
Namun, begitu keluar Luca malah melihat Vinno yang baru saja masuk ke dalam ruang rawat Bu Hanna yang berada tepat di sebelah ruang rawat Lucia.
Alhasil membuat Luca terpaksa menghampiri pintu yang tertutup rapat itu, karena penasaran dengan apa yang terjadi di dalamnya.
Akan tetapi, Luca tidak bisa mendengar maupun melihatnya karena memang pintu ruangan rawat itu tertutup dengan sangat rapat.
Akhirnya Luca pun memutuskan untuk menunggunya di luar saja, siapa tahu ada seseorang yang keluar dari ruangan itu. Tapi jangan Ashlyn, sebab dia belum siap untuk berhadapan dengannya lagi.
Benar saja, tak lama kemudian Vinno kembali keluar lebih tepatnya di usir paksa oleh Ashlyn. Sontak, Luca pun segera balik badan untuk menyembunyikan wajahnya agar tidak di kenali.
Ketika mendengar suara pintu yang di tutup dengan kasar, Luca pun langsung berbalik dan menhampiri Vinno yang tengah tertunduk lesu di depan ruangan rawat Bu Hanna.
“Hay, apa yang terjadi?” tanya Luca dengan nada berbisik takut ada yang mendengarnya.
“Kau? Kenapa kau bisa berada di sini?” tanya Vinno balik tanpa memberikan jawaban atas pertanyaan Luca sebelumnya.
“Itu tidak penting! Yang terpenting saat ini apakah kau baru saja di tolak oleh istri dan putrimu sendiri?” tanya Luca mencoba menebak apa yang terjadi pada Vinno di dalam sana.
“Hanya putri keduaku yang menolak, sedangkan istri dan anak bungsuku sepertinya mau menerimaku kembali,” jawab Vinno yang tidak yakin sama sekali.
“Emm, … Ashlyn memang sangat menakutkan kalau sedang marah, bahkan lebih menakutkan di bandingkan Axlyn,” gumam Luca tanpa sadar membandingkan keduanya.
“Haish, … Sebenarnya kau menyukai putri pertamaku atau putri keduaku, Hah?” ujar Vinno menekankan.
Luca hanya bisa diam ketika mendapat pertanyaan seperti itu. Sebab Luca sendiri sekarang sudah tidak mengetahui jawabannya. Semenjak Ashlyn mengetahui segalanya dan menjauhinya, Luca tidak bisa lagi mengatakan bahwa hanya Axlyn di hatinya.
“Sudahlah, siapapun kau kau sukai pastikan saja kau tidak akan menyakitinya. Karena ada aku, Ayahnya yang akan membalas sakit hati yang di rasakan oleh putriku,” ujar Vinno yang merasa Luca sudah cukup mengerti dengan maksud ucapannya.
“Kau mau kemana?” tanya Luca yang menghentikan Vinno yang berniat meninggalkannya begitu saja.
“Tentu saja pulang ke rumah agar bisa memikirkan cara agar istri dan anakku mau menerimaku kembali,” jawab Vinno sesuai apa yang sedang di rencanakan oleh otaknya.
“Bye, … Aku pergi dulu!” Vinno lalu berjalan pergi meninggalkan Luca yang kembali terdiam di tempatnya.
“Benar, … Cara untuk meminta maaf!” gumam Luca yang menyadari bahwa meminta maaf dengan setulus hati kepada seseorang yang di lukainya sangatlah tidak mudah.
Flashback On, .....
Sementara yang terjadi di dalam ruang rawat Bu Hanna tengah di landa suasana yang sedikit tegang dan kesedihan.
__ADS_1
Ketika Vinno memasuki ruangan itu, Bu Hanna dan kedua putrinya memang belum tidur sama sekali. Mereka tenggah saling berbagi cerita seolah hal itu sudah menjadi kebiasaan wajib bagi keluarga kecil itu.
Dimana Bu Hanna dan Alicia dengan antusias menceritrakan tentang keluarga pasien yang ruangannya tepat berada din sebelahnya. Tapi mereka sama sekali tidak menyebutkan tentang nama keluarga Xavier.
Sedangkan Ashlyn hanya menjadi pendengar, sebab dia tidak mungkin menceritakan kejadian mengejutkan yang di alaminya sepanjang hari itu.
“Ibu, berhentilah menceritakan tentang pasien sebelah! Sebaiknya Ibu istirahat sekarang, hari sudah sangat larut,” ujar Ashlyn yang mengingatkan Ibunya untuk beristirahat melihat jam yang sudah menunjuk hampir tengah malam.
“Kau juga, Alicia! Bukankah kau besok harus pergi ke sekolah!” Ashlyn beralih mengingatkan adik bungsunya.
“Siap, Kak! Licia juga sudah sangat mengantuk,” sahut Alicia yang beranjak ke ranjang tambahan yang adi di dalam ruangan itu.
Namun, baru saja Alicia ingin membaringkan tubuhnya. Tiba-tiba pintu ruangan mereka perlahan terbuka memperlihatkan seorang pria yang berjalan masuk dengan membawa sebuah buket bunga.
Terlihat jelas reaksi terkejut Hanna dan Ashlyn ketika menyadari bahwa pria itu adalah Vinno, kekasih atau suami rahasia Hanna sekaligus ayah dari Axlyn, Ashlyn dan Alicia.
“Vi-vinno!”
Suara Bu Hanna sampai tercekat melihat kehadiaran pria yang sangat dia rindukan selama ini. Bahkan matanya sampai berkaca-kaca menahan air mata yang hampir terjatuh membasahi pipi tirusnya.
Berbeda dengan Ashlyn yang langsung berdiri dari tempat duduknya dan langsung mendorong Vinno keluar dari ruangan mereka.
“Ashlyn, tolong biarkan Ayah bicara dengan Ibumu sebentar saja!” pinta Vinno dengan wajah memelas dan memohon agar Ashlyn memberinya kesempatan untuk menjelaskan segalanya.
“Tidak akan! Sebaiknya kau pergi sekarang, sebelum aku panggil keamanan untuk menyeretmu keluar dari sini!” ancam Ashlyn sembari mendorong kuat tubuh Vinno, hingga keluar dari ruangan tersebut.
“Ash, _....”
BRAKK, …
Seperti yang di lihat oleh Luca, Ashlyn langsung menutup pintunya dengan sangat keras tanpa memperdulikan ocehan yang di lontarkan oleh Vinno. Begitu berbalik badan Ashlyn langsung di hadapkan dengan tatapan yang menuntut penjelasan dari Bu Hanna dan Alicia.
Flashback Off, ....
“Kak, apakah pria tadi adalah Ayah yang selama ini kita cari?” tanya Alicia dengan air mata yang sudah bercucuran membasahi wajah manisnya, tapi Ashlyn tetap diam.
“LynLyn, apakah selama ini kau sudah bertemu dengan Ayahmu dan, _....”
“Aku lelah! Aku ingin istirahat sekarang!”
__ADS_1
Ashlyn langsung memotong perkataan Bu Hanna, lalu dia berjalan menuju ke tempat biasanya dia tidur dan langsung membaringkan tubuhnya.
Dia tidak peduli dengan pertanyaan yang di lontarkan oleh Ibu kesayangan maupun tangisan Alicia.
Ashlyn sendiri juga tengah menangis dalam diam, hingga tanpa sadar dia mulai tertidur saking lelahnya menghadapi kenyataan yang ada.
...****************...
Semalam penuh akhirnya Luca tidak tidur sama sekali, karena memikirkan caranya dia minta maaf kepada keluarga Ashlyn.
Hingga pagi pun tiba, Luca sudah siap dengan penampilannya yang hampir di katakan sempurna kecuali kantong mata yang sedikit terlihat jelas bahwa dirinya kurang tidur.
“Hoam, … Pagi sekali kau bangunnya? Memangnya kau tidur jam berapa?” tanya Levi yang baru sadar terbangun dari posisi tidurnya yang tidak nyaman.
Sementara, Lucia masih tidur dengan nyenyak di ranjang rumah sakit yang super mewah. Berkat kekuatan uang, dimana pun kita berada pasti akan merasa nyaman.
Kecuali hati dan pikiran yang tidak bisa di beli dengan uang seberapa banyak pun harga yang di tawarkan.
“Aku tidak bisa tidur sampai sekarang,” jawab Luca dengan santainya.
“Pantas saja, kelopak matamu menghitam,” ujar Levi yang berjalan malas ke arah kamar mandi untuk cuci muka agar merasa lebih segar meskipun tidak mandi.
^^^Bersambung, ....^^^
...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...
...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari....
...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...
...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...
...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....
...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...
...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...
...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...
__ADS_1
...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...