
"jadi kak Bagas itu awalnya ga sependiam itu tan ?" itulah yang lolos dari mulut Ara bertanya setelah Karin sudah selesai bercerita
"nggak sayang, anak tante itu gak ada yang kek begitu kok sebenarnya"
"berarti sebenarnya Bagas itu udah kelas XII dong Madam ?" tanya Abel yang langsung dijawab iya oleh Karin
"iya, dan juga sebenarnya panggilan nama dia itu Aska bukan Bagas tapi kebetulan dokter yang menangani Bagas terapi itu namanya Bagas juga trus pas dia udah mulai bisa gerak-gerakin kakinya dokter baik itu meninggal dan digantikan oleh dokter yang lain, dari itu untuk selalu mengenang sang dokter dan juga katanya dia ingin jadi dokter yang seperti pak Bagas selalu tulus dan pantang menyerah untuk mengobati pasiennya termasuk Bagas"
"pas banget nama dia Bagaskara ada kata-kata Bagasnya kalo gaada mungkin dia minta ganti nama" ucap Sasa menyimpulkan
"kayaknya bisa jadi seperti itu" sahut Karin menyetujui ucapan Sasa
Karin melihat Ara masih terdiam mungkin masih memikirkan nasib malang yang menimpa Bagas "kalo tadi gak masuk dia cuma lagi demam aja kok" ucap Karin menjawab pertanyaan Ara diawal sebelum bercerita
"tapi gak apa-apa kan tan ?" tanya Ara dengan nada khawatirnya
__ADS_1
Desty sudah senyum-senyum begitu juga Abel dan Sasa yang pasti berniat untuk menggoda Ara tapi Karin menyela sebelum ketiga orang itu berbicara
"gak apa-apa kok oh iya tante lupa Ra si Bagas belum minum obat abis makan tadi, tante minta tolong ya kamu bawain minum kekamarnya bangunin aja kalo tidur"
"tapi tan"
"tolong banget ya kamu naik aja kelantai 2 trus kamar Bagas yang nomor 2 sebelah kanan, tante mau nyelesain kuenya nanti keburu anak tante yang sulung dateng" paksa Karin dengan nada memelas
Ara melirik pada Desty tapi Desty sibuk menyiapkan beberapa tempat, lalu Ara beralih menatap Abel tapi Abel langsung jalan ke wastafel sembarang tangkap pada piring kotor dan menyalakan kran air untuk mencuci nya
"gu-gue mau bantu madam buat moles tuh kue"
Ara mendesah pelan tapi kemudian ia berjalan mengambil gelas dan mengisinya dengan air dari galon meletakkan gelas itu kepiring kecil dan berjalan menuju tangga
Madam Karin, Desty, Abel dan Sasa tertawa setelah Ara benar-benar tidak lagi kelihatan
__ADS_1
"tuh bocah kelewatan banget polosnya masa ga faham sih kita pura-pura menghindar" ucap Desty dan yang lainpun setuju
"ma.." panggil Chandra dan Karin menoleh begitu juga dengan Desty
melihat Desty ada disana Chandra menunduk dan langsung pergi begitu saja
"lah tuh anak kenapa sih ga jelas banget" heran Karin tapi detik berikutnya saat ia melihat raut wajah Desty juga langsung murung Karin jadi faham
"selesain baik-baik loh kalo ada masalah" sindirnya pada Desty dan Desty mendongak melihat Karin
Karin tersenyum "sana gih samperin kekamarnya tapi jangan sampe akhirnya jerit-jerit manja ya soalnya kamar Chandra belum dipasang kedap suara" mendengar itu Desty langsung melengos pergi dan Karin tertawa terbahak-bahak puas melihat wajah Desty yang merah
Abel dan Sasa hanya garuk-garuk kepala melihat Madam Karin seprontal itu
"hehee biasa aja napa sih, yaudah yuk lanjut" ajaknya dan Abel juga Sasa pasti saja mengikuti hanya tinggal mereka bertiga saja yang akan menyelesaikan kue ulang tahun tersebut
__ADS_1