Ashlyn, Bukan Cinta Pengganti

Ashlyn, Bukan Cinta Pengganti
Trio Somplak & Duo M


__ADS_3

“Ayo, ikut kami anak-anak yang manis!” ujar Felix yang langsung merangkul Matt untuk mengikutinya.


“Jay, kau bawa yang satunya,” imbuh Felix yang menyerahkan Max pada Jaydon.


“Okay,” sahut Jaydon yang menirukan apa yang Felix lakukan.


“Eeeh, … Tunggu dulu! Kami mau di bawa ke mana?” tanya Matt yang terlihat panik.


“Tenang saja! Hanya kami culik dan interogasi sebentar,” jawab Felix yang tersenyum penuh arti.


“Nyawa kami di jamin aman ‘kan?” tanya Max ragu-ragu.


“Tergantung seberapa banyak kau memberikan informasi yang kami butuhkan,” jawab Will.


“Dimana kalian memarkirkan mobilnya?” lanjut Will yang menanyakan keberadaan mobilnya.


“Di sebelah sana!” Max menunjuk pada salah satu mobil mewah yang terparkir tidak terlalu jauh.


Setelah itu, Will yang mengemudikan mobilnya menuju ke villa. Sedangkan Matt dan Max di perlakukan layaknya tahanan oleh Felix dan Jaydon.


Kelakuan Trio somplak memang tidak ada obatnya kalau sudah kumpul seperti ini. Di tambah lagi dengan adanya Duo M yang menurut saja di perlakukan seperti itu.


Sementara itu, suasana canggung benar-benar tercipta di antara Luca dan Ashlyn. Pasalnya Ashlyn malah terkesan selalu menghindari Luca.


Setiap Luca ingin mengatakan atau menanyakan sesuatu, Ashlyn pasti akan menggunakan seribu satu cara untuk menghindari.


Setibanya di Villa, Max dan Matt langsung di bawa ke ruang makan dan di perintahkan duduk bersebelahan.


Sementara Will dan Felix duduk tepat berhadapan dengan Matt dan Max yang terlihat kebingungan mengapa mereka di perlakukan seperti tahanan musuh.


Sedangkan Jaydon berdiri di belakang Matt dan Max seakan menjadi pengawas agar keduanya tidak bisa kabur.


“Serahkan ponsel milik kalian berdua sekarang!” perintah Will.


Max dan Matt menurut, mereka memberikan ponsel masing-masing pada Will tanpa bantahan sama sekali.


Namun, setelah memberikan ponselnya Matt tiba-tiba berdiri dan berniat berjalan ken arah dapur sebelum di cegah oleh Jaydon yang benar-benar bertugas sebagai pengawas di sana.


“Eits, … Kau mau kemana?” tanya Felix dengan tatapan menyelidik.


“Mengambil beberapa camilan dan minuman! Sepertinya pembicaraan kita akan membutuhkan waktu yang cukup lama,” jelas Matt dengan wajah polosnya.


“Boleh juga! Aku mau soda,” ujar Will yang langsung request minumannya.


“Aku cukup dengan segelas kopi,” imbuh Jaydon.


“Ambil sendiri! Kalian punya tangan dan kaki sendiri, bukan?” ujar Matt yang langsung mendapat tatapan tajam pada dari Will dan Jaydon.


“Heheheee, … Ampun, Om!” ucap Matt lirih begitu menyadari nyawanya sedang dalam bahaya.


“Bagaimana kalau kita pesan Junk food saja! Sekalian minumannya!” Max memberikan saran yang lebih baik.

__ADS_1


“Setuju! Aku mau pizza!”


Tanpa buang waktu Felix langsung menggunakan ponsel Max untuk memesan semua makanannya.


Max pun hanya pasrah membiarkan Felix menggunakan ponselnya itu dan membayar semua makanan itu menggunakan uangnya.


“Pesan saja semua yang ada di menu,” ujar Will dengan santainya.


“Ouh, … Ide yang bagus!”


Tentu saja semua orang menyetujui ide tersebut kecuali Max yang harus kehilangan banyak uangnya.


“Bagus! Tinggal menunggu pesanannya datang,” lanjut Felix yang tersenyum puas.


Setelah itu, Felix dan Will kembali memasang mode serius. Mereka menyimpan ponsel Matt dan Max terlebih dahulu, karena mereka akan melakukan interogasinya.


Matt pun sudah kembali duduk di tempatnya, setelah tadi dia mengambil beberapa snack di dapur.


“Apa yang Luca perintahkan pada kalian?” tanya Will membuka pertanyaan pertama.


“Kalau saya! Tuan muda memerintahkan untuk mencari tahu masa lalu Axlyn. Ouh, … Benar! Apa kalian sudah tahu kalau ayah kandung Axlyn adalah pemimpin dari organisasi pembunuh bayaran yang paling di besar di negara ini,” ujar Matt yang memancing Trio somplak untuk bergosip.


“Benarkah?” ujar Felix tak percaya.


“Jadi, selama menjadi pembunuh bayaran Axlyn bekerja dengan ayahnya sendiri,” celetuk Felix yang semakin penasaran.


“Bukan bekerja, tapi sebenarnya Axlyn di tunjuk untuk mewarisi kepemimpinannya.” Matt mempertegas apa yang terjadi.


“Aku tidak tahu apa yang Tuan muda sedang rencanakan! Tapi Tuan muda menyuruhku untuk mengatur pertemuan dengan ayahnya Axlyn,” jelas Matt.


“Apa kau sudah mengaturnya? Kapan mereka akan bertemu?” cecar Will.


“Astaga, aku lupa memberitahu Tuan muda bahwa orang itu ingin bertemu malam ini juga!” seru Matt yang melupakan hal yang sangat penting.


“Pinjam ponselku sebentar untuk memberitahu Tuan muda tentang ini!” Matt pun segera meminta agar Will memberikan ponselnya.


“Tidak perlu menghubunginya, sebentar lagi Tuan muda pasti akan pulang karena aku sudah mengirim pesan bahwa kita berdua di culik dan sedang di interogasi oleh mereka,” jelas Max yang langsung mendapatkan tatapan membunuh dari Trio Somplak.


“Aish, … Sialan kau! Kenapa memberitahu Luca!” umpat Felix yang kesal akan tindakan Max.


“Mengacau saja!” ujar Will.


Plakk, … Jaydon malah menggeplak kepada Max dari belakang untuk menunjukan rasa kesalnya.


“Percuma kita memesan banyak makanan kalau bahan gossip kita sedang perjalanan kembali ke sini,” gerutu Felix.


"Parah kau, Max! Tidak asyik sama sekali!" Matt berada di pihak Trio somplak.


Max message:


‘Tuan muda, tolong saya!’

__ADS_1


‘Saya dan Matt di culik oleh Tuan Will, Tuan Felix dan Tuan Jaydon!’


‘Dan sekarang kami ada di interogasi di Villa,’


‘Bahkan Matt sudah memberitahu tentang semua rekaman anda dengan Ashlyn!”


“Aish, … Dasar mereka berdua! Selalu saja membuat masalah untukku,” umpat Luca begitu membaca pesan yang Max kirimkan padanya.


Hingga akhirnya Luca mendapat pesan permintaan tolong, Max yang mengatakan bahwa dirinya sedang di culik dan akan di interogasi oleh Trio somplak.


Luca yang sejak awal menyadari bahwa Matt selalu merekam kedekatannya dengan Ashlyn. Sontak saja, dia langsung panik karena dia tidak ingin rekaman itu sampai tersebar sampai ke tangan keluarganya terutama Julia, Zhia dan Lucia.


“Ashlyn, _....”


“Tunggu dulu! Aku harus membereskan gudang sekarang,” potong Ashlyn yang terlihat jelas sangat menghindari Luca.


Namun, sebelum Ashlyn bergegas meninggalkannya. Luca segera memegan lengan Ashlyn, sehingga gadis itu langsung menghentikan langkahnya.


Mereka akhirnya saling menatap lagi satu sama lain. Hingga Luca tersadar bahwa tangannya masih memegangi lengan Ashlyn, perlahan dia pun melepasnya.


“Aku hanya ingin memberitahumu bahwa hari ini aku tidak bisa ikut bekerja di restaurant! Jangan salah paham, aku benar-benar memiliki urusan penting untuk di selesaikan,” jelas Luca.


“Ouh, … Tentu, aku akan memberitahu pemiliknya bahwa kau akan libur hari ini,” ujar Ashlyn yang menutupi perasaan kecewanya di balik senyuman manisnya.


“Kalau begitu, setelah ini aku akan langsung pulang!” jelas Luca lagi.


“Baiklah, mau aku antarkan?” Ashlyn mencoba bersikap seperti biasanya.


“Tidak perlu, aku bisa pulang naik taksi,” tolak Luca seramah mungkin.


“Baiklah,” sahut Ashlyn, lalu pergi menuju ke gudang.


^^^Bersambung, ....^^^


...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...


...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari....


...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...


...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...


...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....


...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...


...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...


...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...


...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...

__ADS_1


__ADS_2