
"Lang lo, wah parah. lo, keluar gak"
"sssttt berisik Bel entar anak kita kebangun, orang gue cuma mau ngantarin nih susu",
"halah alasan, nganterin mah gak perlu masuk juga kalli"
"hehee, eh Bel itu jaket lo ada pup nya si Chelsea ya"
"what..." pekik Abel tertahan lalu segera melepas jaket yang ia pakai dan tinggallah kaos pendek berwarna putih polos
"tapi boong hahahaha"
"waahhh ngajakin gelut nih orang, keluar Gal !" ucap Abel dengan suara yang marah namun tertahan karena takut membangunkan Baby Chelsea
"tunggu Bel tunggu, foto tangan yuk abadiin cincin yang kita pilih"
"astogeng.. gue juga lupa ngelepas nih cincin"
"ets ets sabar Bel foto dulu baru gue keluar deh" ucap cepat Galang menahan Abel yang ingin melepaskan cincin tersebut
"ribet deh, buruan !" karena tidak mau orang-orang diluar kamar berfikir aneh-aneh Abel pun terpaksa mengikuti kemauan Galang yang menurutnya alay
" eh eh lo ngapain Gal ?" tanya Abel dengan posisi badan yang tak berkutik karena tiba-tiba Galang memeluknya dari belakang
"hehe permisi calon istriku" pamit Galang yang memeluk Abel dengan satu tangannya
"nah lo pegang tangan gue, biar gue foto buruan" Abel terus menuruti Galang, jujur sebenarnya detak jantung Abel tidak aman berada sedekat ini dengan Galang
"jempol lo besar banget Gal" ucap Abel yang sebenarnya hanya sembarang bicara untuk menetralisir detak jantungnya
__ADS_1
"gak sebesar senjata gue Bel" jawab Galang gamblang
ah, Abel menyesal sudah berbicara seperti itu karena ternyata Abel salah bicara yang mana semakin membuat detak jantungnya tak karuan
"udah Bel" ucap Galang yang sedang melihat layar hp miliknya namun, tangan satunya masih tidak berpindah
Abel pun dengan cepat melepas tangan Galang tapi Galang malah usil menarik Abel sehingga Abel maupun Galang reflek hampir terjatuh, tentu hampir saja karena Galang menahan tubuh Abel
cup
satu kecupan singkat di bibir Abel lolos begitu saja, siapa lagi pelakunya jika bukan Galang
dan saat adegan tersebut terjadi pintu kamar dibelakang mereka pun terbuka dan pelakunya adalah Madam Karin
"Galaaaannggggg.." teriak Madam Karin lengkap dengan matanya yang melotot
"aduh Rin lepasin itu telinganya udah merah kayak kepiting rebus" tegur Tante Jana begitu Karin sudah berada dihadapannya
"biarin, bandel sih" balas Karin yang akhirnya melepaskan tangannya
"memangnya Galang ngapain Ma ?" tanya Ara pada Karin dengan sebutan Ma, ya Ara memang sudah merekatkan panggilan tersebut
"itu si Galang nyosor Abel"
"kayak bebek aja" respon Ara yang padahal tidak faham
"pulang yuk" ajak Bagas
"ya sana pulang atau mau jalan-jalan lagi terserah karena besok udah dipingit ga boleh ketemu ga boleh komunikasi lewat hp juga"
__ADS_1
"Ra" panggil Bagas begitu dia dan Ara didalam mobil
"ya kak kenapa ?"
"kamu faham maksud omongan Mama tadi ?" tanya Bagas sambil menjalankan mobilnya
"hehe nggak kak" balas Ara yang menampakkan deretan gigi rapinya
Bagas lebih dulu mengacak rambut Ara baru kemudian ia berbicara " mau tau maksudnya ?" dan Ara mengangguk
Ara sedikit heran ketika Bagas menghentikan mobilnya dijalan yang lumayan sepi
"sini ngadep ke kakak" pinta Bagas dan Ara menuruti
"tutup mata" dan lagi Ara patuh dengan ucapan Bagas
cup
Ara reflek membuka matanya dan bibirnya ikut sedikit terbuka ketika bibir Bagas menempel pada bibirnya begitu saja
merasa bibir Ara yang sedikit terbuka Bagas tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk menyesap dan bermain dengan benda kenyal yang akan menjadi favoritnya beberapa hari lagi
Ara yang merasakan sebuah rasa baru tersebut memang terkejut namun, matanya kembali terpejam saat rasa itu semakin menguasainya
aneh tapi Ara suka dengan rasa tersebut hingga beberapa menit kemudian Bagas melepas dengan decapan yang terdengar cukup kuat
Bagas maklum dengan Ara yang tidak membalas pergerakan bibirnya karena itu adalah hal baru untuk keduanya, bedanya Bagas adalah pengemudi jadi sediki pasti tau caranya
"buat kenang-kenangan untuk seminggu kedepan" ucap Bagas yang kemudian menjalankan mobilnya kembali, sedangkan Ara hanya diam karena merasa canggung
__ADS_1