
Ara mendadak galau dihari pertama masuk sekolah karena ia mendapat kabar bahwa Bagas ikut di kelas akselerasi
kelas akselerasi adalah kelas percepatan dimana siswa hanya perlu belajar 4 semester sekaligus dalam waktu 1 tahun
itu artinya jika teman Bagas naik ke kelas XII maka berbeda dengan Bagas karena ia bukan lagi naik kelas melainkan sudah lulus dan bisa melanjutkan ke jenjang perkuliahan
oleh karena itu hanya ada 7 orang yang benar-benar sanggup untuk mengikutinya dengan modal otak yang cerdas dan berbekalkan tekad yang mantap
Abel menyuruh Ara agar ikut juga karena otak Ara juga tergolong mampu untuk masuk ke kelas tersebut tapi Ara menolak sebab ia masih mau menikmati pelajaran Bahasa Indonesia yang mana ia masih lemah dalam mata pelajaran tersebut
"ga mau Bel bentaran lagi baru pulang" ucap Ara yang masih menelungkupkan wajahnya ke meja belajar dengan beralaskan kedua tangan yang melipat diatas meja tersebut
Abel dan Sasa mengajaknya pulang ke Asrama karena memang sudah jam nya pulang tapi Ara masih belum mau bergerak meninggalkan kelas barunya
Ara benar-benar galau ia sendiri juga bingung kenapa merasakan perasaan seperti itu bahkan ia juga mengatai dirinya lebay tapi tetap saja untuk saat ini Ara tidak mau memperdulikan apapun dan terus menuruti moodnya yang masih mau dalam posisi tersebut
"ga mau Abel..." tolak Ara lagi karena kesal tangan Abel terus menerus mencolek bahunya
"maunya apa hem ?"
"mau kak- eh ?" Ara buru-buru menegakkan badannya karena itu bukan suara Abel tapi itu adalah suara seseorang yang mengusik ketenangan hati dan fikirannya
"mau kak siapa hem ?" tanyanya lagi dengan senyum yang Ara benci karena ternyata senyumnya Bagas membuat Ara semakin meleleh sampai-sampai Ara membatin "apa ini perasaan cinta ? cinta kek gini bukan sih ?"
__ADS_1
"hei kok bengong" Bagas menarik hidung Ara karena gadis tersebut diam tak menanggapinya
"mau kak Bagas ya ?" tebak Bagas menusuk-nusuk pipi Ara yang membuatnya gemas
"jangan ditusuk-tusuk entar bolong" ucap Ara menjauhkan tangan Bagas dari pipinya
"bagus dong kalo bolong biar makin manis"
tuh kan Ara benci setiap kali Bagas berucap kata-kata gombalan ? karena mendadak jantungnya jadi dag dig dug serr... kan Ara bingung cara meredakannya
"ih kok bengong lagi Ra ? pipinya kenapa malah merah merah tomat begitu ? kamu sakit ya ?" Bagas malah menjadi-jadi mengerjai Ara iya dia itu tau kalau Ara tuh sedang salah tingkah dan Bagas suka itu
Ara menutup wajahnya yang bersemu merah denga kedua tangannya "diem kak diem jantungku jingkrak-jingkrak terus"
Bagas menyingkirkan tangan Ara yang menutupi wajahnya dan Bagas malah menguyel pipi Ara dengan kedua tangannya
"jangan lucu terus Ra entar kakak ga betah nanti di Amerika nya ?" Ara terkejut dan mematung dengan tatapan mata yang penuh tanda tanya
Bagas duduk dikursi sebelah Ara dan bercerita mengapa ia mengambil kelas akselerasi
"umur kakak tuh udah 19 tahun seharusnya tahun ini kakak itu kuliah tapi telat karena kecelakaan dulu jadi setelah 1 tahun ini kakak bakalan ke Amerika kuliah kedokteran di Harvard university doain kakak ya"
Ara mencebik
__ADS_1
"4 sampai 5 tahun lagi kakak bakal pulang kok"
"jadi selama itu kakak gak bakalan pulang ke Indonesia ?" Bagas mengangguk
hah.. Ara menghembuskan nafasnya lemah
"ini demi kamu kok"
"kenapa demi aku ?"
"kan kakak udah janji bakalan serius sama kamu Ra, 5 tahun disana dan 1 atau 2 tahun disini kakak akan kerja ngumpulin uang buat kita nikah"
uhuk uhuk
Ara terbatuk-batuk serasa ada angin yang menggangu di tenggorokannya
"kakak tuh apaan sih ngomongin nikah nikah masih kecil tauk"
"lah iya sekarang memang masih kecil Ara tapi kan 7 tahun kedepan udah enggak kecil lagi kamu udah 24 dan kakak udah 26"
Ara tidak dapat mengelak tapi kenapa pembicaraan serius ini harus sekarang kan Ara jadinya bingung harus merespon seperti apa dan lagi kan bisa jadi kefikiran dan terhitung menunggu
akhirnya Ara manggut-manggut saja tidak tau harus menjawab apa pada intinya saat ini dia hanya merasa rasa ketidakrelaan pada Bagas tapi Ara tidak bisa mengungkapkan itu.
__ADS_1