
"sayang..."
"eh daddy kok udah pulang ?" tanya Emberly dengan suaranya yang sengau dan serak efek karena ia sedang demam
"aku gak tenang kerja dikantor kefikiran kamu terus"
"tumben-tumbenan banget sih lebay kayak gini hm"
"mom, makasih banget ya udah nerima daddy makasih banget karena mommy bisa nerima masa lalu daddy makasih juga kamu bisa nerima Desty makasih dan makas-"
"ssstttt..." Emberly meletakkan jari telunjuknya dibibir sang suami yang terus-menerus mengoceh "kamu tuh ngomong apaan sih dad udah ya jangan bahas lagi Desty itu anak aku juga kok" ucapnya lemah kemudian mengukir senyum dengan bibir yang sangat pucat
Bramantyo tak tenang memikirkan sang istri padahal biasanya ia tidak khawatir seperti saat ini ah ralat bukan hanya khawatir bahkan Bramantyo merasa sangat merindukan istrinya
tapi entah kenapa ia gengsi tidak mau mengatakan pada sang istri
Bramantyo maju mendekat pada istrinya menatap lekat mata sayu sang istri yang sedang sakit Bramantyo semakin mendekat dan mengikis jarak menyentuh lembut bibir sang istri dengan bibirnya
Emberly sedikit menghembuskan nafasnya dan Bramantyo merasakan nafas sang istri yang terasa panas
siang hari itu pasangan suami istri tersebut melakukan penyatuan dengan penuh kelembutan sampai mereka berhasil mencapai pencapaian pertama
__ADS_1
Bramantyo ingin menyudahi kegiatan panas tersebut karena kasihan pada istrinya yang sedang sakit tapi Emberly memaksa untuk melakukannya satu kali lagi
tapi bohong bukan hanya satu kali sebab Emberly terus memaksa sampai mereka berhasil melakukan penyatuan sebanyak 3 kali
dan kegiatan tersebut terhenti karena tiba-tiba Emberly merasakan mual dan memuntahkan bubur yang tadi pagi ia makan
"mom kita kerumah sakit ya"
"jangan dad, mommy hanya demam mungkin nanti sore juga sembuh" tolak Emberly kembali berbaring dengan berbantalkan paha sang suami yang duduk menyender pada punggung kasur
"itu muntahan mommy bau obat berarti obatnya gak lagi berfungsi dong"
Bramantyo langsung mengirim pesan pada seorang dokter yang merupakan temannya sendiri
setengah jam menunggu sampai Emberly tertidur dokter yang dihubungi Bramantyo pun akhirnya datang
"maaf telat Yo, macet banget"
"its ok" Bramantyo baru saja mau membangunkan sang istri tapi Emberly terbangun sendiri karena mendengar suara sang suami yang sedang berbicara
"loh Farhan ?"
__ADS_1
"pas banget, misi ya aku periksa dulu" Farhan langsung memeriksa Emberly
sedangkan Emberly menatap suaminya dengan tatapan mautnya sebab suaminya ternyata membantah penolakannya tapi ya apa boleh buat
Bramantyo yang mendapat tatapan tajam dari sang istri hanya bisa menampilkan deretan gigi rapihnya dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali
"Alhamdulillah nambah personil lagi"
Bramantyo dan Emberly yang masih saling tatap seketika kompak menatap Farhan karena sama-sama kaget dengan apa yang mereka dengar
"udah 2 bulan ?" dan apa yang mereka dengar ternyata tidak salah bahwa Emberly benar-benar sedang hamil
tidak menyangka ? tentu. Begitu juga dengan Farhan yang memang tau bagaimana kondisi Emberly
"saran gue Emberly gak usah lagi ngampus soalnya lemah banget tapi untuk lebih pastinya cek langsung aja ke dokter kandungan" Farhan memberi saran agar Emberly untuk tidak dulu mengajar dikampus karena itu bukan aktivitas yang ringan
"thanks bro" ucap Bramantyo berterima kasih saat mengantar Farhan sampai diteras
usai kepergian Farhan, Bramantyo kembali kekamarnya tidak sabar ingin mencium istrinya bahkan ia berlari-lari kecil menaiki tangga
asisten rumah tangga yang kebetulan ingin melewati tangga bertanya-tanya pada dirinya sendiri merasa aneh melihat sang majikan yang berlari terburu-buru seperti itu.
__ADS_1