
“Hahahaa, … Apakah kau malu membicarakan hal seperti ini dengan Papahmu sendiri?”
Bahkan tanpa perlu mendengar jawaban dari putra sulungnya itu. Rayden sepertinya sudah bisa menebaknya dengan benar hanya dengan melihat reaksinya saja.
Sungguh, putra sulungnya ini terlihat begitu menggemaskan jika sedang ada masalah tentang percintaan.
“Kalau Papah sudah tahu kenapa masih bertanya,” celetuk Luca dengan raut wajah cemberutnya yang terlihat sangat menggemaskan di mata Rayden.
“Hahahaa, … Mau Papah berikan beberapa Tips cara menaklukan kemarahan seorang wanita! Papah ahlinya dalam hal itu, apalagi ketika Mamahmu sedang marah maka cara ini yang paling berhasil,” ujar Rayden yang membuat Luca penasaran sekaligus tertarik untuk mendengarkannya.
“Apa itu, Pah?” tanya Luca terkesan tidak sabaran.
“Kemarilah, Papah akan bisikan kepadamu!”
Perintah Rayden yang menyuruh Luca untuk sedikit mendekatkan telinganya. Luca yang polos pun hanya mengikuti apa yang Papahnya perintahkan.
Kemudian, Rayden mulai berbisik, “Begini semarah apapun seorang wanita, jika kau selalu berada di dekatnya dan sering bertatap muka satu sama lain,"
"Maka lama kelamaan, dia akan kembali meluluhkan hatinya untukmu. Ikuti dia kemanapun dia pergi dan diam serta dengarkan saja jika dia mulai kesal, maka saat itu dia akan merasakan ketulusanmu.”
“Jadi, Papah menyarankan Luca untuk menjadi stalkernya Ashlyn!” seru Luca yang tak mempercayai tips dari Papahnya begitu mengerikan sampai dia tidak bisa membayangkannya sama sekali.
“Haish, … Jangan asal menyimpulkan seperti itu!” kilah Rayden dengan santainya seraya membuang muka menghindari tatapan penuh menyelidik dari putra sulungnya itu.
“Memang apa lagi kalau bukan itu kesimpulannya, Pah!” cibir Luca yang tidak habis pikir dengan kelakuan Papahnya.
“Bukannya berhasil sepertinya Luca malah berakhir di penjara dengan tuduhan sebagai penguntit,” imbuhnya sambil bergumam.
“Haish, … Maksud Papah bukan seperti itu juga, Luca! Kau memang selalu mengikuti dan mengawasinya, tapi jangan melakukannya secara diam-diam. Jadikan, itu sebagai suatu kebetulan untuk kalian berdua sering bertemu. Pura-pura saja kalian seperti itu.”
Rayden memperjelas maksud dari tips yang ingin dia berikan kepada putra sulungnya itu.
“Aaah, … Dan juga gunakan orang terdekatnya sebagai alasan untuk bertemu. Seperti yang Papah lakukan dulu saat mendekati Mamahmu!” Rayden menambahkan.
“Maksud Papah, Luca harus menggunakan Ibu Hanna sebagai alasan setiap ingin menemuinya seperti Papah yang dulu menggunakan aku dan Lucia untuk menemui Mamah.” Luca mencoba untuk memperjelas semuanya.
__ADS_1
“Tepat sekali! Lah, … Akhirnya otak geniusnya berfungsi juga.” Rayden membenarkan.
“Baiklah, Luca akan mencoba tips dari Papah ini! Terima kasih, Pah! Sudah mau membantu Luca memikirkan caranya,” ucap Luca yang sangat menghargai saran dan tips yang di berikan oleh papahnya itu.
Malam itu, Luca mencoba memperkirakan beberapa tempat yang kemungkinan besar membuat dia dan Ashlyn bisa di katakan secara kebetulan saling bertemu.
Mulai dari rumah sakit dan beberapa tempat mereka bekerja paruh waktu dulu, semua Luca rangkum dalam buku catatan kecil yang selalu dia bawa.
Pagi-pagi sekali, Luca sudah bersiap untuk menjalankan tips dan rencana yang sudah dia persiapkan semalaman penuh. Bahkan Luca sampai melewatkan sarapannya, demi bisa membuat alasan untuk menemui Bu Hanna sekaligus Ashlyn.
“Mah, Luca pergi dulu!” pamit Luca ketika melewati area dapur dimana Zhia tengah menyiapkan sarapan di bantu oleh beberapa pelayan lainnya.
“Kau mau pergi kemana pagi-pagi sekali, Luca? Kau harus sarapan dulu!” seru Zhia yang merasa heran dengan sikap putranya yang tidak seperti biasanya.
Bahkan Luca yang dia kenal tidak pernah sekalipun melewatkan masakannya untuk sarapan.
“Untuk hari ini tidak bisa, Mah! Luca akan membeli makanan dan sarapan dengan Bu Hanna saja,” jelas Luca yang tidak mau mamahnya khawatir.
“Aaaah, … Jadi, kau mencoba menggunakan Bu Hanna untuk mendekati Ashlyn lagi! Kau ini ‘yah diam-diam sifatmu sangat mirip dengan Papahmu,” ujar Zhia yang akhirnya tersenyum gemas dengan kelakuan putra sulungnya.
“Astaga, … Jangan terlalu mempercayai saran dari Papahmu, Sayang!” Zhia sedikit memberi peringatan.
“Baik, Mah! Lagi pula sarannya kali ini cukup bisa di percaya, maka dari itu Luca ingin mencobanya lebih dulu,” ujar Luca tanpa sadar sedikit menyunggingkan senyuman manisnya sampai membuat Zhia terkesima.
“Kalau begitu Luca pergi dulu ‘yah, Mah!” sambung Luca yang kemudian berlalu pergi begitu saja.
“Ya Tuhan, … Apakah kau sudah mengembalikan putraku. Sudah begitu lama aku tidak melihat putraku tersenyum begitu indahnya,” gumam Zhia yang masih tidak percaya dengan perubahan yang baik akan putra sulungnya itu.
“Semua perubahannya sepertinya berkat Ashlyn! Tanpa Luca sadari rasa kehilangan dia akan kematian Axlyn perlahan mulai dia lupakan dan saat ini perhatian serta fokusnya hanya tertuju pada Ashlyn,” ujar Rayden yang tiba-tiba memeluk Zhia dari belakang, sebenarnya sejak tadi dia sudah memperhatikan percakapan Ibu dan anak itu diam-diam.
“Tapi keduanya wanita yang berbeda, Ray!”
Zhia mengingatkan bahwa tidak baik menjadikan orang lain sebagai pengganti seseorang yang pernah hilang dari hidupnya.
“Luca tahu akan semua itu, Sayang! Bahkan sejak awal, putra sulung kita itu sudah membedakan keduanya dengan sangat jelas,” ujar Rayden dengan penuh keyakinan pada Luca.
__ADS_1
“Sebagai seorang Ibu, aku hanya ingin dia mendapatkan kebahagiaannya kali ini!” gumam Zhia yang hanya bisa selalu mendoakan semua yang terbaik untuk anak-anaknya.
Setelah menempuh jarak yang tidak begitu jauh, Luca akhirnya tiba juga di rumah sakit tempat Bu Hanna mendapatkan perawatannya. Sebelumnya Luca mampir sebentar ke sebuah restaurant untuk membeli beberapa menu makanan untuk sarapan mereka.
“Aku tidak tahu makanan seperti apa yang Bu Hanna sukai. Jadi, aku membeli semua menu makanan yang ada! Aku harap ada salah satunya yang Bu Hanna sukai dari semua makanan ini,” gumam Luca yang berjalan santai menuju ke ruang rawat Bu Hanna berada sambil menenteng beberapa bungkus makanan di kedua tangannya.
Ketika hampir tiba di depan ruang rawat Bu Hanna, mata Luca langsung tertuju pada sosok Ashlyn yang tengah berdiri tepat di pintu itu dengan raut wajah yang terlihat gelisah.
Luca hampir saja menyapanya, tapi dia segera mengurungkan niatnya demi berjalannya rencana yang sudah dia siapkan.
Diam-diam Luca berjalan mendekatinya, bahkan Ashlyn sampai tidak menyadari bahwa kini Luca sudah berdiri tepat di belakangnya.
“Kenapa hanya berdiri di sini? Ayo, Masuk bersama!” ujar Luca yang tentunya membuat Ashlyn langsung membalikan badannya dengan kedua matanya yang membulat sempurna.
“Kau, _....”
Luca mengabaikan reaksi terkejut Ashlyn dan lebih memilih untuk membuka pintu yang ada di depannya seraya berseru, “Ibu, aku datang bersama Ashlyn dengan membawa beberapa makanan!”
^^^Bersambung, ....^^^
...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...
...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari....
...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...
...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...
...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....
...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...
...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...
...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...
__ADS_1
...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...