
“Jadi, itu alasan Ibu kenapa selalu mengatakan kepada kami untuk tidak membenci Ayah?” tanya Alicia memastikan apa yang sudah dia simpulkan di dalam hatinya.
“Benar, sayang! Karena Ibu sangat mengetahui bahwa Ayah kalian tidak akan pernah melupakan kita,” jawab Hanna memberikan keyakinan pada putri bungsunya.
“Lalu kenapa Ayah tidak pernah sekalipun menemui kita? Bahkan ketika Ibu mulai jatuh sakit, Ayah tidak pernah sekalipun membantu kita membayar biaya pengobatan Ibu. Apa Ayah tahu betapa menderitanya Kak Ashlyn untuk mendapatkan uang demi biaya pengobatan Ibu dan sekolahku!”
Alicia mulai mencecar dan menuntut penjelasan sekaligus tanggung jawab Vinno sebagai seorang suami sekaligus seorang ayah dari tiga orang putri.
Jika memang Vinno tidak pernah melupakan tentang mereka, seharusnya dia bisa menyuruh seseorang untuk tetap mengawasi dan setidaknya tetap memberikan nafkah kepada istri dan anaknya.
“Aku selalu melakukan itu! Memerintahkan seseorang untuk tetap mengawasi dan melindungi kalian serta mengirimkan uang setiap bulannya, hingga beberapa hari lalu aku baru mengetahui bahwa orang itu mengkhianatiku,” ujar Vinno yang tampak kesal mengingat tentang orang yang sedang dia bicarakan.
“Jadi itu alasan aku tidak pernah lagi menerima uang darimu selama beberapa bulan ini,” sahut Hanna yang perlahan mulai mengerti kenapa dia tidak mendapat transferan uang lagi dari Vinno.
Di tambah dengan penyakit yang mengharuskan dirinya tetap di rawat di rumah sakit membuat Hanna tidak bisa pergi menemui Vinno secara langsung. Bahkan Hanna sempat berpikir bahwa mungkin Vinno sudah bosan dengan dirinya.
“Maafkan aku! Seharusnya aku menyadarinya lebih awal, sehingga kau dan anak-anak menjadi hidup menderita seperti ini, …”
“Aku bahkan tidak mengetahui bahwa kau sedang sakit seperti ini! Seharusnya aku tidak percaya begitu saja dengan apa yang bajingan itu laporkan padaku.”
Sesal Vinno begitu mendalam sampai hatinya terasa begitu sesak, bila mengingat Hanna dan putrinya sedang berjuang mendapatkan uang sedangkan dirinya selalu bersenang-senang.
Penyesalan memang selalu datang terlambat dan Vinno tidak akan pernah bisa memutar balikan waktu. Dia hanya bisa memperbaiki semua yang telah terjadi, menjadi ayah dan suami yang lebih baik lagi untuk kedepannya.
“Tunggu! Bagaimana dengan Kak Axlyn? Saat itu Kak Axlyn berjanji untuk pergi mencari dan membawamu kembali pada kami. Kau sudah berada di sini? Lalu dimana Kak Axlyn?” cecar Alicia yang langsung teringat dengan Kakak sulungnya.
Dia bahkan mengabaikan penjelasan Vinno atas pertanyaannya yang sebelumnya. Yang ada di pikiran Alicia saat itu seketika hanya tertuju pada Axlyn, Kakak sulungnya yang tidak pernah kembali lagi setelah berpamitan untuk mencari keberadaan ayah mereka.
Sedangkan Hanna hanya bisa menatap bingung ayah dan anak itu secara bergantian. Pasalnya yang Hanna ketahui terkait kepergian Axlyn adalah untuk bekerja di luar kota agar bisa membantu keuangan mereka, bukan untuk mencari keberadaan Vinno.
“Licia, bukankah Axlyn selama ini pergi bekerja di luar kota? Apakah kalian bertiga membohongi Ibu selama ini?” Kini Hanna yang menuntut penjelasan dari Alicia.
“I-Ibu, _....”
__ADS_1
“Hanna, sebenarnya Axlyn sempat hidup bersama denganku selama beberapa tahun. Tapi sekarang, _....”
Vinno terpaksa menggantung perkataannya, sebab dia tidak sanggup menyampaikan kabar tentang kematian putri sulungnya dengan mulutnya sendiri.
Bahkan membayangkannya saja, Vinno sudah bisa menebak betapa hancurnya hati Hanna sebagai seorang Ibu saat mendengar kabar tentang kematian anaknya.
“Sekarang apa, Vinno?” desak Hanna yang tidak sabar untuk mendengar apa yang sebenarnya terjadi pada putri sulungnya yang tidak dia ketahui selama ini.
“Maaf, sepertinya hanya kami yang bisa menjawab soal pertanyaan anda!” ujar seorang pria, setelah terdengar suara pintu perlahan mulai terbuka.
Ternyata itu suara Rayden yang tiba-tiba muncul bersama dengan seluruh anggota keluarganya, termasuk Lucia yang sedang hamil besar.
Baik Hanna maupun Alicia terlihat sangat terkejut, karena Luca berada di antara keluarga Xavier yang baru kemarin mereka saling berkenalan.
“Nak Luca! Ternyata kau, _....” Saking terkejutnya Hanna sampai tak sanggup menyelesaikan ucapannya.
“Iya, Bu! Saya merupakan salah satu dari keluarga Xavier. Ini orang tua saya, Papah Rayden dan Mamah Zhia. Adik kembar saya, Lucia dan suaminya Levi serta ketiga adik saya Ryuga, Rayga dan Regis. Dan mereka adalah Grandpa Noland dan Grandma Julia, Kakek dan Nenek saya.”
“Lalu mereka adalah Paman saya, Paman Will! Paman Felix dan Paman Jaydon,” lanjut Luca yang tidak lupa memperkenalkan trio somplak sebagai pamannya.
“Jadi selama ini Kak Luca menyembunyikan identitas Kakak dari Kak Ashlyn!” seru Alicia yang ternyata selalu menjadi tempat curhat Ashlyn ketika membicarakan Luca.
“Sa-saya tidak bermaksud untuk itu, _...”
“Tunggu! Jelaskan lebih dulu mengapa Tuan Rayden tadi mengatakan bahwa hanya kalian yang bisa menjawab tentang keberadaan putriku, Axlyn? Kalian tidak menganggap bahwa Ashlyn adalah Axlyn, bukan?” potong Bu Hanna yang menuntut penjelasan.
“Tidak! Kami sudah tahu bahwa mereka berdua berbeda, Nyonya!” jawab Rayden.
“Biar putra saya yang akan menjelaskannya pada anda,” sambung Rayden yang melimpahkan sisanya kepada Luca seperti yang sudah mereka sepakati.
“Nak Luca, ada apa?” tuntut Hanna yang tidak sabar untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Luca yang langsung bersujud saat itu juga di ikuti oleh yang lainnya, kecuali Lucia yang menggunakan kursi roda.
__ADS_1
Awalnya Hanna terkejut dan ingin menghentikan aksi Luca dan keluarga Xavier itu, karena merasa tidak pantas dirinya di perlakukan seperti itu oleh keluarga terhormat.
Akan tetapi, Hanna langsung terdiam ketika Luca berkata, “Sebelumnya saya dan keluarga memohon maaf yang sebesar-besarnya, karena tidak bisa menjaga dan melindungi Axlyn dengan baik. Saya dan keluarga juga mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya, karena berkat pengorbanan Axlyn saya bisa berdiri untuk meminta maaf dan menyampaikan kabar ini kepada anda sekeluarga secara langsung.”
“A-apa yang sebenarnya ingin kalian katakan padaku?”
Suara Hanna hampir tercekat, matanya sudah berlinang air mata dan perasaannya sudah merasa sangat buruk.
Seakan dia bisa merasakan adanya badai besar yang akan mengguncang hati dan jiwanya hingga tak tersisa.
“Kami sungguh menyesal dan dengan sangat terpaksa harus menyampaikan kabar duka ini, bahwa sebenarnya Axlyn telah meninggal dunia sejak enam bulan yang lalu. Dia meninggalkan karena menyelamatkan diriku,"
"Aku sungguh sangat minta maaf, karena tidak bisa melindunginya dengan baik sebagai seorang pria. Aku tidak bisa menyelamatkannya, Hiks, …” ungkap Luca yang mulai terisak, karena tidak dapat menahan tangisnya lagi.
^^^Bersambung, ....^^^
...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...
...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari....
...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...
...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...
...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....
...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...
...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...
...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...
...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...
__ADS_1