Asmara Di Asrama

Asmara Di Asrama
Chapter 16 - Alhamdulillah Selesai


__ADS_3

"Bu Karin Pak Dirgan sekali lagi terimakasih sudah membantu pemakaman anak saya, Maya. Dan saya juga minta maaf atas perlakuan saya tadi pagi"


"Ibu Lisa ga salah kok wajar kalo Ibu tadi pagi bersikap seperti itu orang tua mana yang akan baik-baik saja melihat keadaan anaknya seperti itu"


Ibu Lisa alias Ibunya Maya sudah sangat-sangat ikhlas atas kepergian sang anak dan tidak menuntut apapun lagi kepada Karin setelah mendengar penjelasan Ara dan temannya yang ikut serta dirumah sakit tadi


Karin dan Dirgan tak hanya menolong pemakaman Maya tapi juga akan menggratiskan biaya sekolah Aron adiknya Maya selama sekolah di Bumi dan juga meminta agar Aron tinggal di asrama saja


memang awalnya mereka sebagai orang tuanya Aron menolak karena itu terlalu berlebihan dan juga mereka tidak enak hati sudah menuduh sekolah Bumi tidak becus padahal Maya sendiri yang tidak pernah berbicara jujur jika dia memang sering merasakan sakit dan itu diketahui karena dokter yang menjelaskan bahwa Maya sudah lama menderita sakit Ginjal sampai kronis


dan melihat Aron yang sangat antusias untuk tinggal di asrama merekapun menyetujui keputusan pemilik komplek Bumi tersebut


"oh iya Pak Rama dari kejadian ini saya berfikir akan menambah security lagi bagaimana Pak Rama kerja sebagai security dikomplek Bumi" tawar Dirgan dengan sungguh-sungguh


"ya Allah Pak Dirgan saya itu ga punya pengalaman saya takut ga bisa"

__ADS_1


"gak apa-apa Pak nanti belajar sama Pak Gito security yang digerbang sekalian biar dia punya teman soalnya memang sendiri dia itu, mau ya Pak"


Rama menoleh pada istrinya untuk minta pendapat dan Lisa hanya memejamkan matanya sebentar lalu tersenyum sebagai respon ia setuju


"baik Pak saya terima" jawab Pak Rama lantang dan semangat


"Alhamdulillah kalo gitu besok sudah mulai kerja ya pak" dan Pak Rama mengangguk setuju


"gak cuman Pak Rama, Bu Lisa mau ya jadi tukang masak di Bumi" kini giliran Karin yang menawarkan kerjaan untuk Ibunya Aron


"ja-jangan Bu Karin ini udah berlebihan banget untuk kami"


"mau aja Buk, kan masakan Ibu juga enak" seru sang anak memberi pujian pada ibunya


"nah Aron aja setuju tuh yaudah fiks ya no tolak-tolak, besok biar supir kita yang jemput ya jadi tunggu aja disini, bawa semua ya pakaiannya kan tinggal dikomplek Bumi, kalo mau jenguk rumahnya sesekali boleh kok,ok. Trus kita adain tahlilan untuk Maya dikomplek aja ya, sip deh" ucap Karin yang tak mau mendengar ada penolakan lagi, kalau sudah seperti itu ya mau gimana lagi mumpung rezeki ya kan ?

__ADS_1


"Bagas masalah darah-darah yang gagal dijual oleh orang jahat itu gimana nak ? tanya Dirgan yang memang fikirannya belum seutuhnya tenang


"udah diurus kok Pa tadi sama Galang mereka semua ikhlas nyumbangin darahnya kerumah sakit"


"syukurlah kalo gitu, yaudah sekarang kita pulang ya, emm.. Pak Rama Bu Lisa dan juga Aron karena ini udah sore banget kita semua pamit pulang ya"


"iya Pak terimakasih banyak Pak" jawab pak Rama sambil membungkukkan sedikit badannya dan Dirgan memeluknya sebagaimana laki-laki yang berpelukan


"mari Buk Pak Assalamu'alaikum " ucap kompak remaja-remaja yang sedari tadi hanya menyimak obrolan orang yang lebih tua


"wa'alaikumussalam "


"Alhamdulillah ya seharian ini masalahnya dateng sat set banget dan akhirnya kelar hari ini juga" ucap Galang setelah mereka masuk kedalam mobil, Karin dan Dirgan berada dimobil yang berbeda


"ngantuk banget" Ara yang sedari tadi diam sebenarnya karena menahan kantuk juga tapi tidak enak jika harus pamit duluan

__ADS_1


"mungkin masih ada sedikit efek dari obat tidurnya" balas Abel yang menarik Ara agar berbaring pada pundaknya


"tiduran aja dulu Ra" ujar Galang ikut menanggapi sedang Bagas sudah menutup wajahnya dengan jaket mungkin ia juga mengantuk


__ADS_2