
sebelum melanjutkan omongannya kembali Bagas lebih dulu bertanya pada Ara
"lo pernah pacaran ?"
"nggak pernah kak, kalo kakak ?" Ara juga ikut bertanya dan Bagas menggeleng
"lo mau jadi pacar gue ?"
krik krik
hening
Ara mengedip lucu berulang kali karena mendapat pertanyaan ah bukan Ara tau dari drama yang ia tonton kalau Bagas sekarang sedang menembaknya
"ahahahahaha" Ara tertawa
"kok malah ketawa, apa gue kurang romantis ya ?" tanpa diduga Ara malah menganggukkan kepalanya
"ok tunggu" Bagas beranjak pergi entah kemana sedangkan Ara masih tertawa karena ia merasa lucu saja dengan cara Bagas menyatakan perasaannya
Bagas datang dengan tangan kiri dibelakang dan tangan kanannya memegang tangan Ara dan membantu Ara berdiri
__ADS_1
Ara berdiri menuruti Bagas dan menunggu apa yang akan dilakukan Bagas
Bagas berlutut didepan Ara menarik nafasnya dan kemudian mengeluarkan tangan kirinya yang ternyata ada setangkai bunga bukan setangkai tapi hanya setengah
Ara susah payah menahan tawanya dari mulai melihat Bagas berlutut dan mengulurkan setengah tangkai bunga yang entah darimana Bagas mendapatkannya
namun begitu Ara tetap menahan tawanya menunggu Bagas yang sepertinya akan mengucapkan sesuatu
"Ara, jadilah pacarku" ucap Bagas mendongak dan berucap serius
dan "ahahahahah kak sumpah kakak tuh lucu banget beneran aku tuh gemes banget" Bagas mematung diposisinya ketika Ara malah kembali tertawa bahkan Ara menunduk hanya untuk menarik-narik pipi Bagas
"kak aku tuh masih bingung perasaan orang pacaran dan gak pacaran sama aja tuh"
"iya juga sih" jawab Bagas yang menyetujui ucapan Ara
"Ra kali ini gue serius plis dengerin gue" Bagas memegang kedua pundak Ara dan menatap serius pada Ara
Ara pun juga merasakan jika Bagas kali ini terlihat sangat serius walau sekarang Bagas hanya menunduk tidak menatapnya
"gue tau gue bukan orang yang romantis dan ucapan lo tadi buat gue berfikir kalo gue gak akan memohon lagi sama lo untuk jadi pacar gue, gue juga bukan orang yang faham tentang cinta tapi tolong lo pegang omongan gue" Bagas kembali mendongak menatap lekat mata Ara
__ADS_1
"gue akan jadiin lo satu-satunya perempuan yang akan gue cintai sebagai seorang kekasih walau bukan mulai dari sekarang tapi gue yakin perasaan itu akan tumbuh dengan sendirinya entah kapan waktunya dan kita akan sama-sama faham apa itu cinta"
Bagas menarik nafasnya dalam kemudian mengeluarkan perlahan lalu melanjutkan ucapannya
"tunggu waktu yang benar-benar tepat itu tiba gue akan langsung minta sama orang tua lo langsung buat jadiin lo istri gue"
"kak ?" panggil Ara pelan seakan dari tatapannya saja ia bertanya akan ucapan Bagas yang begitu menyentuh hatinya
"gue gak peduli kalo sekarang lo mau pacaran sama siapapun tapi gue mau lo janji kalo gue akan jadi satu-satunya laki-laki yang bersama lo di masa depan yaitu suami lo kelak Ra"
ssrrrrr
darah Ara berdesir mendengar ucapan Bagas, jujur hati Ara berdebar dengan debaran yang ia fikir ini adalah perasaan bahagia tapi Ara hanya menebak karena ia tidak begitu yakin
Bagas berbaring ke rumput dan melihat langit gelap yang terbentang luas, Ara ikut membaringkan dirinya disamping Bagas dengan jarak yang tidak begitu jauh
"lo lihat langit itu sepi banget ya, sama kayak hati kita sekarang tapi lo harus percaya suatu saat nanti akan banyak kebahagiaan yang akan gue isi dihati lo, gue gak tau apa yang gue omongin tapi itu akan jadi janji gue sama lo"
"lo harus garis bawahi kata suatu saat nanti itu Ra"
hening tak ada jawaban Bagas pun menoleh pada Ara dan ternyata Ara tertidur, Bagas terkekeh dan ikut memejamkan matanya
__ADS_1