkan kita begitu saja!” seru Alicia yang tetap ingin menyalahkan Ayahnya.
“Jika memang harus ada yang di salahkan, maka Ibu ‘lah yang sangat bersalah pada kalian, _....”
“Tidak, Hanna! Seperti yang di katakan oleh putri kita, aku memang sangat bersalah kerena meninggalkan kalian begitu saja hanya untuk sebuah kekuasaan yang bisa kapan saja hancur dan menghilang dengan mudahnya.”
Vinno tiba-tiba muncul dan memotong ucapan Hanna. Kini Vinno berjalan mendekati Hanna yang masih duduk di ranjang rumah sakit.
Ternyata Vinno sudah datang ke rumah sakit pagi-pagi sekali, tapi dia mengurungkan niatnya untuk menemui Hanna dan Alicia lagi karena masih ada Ashlyn yang berada di dalam ruangan itu.
Sehingga Vinno memutuskan untuk menunggu sampai Ashlyn pergi, hingga dia bisa memiliki kesempatan untuk menjelaskan kepada Alicia dan Hanna apa yang terjadi.
“Vinno!” seru Hanna dengan tatapan tak percaya bahwa pria yang selama ini sangat dia rindukan kini berada tepat di hadapannya.
“Iya, Sayang! Kini aku yang datang padamu dan aku berjanji tidak akan meninggalkanmu lagi ataupun menyuruhmu untuk menjauh seperti sebelumnya,” ujar Vinno yang menggenggam tangan Hanna dengan erat, bahkan berulang kali mengecup tangan kecil wanita yang selalu mengisi hati dan pikirannya itu.
^^^Bersambung, ....^^^
...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...
...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari....
...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...
...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...
...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....
...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...
...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...
...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...
...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...
__ADS_1