Ashlyn, Bukan Cinta Pengganti

Ashlyn, Bukan Cinta Pengganti
Harus Banyak Bersabar


__ADS_3

“Aku akan menyusul mereka,” ujar Luca, tapi Hanna langsung menghentikannya.


“Tidak perlu! Biarkan mereka menenangkan diri lebih dulu. Aku ibunya, aku tahu bagaimana harus menanggapi kemarahan mereka. Jadi, biarkan mereka sendiri untuk sementara waktu sembari merenungkan semuanya!” seru Hanna yang menghentikan niat Luca untuk mengejar keduanya.


“Ta-tapi mereka, _....”


“Kemarilah, Nak Luca!” pinta Hanna yang menyuruh Luca mendekat padanya.


Luca tak membantah lagi, dia pun menghampiri Bu Hanna sambil tertunduk sedih. Sungguh, dia tidak menyangka bahwa kehadirannya malah semakin membuat luka pada keluarga Axlyn.


Terutama pada Ashlyn yang menjadi salah paham kepadanya dan menganggap dirinya sebagai pengganti Axlyn saja. Padahal di hati maupun pikiran Luca tidak pernah sedikitpun terlintas pikiran seperti itu.


“Jangan menyalahkan dirimu lagi mulai sekarang! Kematian Axlyn bukan kesalahanmu ataupun keluargamu, itu adalah pilihannya sendiri,"


"Dan untuk Ashlyn, berikan dia sedikit waktu untuk menenangkan diri. Setelah itu, berusahalah untuk mendekatinya dan menjelaskan apa yang kau rasakan selama ini kepadanya,” ujar Hanna memberikan beberapa nasehat kepada Luca dalam mengambil langkah selanjutnya.


“Emmm, … Terima kasih sudah memaafkan aku,” ucap Luca dengan mata yang kembali berkaca-kaca.


“Dan untuk Ashlyn, aku akan tetap berusaha mendapatkan maaf darinya dan memperjelas masalah ini sampai sebelum waktunya aku kembali ke negaraku,” sambung Luca.


“Memang kapan kau akan kembali ke negaramu?” tanya Bu Hanna.


“Satu minggu lagi, kami semua akan kembali! Mengingat ada beberapa masalah yang mungkin saja akan timbul lagi, jika kami bersikeras tetap berada di sini lebih lama lagi,” jawab Rayden mewakili Luca menjelaskan situasi yang mengharuskan dia harus segera kembali.


“Untuk masalah pengobatan yang telah kami janjikan, anda bisa kapan saja menghubungi kami!” imbuh Rayden.


“Baiklah, sepertinya saya mengerti secara garis besarnya! Semoga hati Ashlyn cepat luluh dengan begitu kau bisa cepat mendapatkan maaf darinya. Jika kau membutuhkan saran, Ibu siap membantumu kapan saja, Nak Luca!” ujar Bu Hanna.


“Dan untuk pengobatanku, aku akan mempertimbangkannya dengan matang sebelum mengambil keputusan,” sambungnya.


“Padahal itu keputusan yang sangat bagus untuk melakukan pengobatan secepat mungkin.


Vinno hanya bisa menggerutu dan menyayangkan istrinya itu harus menunda pengobatannya hanya karena kemarahan dari Ashlyn dan Alicia, sebenarnya lebih tepatnya adalah bentuk kekecewaan mereka kepadanya dan juga Luca atas kebohongan masing-masing.


“Diamlah, jangan semakin memperkeruh suasana,” berang Hanna dengan kelakuan suaminya itu yang tidak tahu tempat.


Seketika Vinno pun langsung diam, kelakuannya mengingatkan pada Rayden dan Noland yang bersikap sama persis kalau para istri mereka sedang mode marah. Diam adalah jalan ninja terbaik bagi para suami yang takut istri.

__ADS_1


“Nak Luca, kuncinya hanya sabar kalau ingin mendapatkan maaf dari Ashlyn! Sebenarnya Ashlyn adalah anak yang sangat baik, dia tidak marah padamu,"


"Dia hanya merasa kecewa karena merasa di bohongi olehmu, merasa di jadikan pengganti kakaknya yang telah tiada dan dia hanya terlanjur jatuh cinta saja padamu, _...”


Hanna menggantung perkataannya seakan sedang berusaha menyusun kalimat yang baik untuk dia sampaikan selanjutnya.


“Maka dari itu, Ibu mohon! Jika kau memang tidak bisa membalas perasaannya, maka jangan sakit perasaannya lebih jauh lagi,"


"Jangan membuatnya terlalu berharap dan jangan mematahkan perasaannya dengan begitu kejam. Sesungguhnya Ashlyn memiliki hati yang sangat rapuh.”


Bu Hanna melanjutkan ucapannya dan menekankan setiap kata yang dia ucapkan agar Luca selalu mengingatnya.


Perkataan yang baru saja dia ucapkan juga bentuk permohonan dan peringatan dari Hanna untuk Luca agar tidak terlalu menyakiti hati putrinya.


“Apa kau mengerti maksud Ibu, Nak?” tanya Bu Hanna memastikan melihat Luca yang hanya tertunduk diam saja.


“Iya, Ibu! Saya mengerti dan akan selalu mengingat perkataan Ibu,” jawab Luca yang terasa begitu berat ketika mengatakannya.


Setelah itu, mereka pun membicarakan hal lain. Lebih tepatnya Levi yang banyak menghabiskan waktu dengan Axlyn selama menjadi salah satu anak buah kepercayaannya.


Sisanya mereka hanya menceritakan apa yang terjadi setelah Levi dan Lucia kembali, dimana permasalahan yang berhubungan dengan masa lalu Axlyn sebagai pembunuh bayaran terbuka kembali.


Sementara itu, siapa sangka Ashlyn malah pergi ke sebuah jembatan yang di bawahnya terdapat anak sungai yang airnya mengalir dengan deras. Dia menatap pada derasnya airi di bawah jembatan itu dengan perasaan yang berkecamuk.


Terlintas keinginannya untuk bunuh diri, mengingat kehidupan berat yang harus dia tanggung seorang diri selama ini. Beruntung, Alicia selalu mengikutinya sehingga ketika Ashlyn berniat menaiki pembatas jembatan itu dia langsung menghentikannya.


“Kak Lyn, apa yang ingin Kakak lakukan, Hah!” bentak Alicia begitu berhasil menarik tubuh Ashlyn turun dari pembatas jembatan itu.


“Kakak ingin meninggalkanku juga seperti yang Kak Axlyn lakukan hanya karena laki-laki itu,” teriak Alicia sambil menangis terisak genggaman tangannya pada Ashlyn tidak dia longgarkan sedikitpun.


Tangannya yang gemetar malah semakin mempererat genggamannya pada tangan Ashlyn. Sungguh Alicia sangat takut kakaknya akan berbuat nekad dengan bunuh diri melompat dari jembatan itu.


Hingga akhirnya Alicia tidak kuat untuk berdiri saking gemetarnya, tubuh Alicia bahkan ambruk sambil menangis terisak tanpa melepas genggaman tangannya pada Ashlyn.


“Jangan lakukan hal bodoh, Kak! Aku mohon, jangan tinggalkan aku seperti Kak Axlyn, Hiks, ….”


Alicia memohon seraya menangis sesenggukan, hingga membuat hati Ashlyn tersentuh dan langsung merengkuh tubuh adiknya yang gemetar ketakutan itu.

__ADS_1


“Maafkan Kakak, Alicia! Dan terima kasih sudah menyadarkan Kakak bahwa masih ada kamu yang harus Kakak lindungi, Hiks, …”


Ashlyn pun tak kuasa menahan tangisnya lagi. Kakak beradik itu akhirnya menangis di pinggir jembatan sambil berpelukan erat.


Saling menyemangati dan menghibur satu sama lain tanpa memperdulikan tatapan orang-orang yang berlalu lalang di daerah itu.


Setelah merasa puas menangis, Ashlyn pun membawa adiknya untuk mencari tempat duduk yang nyaman untuk mereka bicara. Hingga mereka menemukan sebuah taman dan memilih untuk duduk di salah satu bangku taman yang ada di sana.


Sesaat keduanya masih saling diam, Alicia takut salah untuk memulai pembicaraan mereka sehingga dia lebih memilih untuk menunggu Kakaknya saja yang mulai bicara.


“Kenapa kau mengikuti Kakak, Hmm?” tanya Ashlyn dengan suara seraknya karena habis menangis.


“Kalau aku tidak mengikuti Kakak, mungkin saat ini Kakak sudah meninggalkan aku seperti Kak Axlyn. Hiks, … Hiks, …” jawab Alicia di sela isak tangisnya.


“Kakak tidak boleh seperti itu lagi, Hiks, … Licia takut, Huhuuu, ….”


Akhirnya tangisan Alicia kembali pecah mengingat bagaimana nekadnya Ashlyn mau melompat dari jembatan itu.


“Maaf, Kakak tidak akan mengulanginya lagi! Kakak janji!” ucap Ashlyn seraya menautkan jari kelingkingnya.


^^^Bersambung, ....^^^


...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...


...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari....


...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...


...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...


...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....


...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...


...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...


...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...

__ADS_1


...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...


__ADS_2