Ashlyn, Bukan Cinta Pengganti

Ashlyn, Bukan Cinta Pengganti
Hampir Ketahuan


__ADS_3

“Ta-tapi Tuan, _....”


“Hust, … Bukankah tugas kalian melindungi ku selama di sini?”


Luca segera memotong perkataan Max. Lalu mempertegas tugas dan tujuan mereka sebagai pengawal pribadinya yang di balas hanya dengan anggukan kepala keduanya sebagai jawaban.


Meski mereka tidak tahu apa yang sedang di rencanakan Tuan mudanya itu, tetapi mereka harus mengakui bahwa keberadaan mereka di sana sebagai pelindung untuk Luca.


“Bagus, kalian akan tahu sendiri! Mengapa aku ingin Max menggantikanku menemui mereka,” ujar Luca setiap katanya seakan penuh arti tersembunyi di dalamnya.


“Baik, Tuan! Saya akan melakukan sesuai perintah dan arahan dari anda,” sahut Max yang mau tidak mau harus menerimanya.


“Ouhya, … Sebelum kau pergi menemui mereka, aku ingin kau mengurus sesuatu!” ujar Luca lagi.


“Baik, Tuan muda! Silahkan katakan saja apa yang anda butuhkan!” Max sudah siap melaksanakan perintah lainnya.


“Ini bukan untukku!” Luca menjeda perkataannya.


“Ini untuk Ibu dan kedua adik Axlyn, mereka sedang dalam kesulitan uang,” jelas Luca.


“Max, temuilah pemilih yayasan sekolah yang berada di dekat sini! Adik bungsu Axlyn yang bernama Alicia menempuh Pendidikan di sana!"


"Katakan kepada pemilik Yayasan bahwa aku yang akan membayar biaya Pendidikan Alicia hingga lulus dari sana! Dan kau pasti tahu apa yang harus di lakukan untuk menutupi identitasku.” Luca pun menyampaikan keinginan sekaligus perintahnya.


“Baik, Tuan muda!” sahut Max.


“Begitu juga dengan biaya pengobatan untuk Ibunya, lakukan sesuai yang tadi!” imbuh Luca.


“Siap, laksanakan Tuan muda!” seru Max penuh antusias.


“Tuan muda, lalu bagaimana dengan hutang Ashlyn kepada para rentenir itu? Haruskah kita juga melunasinya secara diam-diam?” tanya Maat yang teringat pertunjukan Action yang di lakukan Luca kepada pra preman tidak dathu diri itu. Walaupun para preman itu sudah tinggal di penjara selama sisa hidupnya.


“Lakukan saja dengan rapi,” jawab Luca yang menyetujuinya.


“Baik, Tuan muda! Kalau begitu kami akan menempatkan beberapa orang untuk melindungi anda secara diam-diam,” jelas Max yang tidak akan pernah melepaskan pengawasan sedikitpun terhadap keselamatan Luca. Sebab keselamatan Luca adalah keselamatan mereka berdua juga.


“Terserah kalian saja,” sahut Luca masa bodoh.


“Kalau begitu kami pamit undur diri sekarang untuk melaksanakan tugas,” pamit Max dan Matt yang membungkuk memberi hormat pada Luca sebelum mereka pergi.


“Pergilah!” usir Luca.


Namun, siapa sangka ternyata kejadian itu di lihat secara langsung oleh Ashlyn yang tengah berjalan kembali menuju ke mini market.

__ADS_1


Dia melihat yang Ashlyn ketahui adalah Max dan Matt tengah membungkuk di hadapan Luca, lalu berjalan pergi dari area mini market.


“Luca!”


Panggilan dari seseorang yang terdengar tidak asing membuat Luca seketika terkejut dan langsung menoleh ke sumber suara. Namun, berkat wajah dinginnya, rasa terkejut itu sama sekali tidak terlihat di wajahnya.


“Sial, apakah tadi dia melihatnya?” batin Luca mengumpat.


“Ashlyn, kau dari mana saja?” tanya Luca yang berpura-pura tidak mengetahui apapun.


“Maaf, aku tadi pergi begitu saja. Sebab aku harus membicarakan hal yang sangat mendesak adikku,” jawab Ashlyn.


“Ouh, … Jadi, siswi sekolah tadi adalan adik bungsumu?” Luca kembali bertanya untuk menutupi rasa gugupnya.


“Emm, … Namanya Alicia, dia masih sekolah kelas 3!”


Ashlyn menjawabnya singkat, hingga membuat Luca hampir kehabisan topik pembicaraan.


“Lalu dimana dia? Kenapa kau hanya kembali sendirian?”


Beruntung Luca adalah anak genius sejak kecil, sehingga dia tetap bisa menemukan topik dalam kepanikannya.


“Dia langsung pergi ke rumah sakit untuk menemani Ibu!” Ashlyn kembali menjawabnya dengan singkat.


“Aduh, … Apalagi yang harus aku tanyakan untuk mengalihkan Ashlyn dari kejadian yang sudah pasti di lihatnya barusan? Ayolah Luca berpikir, gunakan otak geniusmu itu! Tidak mungkin ‘kan aku menanyakan topik pembicaraan pribadi mereka?” batin Luca yang berpikir keras untuk mencari topik pembicaraan yang lainnya.


Namun, sepertinya kali ini otak genius Luca kalah cepat. Ashlyn sudah menanyakannya, sebelum Luca membuka topik pembicaraan lainnya.


“Iya, benar itu mereka berdua!”


Dan bodohnya Luca membenarkannya, seharusnya dia menyanggahnya dan mengatakan bahwa itu pria yang berbeda.


“Benarkah? Tapi kenapa dia membungkuk padamu? Padahal pekerjaan mereka jauh lebih tinggi darimu?”


Inilah yang Luca takutkan, Ashlyn mulai mencecar Luca dengan apa yang di lihatnya barusan.


“Hah, membungkuk padaku? Kau mungkin salah lihat.” Benar, seharusnya Luca menyanggahnya sejak awal.


“Tidak, aku melihat jelas mereka membungkuk padamu seperti ini!”


Ashlyn bersikeras akan kualitas penglihatannya, bahkan dia langsung mempraktekan apa yang dia lihat dengan sama persis.


“Ouh, … Itu, tadi uang kembalian Max jatuh! Mereka berdua berebut untuk mengambilnya, jika kau mengenal mereka lebih takut kau pasti akan mengetahui bahwa keduanya sangat gila uang.”

__ADS_1


Akhirnya otak genius Luca kembali lagi dan dia berhasil menemukan alasan yang tepat untuk menjelaskan kejadian itu.


Walaupun Ashlyn masih terlihat tidak percaya dengan penjelasannya, tapi alasan Luca memang cukup masuk akan.


“Ouh, … Begitu! Memangnya kau sangat dekat dengan mereka ‘yah?” tanya Ashlyn yang penasaran dengan kedekatan ketiganya.


“Tentu saja, kami menyewa satu rumah yang sama! Sebenarnya itu rumah milik boss mereka, tapi aku ikut tinggal dan membayar uang bulanan,” jelas Luca yang sudah pasti sangat berbohong, kecuali saat mengatakan bahwa rumah itu adalah milik dari Tuan Max dan Matt.


“Ouh, … Ashlyn, sebentar lagi jam kerja di sini sudah selesai! Apakah kau akan bekerja lagi di tempat lain?” sambung Luca mengalihkan topik pembicaraan.


“Apa kau juga mau ikut bekerja lagi?” tanya Ashlyn yang langsung bisa menebaknya.


“Emm, … Kalau boleh! Lumayan untuk tambahan membayar uang sewa,” jawab Luca membenarkan dan beralasan.


“Tentu, tapi tempat kerjaku yang satu ini cukup berbahaya! Apa kau yakin tetap mau bekerja di sana?”


Ashlyn menjelaskan secara singkat, bukan bermaksud menakuti Luca tetapi tempat itu memang cukup berbahaya bahkan terutama untuk dirinya.


Namun, mau bagaimana lagi dia membutuhkan uang untuk membayar biaya sekolah sang adik dan pengobatan ibunya.


“Jika berbahaya kenapa kau bekerja di sana?” tanya Luca yang menatap Ashlyn secara menyelidik.


“Aku butuh uang banyak, makanya aku mengambil pekerjaan itu,” jawab Ashlyn yang tidak menutupinya lagi.


“Aku juga butuh uang, sepertinya tidak masalah juga aku bekerja di tempat berbahaya itu,” ujar Luca yang sengaja mengalihkan pembicaraan, sebab dia tahu apa yang di rasakan Ashlyn saat ini.


Inilah Luca, dia akan selalu menunjukan wajah dan sikap dinginnya kepada orang lain. Tapi saat berhadapan dengan keluarganya dan juga Ashlyn, sikap Luca bisa menghangat.


^^^Bersambung, ....^^^


...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...


...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari....


...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...


...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...


...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....


...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...


...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...

__ADS_1


...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...


...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...


__ADS_2