
Desty berlari menaiki tangga, sebenarnya kemaren itu setelah meninggalkan Rangga ia berniat mendatangi Chandra tapi ternyata Chandra sudah tidak ada dilapangan basket dan sekaranglah baru ada waktu lagi
Desty menaiki tangga dan langsung masuk begitu saja pada kamar ujung yakni kamar milik Chandra
grep.. "aaa...mmpt" Desty tersentak kaget dan berteriak yang kemudian dibungkam oleh tangan milik Chandra yang awalnya memeluk Desty
"kamu ?" beo Desty bingung karena Chandra memeluknya erat dan tau kalau dia akan datang
"ssttt diem dulu ya calon istri biarin kek gini dulu 3 menit aja" pinta Chandra dan Desty diam membiarkan
benar hanya 3 menit Chandra pun melepas pelukannya dan membawa Desty ke balkon kamarnya berdiri menghadap taman milik sang ibu
"kamu ga marah lagi ?" tanya Desty menoleh pada Chandra yang ada disampingnya
sebelum menjawab Chandra merangkul Desty terlebih dahulu "aku udah tau kok sayang"
"maksudnya kamu kemaren it-" belum juga selesai Chandra sudah dulu mengangguk
"iya aku kemaren ngikutin kamu diam-diam dan kamu gak perlu lagi ngejelasin apa-apa " terang Chandra
Desty menyipitkan matanya dan berkata "oohh.... berarti tadi itu didapur kamu cuma acting sengaja biar aku nyamperin kamu iyakan ?" tebak Desty dan Chandra hanya cengengesan
"aw aw sakit yank apaan sih kok malah digigit" Chandra mengusap lengannya yang digigit oleh Desty
"bodo amet, udah ah mau kedapur aja"
__ADS_1
"yank... ikut" rengek Chandra membuntuti Desty sang kekasih
Beberapa saat yang lalu saat Ara mondar-mandir didepan kamar milik Bagas dan berulang kali memegang kenop pintu, baru memegang lagi Ara malah kaget karena pemilik kamar itu membuka pintunya
"lo" ucap Bagas heran kenapa Ara ada didepan kamarnya
"a-ku cum-cuma mau ini" ucap Ara gugup
Bagas mengerutkan keningnya "lo mau minum ? trus itu yang lo bawa ?"
"ma-maksudnya aku disuruh tante Karin nganterin air ini buat kak Bagas" jawab Ara lagi dengan tangan yang sudah sedikit gemetar dan berkeringat dingin
masih dengan ekspresi datarnya Bagas membuka pintunya lebar
"masuk" Bagas malah memerintahkan Ara agar masuk karena saking groginya Ara menurut dan Bagas menutup pintu kamarnya
deg deg deg
"stupid.. you stupid Ara" batin Ara
Bagas mengambil gelas yang masih ditangan Ara kemudian minum sampai tinggal setengah
"o-obatnya mana ? kok gak diminum ?" tanya Ara heran
"tuh diatas nakas" Ara menoleh dans semakin kesal saja Ara karena ternyata tante Karin sudah mengerjainya
__ADS_1
diatas nakas tersebut memang ada beberapa obat dan ini yang bikin Ara kesal ada air minum dan juga sedikit sampah obat yang artinya Bagas sudah meminum obatnya
"ya yaudah kalo gitu aku keluar dulu" ucap Ara dan membalik badannya dan memegang kenop pintu tapi sayang karena tepat saat itu Ara dibuat kaget karena Bagas menariknya dan menyandarkan Ara dipintu tersebut
deg deg deg jantung Ara semakin berdebar tidak karuan bahkan saat ini Ara menahan nafasnya
memang sih Bagas tidak tepat didepan wajahnya tapi lumayan dekat
Bagas sedikit menyeringai yang malah membuat bola mata Ara membesar, Ara mundur karena Bagas sedikit maju yang padahal Ara tidak bisa mundur lagi
"a- mmmpptt." Ara ingin berteriak tapi Bagas langsung membekap mulut Ara dengan tangan Ara sendiri yang ia tarik dan diletakkan menutup mulut Ara
"ka-kakak mau ngapain hah ? kakak mau ngapa-ngapain aku ya ? jangan macem-macem deh" tanya Ara yang awalnya sedikit gugup tapi selanjutnya ia lebih berani lagi
"hahahaha" Bagas tertawa dan itu adalah pertama kalinya Ara melihat Bagas tertawa bahkan sangat lepas
sedikit tertegun melihat Bagas yang tertawa tapi detik berikutnya Ara menyunggingkan senyum kecilnya
"siapa juga mau ngapa-ngapain lo, sumpah muka lo merah banget, ya ampun hahaha" dan lagi semakin lebarlah senyum Ara karena ini pertama kalinya juga ia melihat Bagas berbicara panjang dan disertai tawa
"ehem.." Bagas berdehem dan merubah mukanya kembali datar bukan datar sih tapi lebih ke santai
"udah ketawannya ?" tanya Ara dengan raut wajah yang terlihat lucu dimata Bagas
Bagas tersenyum dan mengucapkan satu kata yang malah membuat Ara bingung
__ADS_1
"thanks"