
“Wow, … Benarkah ini menantuku yang di kenal sebagai bocah psikopat dan dewa kematian? Kenapa kau tiba-tiba terdengar seperti seorang malaikat?” Luca menatap Levi tidak percaya.
“Mungkin itu karena efek samping bagi calon seorang ayah, makanya seperti itu!” sahut Rayden sembari menepuk bahu Luca dan berjalan mendahuluinya.
“Waah, … Kekuatan seorang ayah memang menakjubkan.” Luca pun ikut menepuk bahu Levi dan berjalan mengikuti papahnya.
“Aish, … Anak sama Bapak sama saja kelakuannya! Asal bicara salah, bicara serius juga salah. Memangnya aku tempatnya salah apa?” gerutu Levi yang menatap kesal pada keduanya.
Pintu ruangan rawat Lucia terbuka perlahan, lalu menampilkan sosok Rayden yang memasuki ruangan itu di susul oleh Luca dan Levi di belakangnya.
Lucia pun tersenyum bahagia, karena pada akhirnya dia bisa melihat Kakak tersayangnya itu yang tersenyum tipis sambil berjalan menghampirinya.
“Bagaimana keadaanmu dan twin’s babynya?” tanya Luca seraya mengelus lembut puncak kepala adik kesayangannya.
“Kami baik-baik saja!” jawab Lucia sembari meraih tangan Luca yang mengelus puncak kepalanya dan menggenggamnya dengan erat.
“Bagaimana dengan Kakak? Apakah semuanya baik-baik saja?” Kini Lucia yang balik menanyakan keadaan Kakaknya.
“Selain sedikit tertekan, semuanya baik-baik saja! Jangan khawatirkan tentang Kakak lagi, jaga keponakan kembar Kakak ini saja dengan baik,” ujar Luca sembari mengelus pelan perut buncit adiknya.
“Bagaimana Luci tidak khawatir ketika mengetahui Kakak yang paling Luci cintai terus berada bahaya di negara asing ini,” ucap Lucia mengeluarkan kekhawatirannya selama ini.
“Kakak akan ikut pulang bersama kalian, setelah meminta maaf pada keluarga Axlyn,” ujar Luca yang membuat semua orang langsung bernapas lega setelah mendengarnya.
“Kakak janji?” Lucia ingin lebih memastikan.
“Kakak janji!” ucap Luca seraya mengecup puncak kepala Lucia.
Zhia langsung memeluk suaminya ketika mendengar keputussan Luca, dia sungguh bangga memiliki putra seperti Luca yang selalu mendengarkan nasehat baik dari orang tuanya.
Begitu juga dengan Julia dan Noland yang tidak mau ketinggalan untuk menunjukkan keromantisan mereka.
“Lalu kapan kau akan menemui mereka?” tanya Noland yang tanpa sadar sedikit merusak suasana.
“Mungkin besok, lebih cepat lebih baik! Sebab jika aku tidak mendapat maaf dari mereka, maka aku bisa meminta maaf lagi di hari berikutnya sampai batas waktu yang mamah tentukan habis,” jawab Luca yang berhasil membuat keluarganya merasa semakin lega mendengarnya.
“Keputusan yang bagus, Nak!” puji Julia pada cucu kebanggaannya itu.
“Luci juga harus ikut minta maaf kepada mereka!” seru Lucia yang tidak mau di tinggalkan, sebab dia juga merasa menjadi salah satu penyebab kematian Axlyn.
__ADS_1
“Kita semua akan meminta maaf kepada keluarga Axlyn, karena kita semua berhutang nyawa dan jasa kepada Axlyn!” ujar Rayden yang berhasil menenangkan Lucia yang perasaannya sedang sangat sensitive itu.
“Benar, sekarang istirahatlah! Kakak akan tetap di sini untuk menemanimu bersama dengan suamimu ini. Tidurlah, Twin’s babynya pasti sudah lelah menghadapi mommynya yang sangat keras kepala ini,” perintah Luca yang mencubit gemas pipi chubby adik kesayangannya itu.
“Benar, Nak! Ibu hamil harus banyak istirahat agar baby yang masih di dalam perut sehat selalu, sebaiknya kau istirahat sekarang,” ujar Zhia membenarkan ucapan Luca.
“Sebaiknya Papah, Mamah, Grandpa dan Grandma juga kembali saja ke Villan untuk beristirahat. Biar Luca dan Levi yang akan menjaga Lucia di sini,” ujar Luca yang tahu mereka juga pasti lelah dengan serangkaian peristiwa yang terjadi.
“Baiklah, tanpa kau mengusirnya kami akan pergi,” goda Rayden untuk sedikit mencairkan suasana tegang itu.
“Bukan seperti itu maksud Luca, Pah!”
Luca berusaha membela diri dan menjelaskan maksud ucapannya barusan, tapi Zhia sudah terlebih dulu menjelaskan bahwa Rayden hanya ingin menggodanya saja.
“Jangan khawatir, Papahmu hanya ingin sedikit menggodamu saja! Kami pulang lebih dulu, besok pagi kami datang lagi untuk membawa sarapan untuk kalian,” ujar Zhia yang berjalan menghampiri Luca dan memeluknya.
“Iya, Mah!” sahut Luca yang membalas pelukan hangat cinta pertamanya itu.
Tentu, bagi seorang anak laki-laki sang ibu merupakan cinta pertamanya. Begitu juga dengan anak perempuan yang akan menganggap ayahnya sebagai cinta pertama dalam hidupnya. Sebab kata pertama yang akan di ucapkan oleh seorang anak begitu bisa bicara pasti ‘Mamah dan Papah'.
“Jaga adikmu dengan baik,” pesan Julia yang bergantian memeluk Luca.
“Kau juga Levi, apalagi yang membuat perut cucuku membesar seperti itu,” ujar Julia yang hanya menggoda Levi dan Lucia.
“Pasti, Grandma!” Levi menjawabnya dengan cepat.
“Grandma, _...”
“Grandma hanya bercanda, sayang!” ujar Julia seraya mencium kedua pipi Lucia dengan gemasnya.
“Kami pergi sekarang!” pamit Rayden mewakili yang lainnya.
“Hati-hati di jalan!” pesan Lucia.
Setelah itu, satu persatu Rayden dan yang lainnya pun keluar meninggalkan ruang rawat Lucia.
Sehingga ruangan itu seketika terasa hening hanya tersisa Lucia, Levi dan Luca saja. Dimana ketiganya kembali diam dan hanyut dalam pikirannya masing-masing.
“Kak!” panggil Lucia.
__ADS_1
“Jangan bertanya apapun lagi, sekarang istirahat saja dan simpan pertanyaan itu untuk besok saja!” tukas Luca menekankan adiknya untuk segera tidur.
“Benar, Sayang! Baby pastinya juga sudah mengantuk, sebaiknya kau tidur sekarang! Atau kau merasa ada yang tidak nyaman?” Levi menanyakan dengan wajah khawatir.
Lucia menganggukan kepalanya dan berkata, “Baby, ingin di elus Daddynya!”
Levi akhirnya tersenyum bahagia mendengar pemintaan manja Lucia. Berbeda dengan Luca yang bergidik ngeri melihat kebucinan sang adik dengan Levi itu.
Bukan Lucia namanya kalau tidak mengumbar kemesraan di depan Kakaknya yang jumbo akut, karena sikap dinginnya kepada wanita yang ingin mendekatinya.
“Aish, … Kalian hanya menjadikan aku sebagain obat nyamuk di sini! Kakak menyuruhmu tidur, bukan bermesraan seperti ini. Tidak sopan!” protes Luca yang menatap adiknya dengan kesal dan malas.
“Bilang saja Kakak iri! Makanya cepat halalin Ashlyn ‘gih, sebelum di ambil sama pria lain!” ujar Lucia yang malah menjodohkan Luca dengan Ashlyn, padahal dia sendiri mengetahui bahwa mereka sedang bertengkar.
“Aish, … Melihat Luca saja Ashlyn merasa tidak sudi, apalagi minta di halalin,” celetuk Levi yang langsung mendapat tatapan tajam dari Luca.
“Aish, … Sebaiknya aku pergi saja dari sini dari pada mendengar omong kosong pasangan bucin seperti kalian!” ujar Luca yang berjalan keluar dari ruangan itu.
“Kakak mau kemana? Katanya mau menjagaku!” seru Lucia yang sedikit merasa bersalah ketika melihat Luca lebih memilih pergi karena perkataannya.
“Kakak mau cari angin sebentar di depan!” sahut Luca yang kemudian meninggal Lucia dan Levi berdua di dalam kamar rawat itu.
^^^Bersambung, ....^^^
...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...
...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari....
...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...
...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...
...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....
...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...
...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...
...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...
__ADS_1
...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...