
Ara dan Bagas yang sebenarnya ingin pamit urung ketika melihat Galang yang mengambil kursi dan duduk didekat Abel lalu kemudian ia mencurahkan isi hatinya pada Ara dan Bagas
"gue bingung harus gimana, gue cinta sama Abel tapi gue juga punya baby Chelsea yang udah jadi kewajiban gue buat ngurus dia karena dia tetap anak kandung gue, dan yang gue bingung gimana mungkin Abel bisa nerima gue yang udah punya anak"
Bagas lebih dulu mengusap punggung Ara sebentar lalu kemudian ia mendekat pada Galang dan menepuk pundak Galang yang fokus mengusap tangan Abel
"lo pasti bisa" ucap Bagas singkat menyemangati sang sahabat
Ara juga mendekat dan memberikan semangat "aku yakin pasti Abel bisa nerima baby Chelsea, ini juga kan bukan kesalahan kamu"
"tenang nanti malam pokoknya gue udah dapetin bukti pelaku yang udah buat lo kayak gini, sekarang positif thinking aja"
"thanks ya, kalian bikin gue terharu "
"siallan emang, balik yuk Ra"
"woi tungguin gue juga mau balik" ucap Galang sedikit berteriak dan menyusul Ara juga Bagas yang sudah keluar dari ruangan
setelah kepergian ketiganya ada air bening yang keluar dari mata Abel yang terpejam, semoga ada kabar baik di esok hari
__ADS_1
malam harinya Bagas lebih dulu menghubungi Diko, bukan hal yang sulit karena Diko juga pernah sekelas dengan Bagas dan tentu masih didalam grup yang sama
keduanya bertemu disebuah cafe, dari awal pertemuan Bagas mulai menjalankan misinya dan ternyata Diko tidak termasuk menjadi pelaku bahkan sekarang Diko telah sepakat untuk membantu Bagas
"yang gue tau Fani itu hyper banget sama yang berbau *** jadi cara untuk ngedeketinnya harus ada seorang cowok buat deketin dia" usul Diko
"gue mau rencana ini selesai malam ini, siapa yang bakal jadi cowok itu"
"lo" Bagas sontak menoleh pada Diko, karena mana mungkin ia yang harus rela menjadi korban
"lo tampan dan gue yakin Fani pasti terpikat sama lo, lo gak mesti bertindak berlebihan tapi lo kudu gunain ilmu kedokteran yang lo punya"
"gue yakin lo bisa buat dia mabuk seperti orang terhipnotis dan buat dia keenakan tanpa harus lo jadi bahannya dan saat itu gunain kesempatan yang lo punya dengan sebaik mungkin, gue pasti tetap ikut lo"
"berangkat!" ajak Bagas pada Diko dan bangkit dari duduknya
begitu sampai di klub milik Fani, Diko dan Bagas langsung masuk, keberuntungan pertama sudah ada didepan mata mereka, ya Fani yang mereka incar sedang duduk diatas pangkuan Anton
"gue yakin mereka pacaran, dan kemungkinan besar dalangnya mereka berdua, lets go" ucap Diko yang lanjut menghampiri keberadaan Fani dan Anton
__ADS_1
"hai guys..." lagak Diko menyapa
"loh, haii Dikooo, hai eh eh.. ini Bagas kan ketua kelas kita, hai Bagas... you're more handsome" sapa balik Fani dan tatapannya langsung mengunci Bagas yang menurutnya ketampanan Bagas itu berkali-kali lipat dari dulu yang ia pernah tahu
Anton dengan spontan menarik pinggang Fani "hai bro, kalian berdua barengan kesini ?" tanya Anton lumayan cuek dan Bagas faham bahwa Anton sedang menahan kecemburuannya saat Fani menatapnya dengan tatapan yang haus
dan memang ya, hasrat Fani naik dengan kecepatan penuh ketika melihat Bagas yang sekarang sudah sudi menyapanya, dulu mana mungkin
"I want your drink" ucap Bagas mengambil gelas yang ada ditangan Fani bahkan Bagas langsung meminumnya begitu saja
tatapan Fani reflek beralih pada jakun Bagas yang menonjol saat menelan air tersebut dan sonyak Fani pun menelan air ludahnya
"sorry gue haus banget"
"its ok" sahut Fani cepat
"tapi baju lo jadi basah" tegur Anton sengaja ingin Bagas pergi secepatnya, tapi bukannya sesuai dengan apa yang ia inginkan Bagas malah membuka dua kancing kemejanya dengan begitu semakin nampak dada Bagas yang putih
dan lagi Diko dan Bagas dapat melihat Fani yang menggigit bibir bawahnya seperti sedang menahan sesuatu, apalagi jika bukan jiwa *** nya yang meronta ingin segera dimanjakan dan memanjakan
__ADS_1