
“Berarti anda harus menaikkan gaji kita berdua,” protes Ashlyn yang memanfaatkan kesempatan itu untuk naik gaji.
“Hay, kenapa gajimu juga harus ikut di naikan! Semua itu berkat pria bak dewa Yunani itu,” ujar sang pemilik restaurant yang sengaja sedikit menggoda Ashlyn.
“Wahai, Tuan pemilik restaurant mie terbaik di negara H! Jika bukan karena seorang Ashlyn ini, maka pria bak titisan dewa Yunani itu tidak akan pernah nyasar ke tempat ini. Apa anda sudah mengerti betapa berjasanya seorang Ashlyn ini!”
Ashlyn tahu bahwa pemilik restaurant itu hanya menggodanya saja. Jadi, dia pun ikut membalasnya dengan perkataan yang penuh candaan.
Tanpa Ashlyn sadari bahwa sepasang mata elang sedang menatap kepadanya dengan tatapan tajam.
Siapa lagi kalau bukan Luca pelakunya, di dalam hatinya dia merasa sedang di manfaatkan oleh gadis yang mirip dengan Axlyn itu.
“Baiklah! Baiklah, aku akan melipat gandakan gaji kalian setiap kali keuntungan penjualan mencapai lima kali lipat,” ujar sang pemilik restaurant.
“Tuan, tidak baik menikmati banyak keuntungan seorang diri!” sahut Ashlyn yang masih saja melanjutkan candaannya.
“Hay, gadis muda! Kau ingin mendapat kenaikan gaji, tapi kenapa kerjaanmu hanya bergosip denganku di sini! sudah sana kembali bekerja!” Sang pemilik mengingatkan Ashlyn untuk segera melanjutkan pekerjaannya.
“Iya, Tuan Boss!” sahut Ashlyn yang berjalan menghampiri Luca berniat untuk membantunya.
...****************...
Disisi lain, Matt dan Max yang penasaran dengan pekerjaan seperti apa yang di berikan oleh Ashlyn kepada Luca diam-diam mengawasinya dari kejauhan.
Tentu saja, setelah keduanya memerintahkan anak beberapa orang untuk melaksanakan tugas menggantikan mereka.
“Bwahahaa, …”
Baik Matt dan Max sama-sama tertawa terbahak-bahak melihat pekerjaan yang di lakukan Luca tanpa perlawanan.
Memang Tuan muda mereka yang satu itu tetap terlihat tampan saat mengenakan apapun di tubuhnya. Akan tetapi,yang membuat Matt dan Max tertawa adalah cara Luca melayani pelanggan dengan wajah dinginnya itu.
“Aku sungguh tidak percaya, Tuan Luca mau melakukan pekerjaan seperti itu!” ujar Max sembari menghapus sisa air mata di pipinya, karena terlalu banyak tertawa.
“Lihatlah, wajah pokernya itu saat melayani pelanggan! Bukannya merasa tidak di hargai para wanita itu malah histeris dengan ketampanan Tuan kita,” imbuh Matt.
“Kalau Tuan Rayden sampai tahu apa yang di lakukan putra sulungnya di sini, pasti akan sangat terkejut!”
__ADS_1
Max mencoba membayangkan bagaimana reaksi keluarga besar Xavier melihat kejadian langka itu.
“Aku berani menjamin kalau Tuan Will dan Tuan Felix pasti akan tertawa puas seperti yang kita lakukan sekarang. Secara kita dan mereka itu memiliki frekuensi yang sama,” ujar Matt mencoba menyamakan kelakuan mereka dengan Will dan Felix.
“Sama apanya?” sahut Max yang tidak mengerti maksud ucapan Matt.
“Sama-sama gila dan somplak, Hahahaa, …”
Max menatap Matt tidak percaya bahwa dia mengakui dirinya sendiri seperti orang gila yang memiliki berat otak hanya satu ons.
Bahkan Max sedikit menjaga jarak agar tidak tertular kegilaan Matt. Namun, tanpa di sadari sejak awal dia memang sudah tertular hanya saja dia tidak mau mengakuinya secara gambling seperti yang di lakukan Matt.
Sungguh, pelayan adalah pekerjaan terberat yang pernah Luca rasakan. Biasanya dia yang selalu memberikan perintah dan di layani, sekarang malah dia yang di perintah dan melayani.
Luca yang selama ini tidak pernah bekerja keras untuk mendapatkan uang, saat itu merasakan bagaimana susahnya mendapatkan uang untuk sekadar mengisi perutnya.
Bahkan ada beberapa gadis muda yang secara terang-terangan menggoda Luca. Ada yang mengedipkan mata genitnya, meminta nomor telepon dan media sosialnya.
Menanyakan statusnya, apakah masing free atau sudah memiliki kekasih dan bahkan ada yang dengan berani langsung menyatakan perasaannya kepada Luca.
Sungguh hari itu menjadi hari terberat kedua, setelah hari dimana dia kehilangan Axlyn untuk selamanya.
Setelah satu shif malam Luca bekerja keras sebagai pelayan. Akhirnya waktunya untuk pulang dan beristirahat pun tiba.
Namun, ketika ingin pergi meninggalkan restaurant itu, dirinya di tahan oleh pelayan lain untuk menghadiri penyambutan Luca sebagai bagian dari mereka.
Lagi-lagi, Luca hanya pasrah dan mengikuti keinginan orang-orang di sana. Apalagi Ashlyn dengan wajah memohonnya memintanya untuk tetap tinggal selama beberapa menit di sana.
Awalnya makan malam penyambutan itu berjalan lancar. Hingga datang segerombolan preman yang menggebrak meja mereka dengan keras.
Brakkk, ….
Semua orang segera menghindar untuk menyelamatkan dirinya masing-masing dari amukan preman itu. Berbeda dengan Ashlyn yang wajahnya sudah memucat ketika melihat kehadiran preman itu di sana.
Dan juga Luca yang dengan wajah dinginnya tetap duduk di sebelah Ashlyn sembari menatap segerombolan preman itu dengan tatapan tajamnya.
“Ke-kenapa kalian kesini?” tanya Ashlyn dengan suara gemetar ketakutan.
__ADS_1
“Tentu saja karena tidak menemukanmu di gubuk reot itu, makanya kami datang ke tempat ini,” jawab preman yang paling di depan yang terlihat seperti pemimpinnya.
“Namun, tidak aku sangka kau malah asyik berpesta di sini tanpa memikirkan hutangmu yang tidak lunas-lunas! Ck, … Ck, … Seharusnya aku tidak tertipu dengan wajah polos dan mulut manismu ini, Ashlyn!”
Preman itu hendak mencengkeram wajah mungil Ashlyn, tetapi Luca dengan sigap menepisnya dan menarik tubuh mungil Ashlyn untuk berlindung di belakang tubuhnya.
Semua orang mengingatkan Luca untuk tidak ikut campur, seolah kejadian ini sudah sering terjadi dan mereka akan selalu menjadi penonton setia.
Akan tetapi, Luca sama sekali tidak memperdulikan peringatan mereka. Apalagi melihat wajah Ashlyn yang tertunduk dan menangis di belakangnya membuatnya tidak bisa diam dan hanya melihatnya saja.
“Jangan pernah sekalipun tangan kotor kalian menyentuhnya!” Peringatan dan tatapan tajam Luca di lontarkan pada segerombolan preman itu.
“Bwahahaa, … Ternyata ada yang ingin menjadi pahlawan kesiangan di sini!” Preman itu tertawa sombong bersama dengan anak buah lainnya.
“Hay, sebaiknya kau menyingkir, sebelum wajah tampanmu itu tidak berbentuk lagi!” ancam preman itu lagi yang membuat Ashlyn semakin ketakutan dan berniat menyerahkan dirinya.
“Tetap di belakangku, Ashlyn!” titah Luca dengan nada suara yang melembut.
“Apakah kau tetap tidak mau menyerahkan gadis licik itu pada kami, Hah! Kau ingin melawan kami rupanya?” Dengan angkuhnya preman itu mencoba mengintimidasi Luca.
“Cobalah! Aku ingin melihat seberapa besar kemampuan kalian? Apakah sama dengan keangkuhan kesombongan sedari tadi kalian tunjukan!” tantang Luca disertai smirk evilnya.
^^^Bersambung, ....^^^
...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...
...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari....
...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...
...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...
...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....
...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...
...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...
__ADS_1
...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...
...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...