
Selepas kepergian Luca yang tanpa sepatah katapun, Ashlyn seketika menangis sejadi-jadinya. Mulutnya memang mengatakan tidak ingin melihat Luca kembali, tetapi hatinya terasa begitu sakit hanya dengan melihat kepergiannya.
“Hiks, … Sakit! Hiks, … Kenapa rasanya begitu menyakitkan, Hiks, …” Rintih Ashlyn hingga menangis sesenggukan sembari memegangi bagian dadanya yang terasa begitu sesak dan sakit.
“Jika tahu akan berakhir seperti ini, Hiks, … Maka aku tidak pernah ingin bertemu dengan pria seperti dirimu, Luca! Hiks, … Hiks, …”
Menangis, hanya itu yang bisa Ashlyn lakukan sebagai bentuk pelampiasan rasa sakit di hatinya. Entah berapa lama Ashlyn menangis terisak seperti itu, tapi beruntung saat itu mini market tempatnya bekerja sedang sepi pelanggan. Sehingga Ashlyn bisa menangis sampai hatinya merasa puas dan lebih baik.
Sementara, Luca sendiri langsung melajukan mobilnya tanpa arah. Perasaannya begitu kacau ketika mengingat kata-kata menyakitkan yang Ashlyn lontarkan kepadanya. Bahkan Luca tanpa sadar telah mengemudi dengan kecepatan yang sangat tinggi di tengah kota.
“Sialan! Bukan seperti ini yang aku inginkan!” umpat Luca beberapa kali memukul stir yang ada di depannya.
“Aku hanya menjelaskan semuanya! Aku tidak ingin kau terus salah paham seperti ini. Kau sama sekali bukan pengganti Axlyn atau siapapun!” lanjutnya dengan perasaan yang begitu frustasi.
“Ashlyn adalah Ashlyn, gadis ceria yang pantang menyerah dan selalu semangat menjalani hidup yang aku lihat di tengah keputusasaan hidupku,"
"Aku Cuma ingin mengatakan padamu bahwa kau hanya Ashlyn, gadis yang menarik ku keluar dari gelapnya jurang keputusasaan yang Axlyn tinggalkan,” gumam Luca tanpa terasa kini dia menangis seraya memegangi bagian dadanya yang mulai merasakan nyeri dan sesak.
Ketika Luca sedang kehilangan arah tujuannya, siapa sangka dia malah melihat Will, Jaydon, Felix dan Levi tengah berkumpul di sebuah restaurant tenda yang berada di pinggir jalan.
Tanpa pikir panjang, Luca pun segera menepikan mobilnya dan langsung menghampiri ketiga pamannya serta adik iparnya itu.
“Berikan minumannya padaku!” Luca langsung meraih sebotol minuman keras yang tersedia di meja.
“Haish, … Kau mau minum-minum di tengah hari seperti ini, Hah!”
Dengan cepat Will kembali merebutnya dan ketika Luca hendak mengambil minuman yang lainnya, Levi dan Felix dengan sigap menghentikannya. Sedangkan Jaydon yang bertugas memindahkan botol minuman yang tersisa ke meja lain.
“Sialan, aku hanya ingin minum sedikit!” umpat Luca yang merasa semakin kesal dengan semua yang mencoba menghentikannya.
“Tidak boleh!” seru keempatnya bersamaan.
“Papahmu akan mengomel tanpa henti, jika aku membiarkan kau minum dalam keadaan seperti ini,” jelas Will.
“Benar! Dan sudah pasti kita semua yang akan di salahkan,” imbuh Jaydon.
__ADS_1
“Masalah Simon dan Joshua sudah membuat kami semua merasa frustasi. Jadi, jangan menambahkan masalah lain untuk kami. Luca anak yang baik, bukan? Jadi, berhentilah membuat masalah, apalagi ini di negara orang!” Felix menimpali dengan membuka semua masalah yang ada.
“Aaah, … Kalau aku hanya takut Lucia dan calon anakku stress lagi, karena kegilaanmu ini!” Tentunya alasan Levi hanya istri tercintanya.
“Haaah, … Sepertinya memang aku sudah gila!” gumam Luca secara sadar membenarkan apa yang Levi katakan tentang dirinya.
“Apa karena Ashlyn lagi?” tanya Levi mencoba menebak permasalahan yang sedang adik iparnya itu hadapi.
Dan benar saja, Luca langsung menganggukkan kepalanya membenarkan perkataan Levi.
Kali ini si tukang kepo, Felix yang bertanya, “Memang apa yang terjadi?”
“Dia menyuruhku agar tidak muncul lagi di hadapannya, … Selamanya, tidak boleh menemuinya lagi!” jawab Luca sambil tertunduk lemah.
“Dan kau menurutinya begitu saja?” tanya Will memastikan dan lagi-lagi Luca hanya mengangguk sebagai jawaban.
“Bodoh! Itu artinya kau harus tetap menampakan wajahmu, kalau bisa setiap detik kau ada di depan matanya.” Felix ikut bersuara.
“Benar! Apa yang seorang wanita katakan ‘jangan’, maka itu seperti kode keras untuk para lelakinya agar tetap melakukannya. Wanita itu suka sekali mengatakan yang berlawanan antara mulut dengan hatinya.” Levi menambahkan.
“Benar! Harus tetap semangat, aku yakin kau pasti bisa meluluhkannya lagi!” Felix pun ikut menyemangati, begitu juga dengan Levi dan Jaydon.
“Iya, kalian benar! Aku tidak boleh menyerah begitu saja! Masih tersisa lima hari lagi sebelum kita kembali, jadi aku tidak boleh menyerah sekarang!” seru Luca yang kembali bersemangat.
“Terima kasih, para Paman dan Adik Ipar! Aku harus pergi sekarang,” pamit Luca yang pergi begitu saja setelah mengucapkan rasa terima kasihnya.
“Hay, apa kalian menyadari sesuatu yang aneh darinya?” tanya Felix yang mulai menyadari sesuatu.
“Sepertinya tanpa sadar Ashlyn telah menggeser posisi Axlyn di dalam hati Luca! Luca mulai mencintai gadis bernama Ashlyn itu dan perlahan sudah melupakan tentang Axlyn,” jawab Will yang menunjukan senyuman bahagianya, melihat Luca dulu telah kembali lagi berkat kehadiran Ashlyn.
“Kau benar! Jika aku menceritakan tentang ini kepada Lucia, dia pasti akan sangat bahagia!” gumam Levi yang membayangkan wajah tersenyum istrinya saja sudah berhasil membuatnya tersenyum cerah.
Sejak mendapat dorongan semangat dari adik ipar dan para pamannya, Luca setiap harinya selalu diam-diam memperhatikan Ashlyn dari kejauhan.
Sebenarnya Luca ingin sekali menunjukan wajahnya lagi, tetapi keberaniannya lari entah kemana dan malah mengingat tentang kejadian terakhir kali di mini market.
__ADS_1
Bahkan Luca sudah lepas tangan dengan anak perusahaan yang sedang berkembang di negara itu dan melimpahkannya kepada Will.
Sudah empat hari lamanya, Luca hanya diam-diam memperhatikan Ashlyn. Meski setiap harinya yang dia lihat tetap sama yaitu kegiatan Ashlyn dalam bekerja dengan tatapan matanya yang penuh kesedihan dan kelelahan. Sering kali, dia tidak sengaja bertemu di rumah sakit saat dirinya menjenguk Bu Hanna.
“Semuanya masih sama! Kau masih marah kepadaku dan aku hanya bisa melihatmu dari kejauhan seperti ini,” gumam Luca.
Dia masih duduk di dalam mobilnya sambil memperhatikan Ashlyn yang tengah sibuk melayani para pelanggan, karena saat ini Ashlyn sedang bekerja di restaurant mie sebelumnya.
“Apa yang harus aku lakukan agar kau mendengarkan penjelasanku, Ashlyn?”
Luca bertanya-tanya pada dirinya sendiri, sebab dia memang tengah duduk sendirian di dalam mobilnya.
“Tunggu! Mengapa belakangan ini di hati dan pikiranku hanya tentang Ashlyn? Bahkan aku tanpa sadar melupakan tentang Axlyn? Apa jangan-jangan aku, _....” Luca sepertinya mulai menyadari perasaannya untuk Ashlyn.
“Aaah, … Tidak! Mungkin ini hanya rasa bersalahku saja yang tanpa sengaja melukai perasaan Ashlyn dengan kesalahpahaman yang sedang coba aku luruskan. Dan setelah aku menjelaskannya, perasaanku akan kembali seperti semula.”
^^^Bersambung, ....^^^
...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...
...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari....
...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...
...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...
...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....
...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...
...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...
...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...
...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...
__ADS_1