
Perkataan Ashlyn semakin menjadi, hingga membuat Luca merasa sangat marah mendengarnya. Entah marah karena Ashlyn mengatakan hal seperti itu tentang Axlyn atau marah karena gadis itu sangat merendahkan dirinya seperti itu.
Luca pun tidak tahu dia marah dengan alasan yang mana, dia hanya merasa dia ingin meledak saja karena amarah itu.
“Hentikan! Sudah berulang kali aku tegaskan bahwa kau bukanlah pengganti siapapun!” seru Luca sedikit membentak ketika mengatakannya.
“Tentu saja! Karena Axlyn adalah wanita yang sangat kau cintai, sedangkan aku adalah wanita yang kau kasihani, bukan?” tukas Ashlyn tak kalah membalas berteriak pada Luca.
“Saat ini aku benar-benar sadar diri dengan posisiku di matamu, karena itulah berhenti menemuiku. Jika memungkinkan menghilang ‘lah dari hadapanku selamanya,” lanjut Ashlyn menekankan setiap kata yang dia ucapkan.
Suasana kembali hening ketika Luca tidak membalas perkataan Ashlyn, keduanya hanya saling menatap tanpa sepatah kata pun.
Terlihat jelas dari sorot mata Ashlyn bahwa gadis itu sangat kecewa dengan pria yang berada di hadapannya.
Berbeda dengan Luca yang tatapannya sangat sulit di artikan, tapi yang jelas tersirat sebuah kesedihan, penyesalan dan takut kehilangan dengan sosok wanita yang saat ini tengah menatapnya.
Cukup lama keduanya saling diam dan menatap, hingga tanpa terasa Luca menitikkan air matanya yang membuat Ashlyn cukup terkejut.
Tidak ingin hatinya kembali goyah lagi, Ashlyn pun memutuskan untuk meninggalkan Luca begitu saja yang masih mematung di tempat.
Luca hanya bisa memejamkan kedua bola matanya ketika Ashlyn berlalu begitu saja melewati dirinya.
“Begitu bencikah kau padaku, Ashlyn?” gumam Luca di sertai butiran air mata yang kembali jatuh membasahi pipinya.
Namun, tiba-tiba dering ponselnya membuatnya tersadar bahwa dirinya sedang menangis di tempat umum. Dengan cepat Luca pun menghapus sisa air matanya dan menerima panggilan masuk yang ternyata berasal dari Will.
Sempat Luca melihat bahwa Regis beberapa kali mencoba menghubunginya, tapi Luca hiraukan karena pembicaraannya dengan Ashlyn lebih penting.
“Ada apa, Paman?” tanya Luca langsung menanyakan tujuan Will menghubunginya.
“Luca, Paman tidak bisa melacak keberadaan Joana dan putranya. Sebab data penerbangan mereka di kacaukan oleh mereka dan pihak penerbangan di negara ini juga menolak untuk bekerjasama,” jawab Will menjelaskan situasinya.
“Baiklah, aku akan mencoba sendiri untuk menemukan mereka,” ujar Luca yang menganggap bahwa itu masalah mudah untuknya.
“Namun, bukan itu saja masalahnya Luca! Karena menurut informasi yang di berikan oleh Felix dan Jaydon kekuatan mereka lebih besar dari yang kita perkirakan. Dan juga pengaruh Simon di negara ini, lebih mengerikan, sangat berbahaya jika kita semua masih berada di sini.”
__ADS_1
Will kembali menjelaskan semuanya yang berhasil mereka ketahui. Hal itu membuat Luca semakin terdiam, sebab dia tidak menyadari bahwa masalahnya malah semakin kacau jika dia bersikeras tetap menyelesaikannya dan mengabaikan fakta yang ada.
“Kenapa semuanya semakin kacau saja!” gumam Luca yang jelas terdengar sangat frustasi.
“Luca, sebaiknya kita mundur terlebih dahulu untuk sekarang! Paman sudah membicarakan tentang ini dengan Papahmu dan dia juga setuju untuk membatalkan sementara semua proyek bisnisnya di negara ini.”
Will mencoba membujuk agar Luca bersedia kembali ke negara asal mereka kapan pun hal itu di perlukan.
“Tapi aku tidak bisa kembali sekarang, _....”
“Tidak, kau harus bisa kembali kapanmu ketika Papah memintanya Luca!” potong Rayden yang tiba-tiba saja muncul bersama dengan Levi.
“Pah, _....”
“Masalahnya sudah semakin runyam di sini. Tentu saja, Papah tidak akan pernah mengijinkan kau untuk tetap berada di negara ini.”
Rayden kembali memotong ucapan Luca yang terlihat jelas ingin memprotes keputusannya.
“Tapi Pah, _....”
“Gunakan saja waktu satu minggu yang di berikan oleh Mamahmu untuk menyelesaikan masalah tentang Axlyn kepada keluarga. Setelah itu kita harus kembali ke negara A tanpa bantahan apapun, Luca!” sambung Rayden yang tidak memberi pilihan lain kepada putra sulungnya itu.
“Semua ini demi kebaikanmu juga, Luca! Sebaiknya kau patuh saja dengan keputusan Papah, kita bisa memikirkan jalan keluar lain begitu kita sudah berada di tempat yang aman,” ujar Levi yang mulai angkat bicara.
“Besok Lucia sebenarnya sudah di perbolehkan untuk meninggalkan rumah sakit. Namun, demi dirimu Lucia memutuskan untuk tetap melakukan perawatan agar kau bisa dengan mudah menemui Ashlyn dan keluarganya,” lanjutnya mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
“Baiklah, sepertinya aku tidak memiliki pilihan lain selain menuruti apa yang telah menjadi keputusan Papah.” Luca akhirnya pasrah menerima keputusan Papahnya.
“Keputusan yang sangat bagus, Putraku! Mulai sekarang berhenti memikirkan tentang dua klan menyebalkan itu, focus saja untuk mendapatkan permintaan maaf dari Ashlyn dan keluarganya.” Rayden memberikan sebuah saran yang harus di lakukan Luca kedepannya.
“Okay, Pah!” sahut Luca lirih.
“Sudahlah, sebaiknya kita masuk saja ke dalam. Sejak tadi Lucia terus mencari keberadaanmu, Luca!” ujar Levi yang kembali mencoba mengalihkan topik pembicaraan antara ayah dan anak laki-lakinya itu.
“Ayo, kita masuk!”
__ADS_1
Beruntung, kali ini Rayden sependapat dengannya. Rayden pun mengajak Luca untuk bertemu di ruang Lucia saat ini di rawat. Luca tidak menjawab, dia hanya pasrah mengikuti langkah Rayden dan Levi yang seperti sedang mengawalnya.
Setibanya di lantai dimana Lucia menjalani perawatan. Dari kejauhan Luca dengan jelas melihat keberadaan Ashlyn yang sedang membantu mendorong kursi roda ibunya bersama sang adik.
Terlihat jelas bahwa Ashlyn sedang berpura-pura seolah tidak pernah mengalami hal buruk apapun untuk hari ini.
Luca dapat melihat senyuman yangdi paksakan oleh bibir Ashly, demi menutupi masalah yang sedang di hadapinya dari Ibu dan adiknya.
Hingga akhirnya sosok ketiga wanita itu memasuki sebuah ruangan yang sudah pasti itu ruangan di mana Bu Hanna di rawat saat ini.
“Ruangan Lucia dan Bu Hanna tepat bersebelahan, karena itulah Lucia memilih untuk tetap mendapat perawatan di rumah sakit agar bisa membantumu mendekati Ashlyn dan keluarganya,” ujar Rayden yang menyadarkan Luca akan rasa terkejutnya.
“Aku rasa mereka tidak akan memaafkan diriku dengan mudah,” gumam Luca yang sudah merasa berkecil hati sebelum mencobanya.
“Jangan menyerah sebelum kau mencobanya. Sebab dari yang aku dapatkan dari karakter mereka, terutama Bu Hanna. Aku sangat yakin beliau akan memberikan maaf untukmu, bahkan tidak akan menyalahkanmu atas kematian putri sulung,” jelas Levi.
“Karena sejak awal itu adalah pilihan Axlyn sendiri yang ingin melindungimu,” sambungnya yang membuat Rayden Luca dan Rayden tercengang begitu mendengar kata-kata bijak yang bocah psikopat itu tuturkan.
^^^Bersambung, ....^^^
...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...
...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari....
...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...
...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...
...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....
...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...
...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...
...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...
__ADS_1
...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...