
“Apa aku membuatmu menunggu terlalu lama! Maaf, _....”
“Haruskah aku tidak jadi pulang? Sepertinya kita bisa kembali berteman seperti dulu.”
Perkataan Luca tanpa sadar memotong ucapan Ashlyn membuat gadis itu segera mengubah raut wajahnya.
“Kau sudah berjanji padaku, Luca!” ujar Ashlyn mengingatkan janji yang Luca ucapkan semalam.
“Aah, … Benar!” gumam Luca yang menampilkan raut wajah penuh kesedihannya.
Ashlyn terdiam, dia juga sebenarnya merasakan sakit dan sesak di dadanya. Namun, Ashlyn tidak ingin membiarkan hatinya kembali mengharapkan balasan cinta dari Luca yang dia yakini sangat mustahil untuk terjadi.
“Lebih baik aku merasakan sakitnya sekarang, dari pada harus menanggungnya seumur hidup! Maaf, Luca jika pertemanan seperti dulu lagi yang kau inginkan. Maka aku lebih memilih untuk pergi dari hidupmu,” batin Ashlyn.
“Aku ingin selalu berada di sampingnya! Mendengarkan keluh kesahnya! Menjadi bahu sandaran untuk mengurangi kesedihan, seperti dulu! Namun, apakah semua itu begitu mustahil untukku?” batin Luca yang mengharapkan Ashlyn yang dulu.
Keduanya tanpa sadar larut dalam pemikirannya masing-masing. Sehingga keheningan berlangsung di antara keduanya untuk beberapa saat. Sampai Ashlyn tersadar bahwa sudah waktunya dirinya untuk pergi bekerja di mini market.
“Jika tidak ada lagi yang ingin kau katakan padaku, maka aku harus pergi bekerja sekarang!” ujar Ashlyn menyadarkan Luca dari lamunannya.
“Tu-Tunggu, … Bisakah kau bolos kerja di sana untuk hari ini! Aku ingin menunjukan suatu tempat padamu,” pinta Luca dengan wajah memohon.
“Apakah tempat itu lebih penting dari pekerjaan yang aku dapatkan dengan susah payah?” tukas Ashlyn sampai membuat Luca terdiam.
“Maaf, aku harus berangkat bekerja sekarang! Selamat tinggal, semoga kebahagiaan selalu bersama denganmu, Luca!” ucap Ashlyn yang kemudian berlalu pergi begitu saja tanpa berbalik sedikitpun.
“Maaf, tapi aku sungguh tulus menginginkan kebahagiaan dalam hidupmu, Luca!” batin Ashlyn yang melangkah pergi dengan berderai air mata.
Sedangkan Luca hanya bisa menatap kepergian Ashlyn dengan iringan airmata yang tanpa sadar keluar begitu saja. Siapa sangka begitu sosok Ashlyn benar-benar menghilang dari pandangan matanya, Luca malah menangis terisak sama seperti dia kehilangan Axlyn untuk selamanya.
“Hiks, … Mengapa? Hiks, … Mengapa kepergianmu lebih menyakitkan di bandingkan ketika aku kehilangan Axlyn. Hiks, …”
Dan siapa yang menduga adegan romantis serta memilukan itu malah di saksikan oleh seorang Levi yang di tugaskan oleh Papah Rayden untuk menjemput Luca.
Untuk beberapa saat Levi lebih memilih diam dan memperhatikan semuanya dari kejauhan. Setidaknya menunggu sampai Luca berhasil menghentikan tangisannya yang menyedihkan.
“Haaah, … Kalian sebenarnya saling mencintai satu sama lain, tapi kenapa harus saling menyakiti seperti ini. Namun, sepertinya Luca yang salah dalam mengartikan perasaannya antara untuk Axlyn dan Ashlyn,” gumam Levi ikut merasakan kesedihan mereka.
__ADS_1
“Haruskah aku menggunakan cara Kakek untuk menyatukan mereka berdua?”
Levi berusaha menimbang bantuan seperti apa yang bisa di lakukan untuk hubungan Luca dan Ashlyn yaitu dengan menjebak keduanya dalam satu kamar, lalu memberikan obat perangsang.
Seperti yang Kakek Roman lakukan, sehingga dia bisa menikahi Nona kecilnya yang manis dan menggemaskan.
“Haish, … Tidak bisa dengan cara itu! Bisa-bisa Papah Rayden menggantungku hidup-hidup sebelum melihat anakku lahir, belum lagi dengan ayah kandung Ashlyn yang ketua organisasi pembunuh bayaran. Bisa jadi aku mati tanpa di temukan mayatnya.”
Levi sudah bergidik ngeri hanya sekadar membayangkannya saja.
“Sudahlah, kalau memang mereka di takdirkan pasti pada akhirnya akan tetap bersama! seperti aku dan Nona kecilku,” sambungnya.
Cukup lama Levi harus berdiam diri menunggu Luca menenangkan hatinya. Ketika di rasa Luca sudah merasa jauh lebih baik, Levi pun segera menghampirinya.
Seolah dia tidak melihat apapun yang terjadi dan hanya membawa Luca untuk kembali serta bersiap untuk meninggal negara ini.
“Luca, Papah Rayden mencari mu! Sebaiknya kita pulang sekarang,” ujar Levi dan Luca hanya menatapnya dengan tatapan penuh menyelidik.
“Tenanglah, aku tidak melihat apapun!” ucap Levi seraya sedikit memaksa Luca untuk mengikuti kakinya melangkah.
“Jadi, kau melihat semuanya!” ujar Luca yang menyadari bahwa Levi mengatakan yang sebaliknya terjadi.
“Kau melihat semuanya!” Tapi Luca sama sekali tidak mempercayainya.
“Haish, … Sudahlah, anggap saja aku tidak melihat apapun. Okay?”
Secara tidak langsung Levi mengakui bahwa dia memang melihat semuanya. Luca hanya menatapnya adik iparnya itu tanpa satu kata pun yang keluar dari mulutnya.
Setiba di Villa, semua orang telah bersiap untuk pergi ke bandara. Ternyata Rayden telah mengubah jadwal penerbangan mereka, karena terjadi masalah yang cukup serius di perusahaan. Sehingga mau tidak mau dia memesan penerbangan pagi.
Luca yang sedang berada dalam suasana hati yang buruk hanya bisa diam selama perjalan menuju ke bandara. Bahkan setiap yang mencoba mengajaknya bicara, Luca akan menanggapinya dengan dingin dan acuh tak acuh.
“Bee, ada apa dengan Kak Luca?” tanya Lucia pada Levi yang tadi bertugas menjemput Luca.
“Tidak ada apa-apa! Hanya saja Luca sedang merasa kehilangan sesuatu di hatinya, tapi dia berusaha untuk mengabaikan apa yang hilang itu. Dia sedang berusaha menyangkal perasaannya, makanya jadi seperti itu,” jelas Levi.
“Jadi, biarkan saja untuk sekarang! Begitu dia berhasil menemukan jawabannya, dia akan menjadi Luca yang kita kenal!” sambung Levi.
__ADS_1
“Apa itu karena Ashlyn?” Lucia mencoba menebaknya.
“Siapa lagi memangnya yang bisa membuat Kakakmu menjadi seperti itu.” Levi membenarkan.
“Kalau sudah mengerti, maka jangan mengganggunya lagi dan jangan mengkhawatirkannya seperti anak kecil. Khawatirkan saja keadaan anak-anak kita ini,” imbuh Levi seraya mengelus perut Lucia.
“Iya, Daddy!” balas Lucia yang mengecup bibir Levi sekilas.
Setibanya di bandara, keluarga besar langsung di arahkan pada pesawat pribadi mereka sudah siap untuk lepas landas. Karena terburu-buru, tidak ada yang menyadari bahwa mereka baru saja berpapasan dengan Joana dan putranya yang baru kembali dari luar negeri.
“Mah, kenapa kita harus segera kembali! Bukankah Kakek menyuruh kita untuk tetap berada di sana selama satu minggu lagi?” tanya Leo pada Joana yang tetap berjalan lurus ke depan sambil menarik kopernya.
“Tidak bisa! Kakekmu sepertinya sedang merencanakan sesuatu kepada keluarga Xavier! Mamah tidak bisa tinggal diam saja melihat Kakekmu membuat masalah,” jelas Joana yang terlihat kekhawatiran di wajahnya.
“Bukankah wajar kalau kita membalas dendam kepada mereka, tapi kenapa Mamah sangat menentangnya?”
Pertanyaan Leo kali ini berhasil membuat Joana menghentikan langkahnya dan berbalik menatap tajam pada putra semata wayangnya itu.
“Leo, apa kau pikir membalas dendam akan membuat kita hidup tenang dan bahagia seperti sekarang?”
^^^Bersambung, ....^^^
...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...
...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari....
...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...
...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...
...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....
...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...
...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...
...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...
__ADS_1
...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...