
Disaat yang bersamaan, Luca tiba di lokasi Leo dan melihat Joana sedang berada dalam bahaya. Tanpa pikir panjang Luca langsung melesat untuk melindungi Joana, alhasil Luca sendiri yang terkena tusukan dari orang tersebut pada perut bagian kanannya.
Beruntung, luka tusukan itu tidak terlalu dalam dan Luca berhasil membunuh orang tersebut dengan menggunakan pisau yang tadi di gunakan untuk menusuk tubuhnya.
“Anda tidak apa-apa?” tanya Luca memastikan keadaan Joana.
“Mamah!” pekik Leo yang segera menghampiri Mamahnya begitu tersadar bahwa tadi Mamahnya berada dalam bahaya.
“Joana, kau tidak terluka ‘kan, Sayang!” seru Simon yang segera menghampiri putrinya sambil memapah Ashlyn.
“Kau terluka, Nak!” ujar Joana yang sangat jelas melihat Luca tertusuk pada bagian perutnya, karena melindungi dirinya.
Joana bahkan mengabaikan pertanyaan dari Simon dan malah menanyakan keadaan Luca yang telah menolongnya.
“Tidak masalah! Leo sebaiknya kau bawa Mamahmu dan mereka ke tempat yang aman! Aku yang akan mengurus sisanya di sini,” perintah Luca pada Leo.
“Ta-tapi kau terluka, _....”
“Jangan khawatirkan aku! Kau pastikan saja mereka berada di tempat yang aman,” potong Luca yang tidak memiliki banyak waktu melihat anak buah Josh yang semakin bertambah jumlahnya entah datang dari mana.
“Lu-Luca, …” Lirih Ashlyn dengan sisa tenaganya.
“Tidak apa-apa! Semuanya akan baik-baik saja,” ujar Luca menyakinkan Ashlyn seraya membelai wajah pucat Ashlyn dengan penuh kelembutan.
“Cepat bawa mereka pergi, Leo!” teriak Luca sembari membasmi para musuh yang mencoba mendekati mereka.
“Pergilah, aku yang akan membantunya di sini!”
Tiba-tiba Levi muncul entah dari mana. Tak ingin bersikap keras kepala di saat seperti ini, Leo pun langsung saja membawa Mamahnya pergi dari lokasi pertarungan.
Di ikuti Simon yang membantu Ashlyn berjalan, Matt, Max dan Vinno yang di gendong oleh anak buah Felix.
“Kau ikuti mereka dan pastikan mereka aman,” ujar Luca pada Levi, karena masih tidak tenang meninggalkan mereka pergi tanpa perlindungan.
“Lalu bagaimana dengan kau?” tanya Levi yang ragu mengikuti keputusan Luca.
“Aku bisa mengatasinya sendiri, lagi pula aku sudah berjanji pada istrimu untuk kembali dengan selamat,” jawab Luca sedikit menyunggingkan senyuman di tengah gempuran para musuhnya.
“Baiklah, tetaplah bertahan sampai aku kembali!” ujar Levi yang segera mengikuti Leo dan yang lainnya.
__ADS_1
Dor, … Dorr, … Dorrr, ….
Tiba-tiba suara tembakan terdengar saling bersahutan, hingga membuat pertarungan sengit tersebut sempat berhenti.
Ternyata serangan tembakan itu berasal dari anak buah Levi yang membantu membuka jalan untuk Leo dan yang lainnya serta melindungi Luca dari para musuh yang hanya menargetkannya.
“Hahahaa, … Dasar bocah psikopat! Dia memang selalu bisa di andalkan,” ujar Rayden yang sangat puas dengan hasil pekerjaan Levi dan anak buahnya.
Cukup jauh Leo berjalan hingga mereka kini tiba di lokasi mobil Rayden dan yang lainnya di parkirkan. Ternyata di dalam mobil itu, ada Regis yang tengah menghubungi rumah sakit untuk mendatangkan beberapa ambulance. Di saat yang bersamaan pasukan Jaydon, Ryuga dan Rayga juga tiba di sana.
“Ouh, … Kalian sudah tiba?” tanya Levi dengan bodohnya.
“Yaa, … Bagaimana dengan Kak Luca dan yang lainnya?” tanya Rayga.
“Pertarungan masih berlangsung, aku harus kembali ke sana! Kalian tolong urus orang-orang ini,” jawab Levi yang segera berbalik dan berlari menuju lokasi pertarungan lagi.
“Kakek, tolong jaga Mamah! Aku akan membantu mereka,” ujar Leo yang mempercayakan Mamah dan Kakeknya pada Jaydon dan dia langsung menyusul Levi pergi ke lokasi pertarungan yang masih berlangsung.
Beralih pada Yuta yang berusaha sekuat tenaganya untuk membunuh Josh, meski kemampuannya cukup berbeda jauh.
Setidaknya Yuta bisa mengulur waktu agar bajingan bernama Josh itu tidak mendekati Tuan dan Nyonya yang dia layani selama ini.
Trangg, ….
“Lawanmu yang sesungguhnya adalah aku!” seru Luca begitu berhasil menangkis pedang yang di ayunkan oleh Josh kepada Yuta.
“Hahahaa, … Baguslah, kalau kau datang sendiri mengantarkan nyawamu kepadaku,” ujar Josh di sertai tawanya yang seperti orang gila.
“Dia tidak akan pernah sendirian, karena mulai detik ini aku akan selalu berdiri di sampingnya!” seru seseorang yang membuat Luca dan Yuta membelalakkan kedua bola matanya.
“Tu-Tuan muda,” ucap Yuta terbata-bata, dia sangat terkejut dengan kedatangan Leo.
“Kenapa kau berada di sini? Bagaimana dengan Ibumu, Ashlyn dan yang lainnya?” cecar Luca yang juga terkejut dengan keberadaan Leo.
“Mereka sudah berada di tempat yang aman, di bawah perlindungan ketiga adik kembarmu!” ujar Leo sedikit menyunggingkan senyumannya.
“Ouh, … Baguslah, meski mereka selalu membuat masalah tapi masih bisa di di percaya,” sahut Luca yang membalas senyuman Leo.
“Bagaimana kalau sekarang kita focus saja pada bajingan ini! Aku memiliki dendam pribadi yang harus di selesaikan saat ini juga.” Leo mengeluarkan dua buah belati panjang pemberian Kakeknya.
__ADS_1
“Tentu! Aku juga harus menagih banyak hutang nyawa padanya. Mari kita lakukan ini bersama,” ujar Luca mengajak Leo untuk bekerja sama menghabisi Josh.
“Dengan senang hati,” sahut Leo.
“Kalian pikir bisa membunuhku dengan mudahnya! Jangan pernah bermimpi!” seru Josh yang langsung saja menyerang Luca dan Leo secara bergantian.
Baik Luca maupun Leo sama-sama menangkis serangan tersebut. Tidak hanya itu, Luca mempercayakan Leo untuk menahan serang tersebut, sedangkan dirinya memberikan serangan balasan dengan menusukan pedang yang berada di tangannya ke bahu Josh.
Sehingga serangan Josh mulai melemah dan kini gentian Leo yang melakukan serangan. Tanpa ampun, Leo menusukan kedua belati yang ada di tangannya pada tubuh Josh. Luca dan Yuta sampai terkejut melihat betapa menggilanya Leo saat itu.
“Hahahaa, … Ayah dan anak memang tidak ada bedanya! Kelakuannya saat ini mengingatkanku pada Paman Evan,” gumam Luca yang entah mengapa tertawa melihat Leo yang begitu mirip dengan Paman baik hati yang dia kenal tapi harus mati di tangannya sendiri.
“Sudah cukup, Leo! Kau membuat pengawalmu menjadi takut,” ujar Luca mengingatkan Leo untuk berhenti.
Apalagi melihat Josh yang sudah tidak bergerak sama sekali dengan dua bilah belati yang masih menancap di perutnya.
“Aish, … Jika aku memiliki sepuluh belati, maka aku akan menancapkan semuanya pada tubuh bajingan ini!” geram Leo yang terus saja mengingat bagaimana Josh ingin membunuh seluruh keluarganya.
“Sudah cukup! Dia juga sudah mati di tanganmu, sebaiknya kita kembali sekarang,” jelas Luca memberikan Leo pengertian.
^^^Bersambung, ....^^^
...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...
...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari....
...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...
...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...
...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....
...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...
...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...
...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...
...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...
__ADS_1