Asmara Di Asrama

Asmara Di Asrama
Chapter 58 - Misi Penembakan Berhasil


__ADS_3

sedang asyik-asyiknya bertukar cerita Rangga akhirnya berdehem karena akan memulai misi penembakan perasaan


ekhem


"Bu, sebelumnya makasih karena udah mau meluangkan waktunya buat saya" Yuna masih diam dan mendengarkan lebih dulu


"sa-saya mengajak Ibu kesini ka-karena-" Rangga menggigit bibirnya karena terlalu gugup "tadi gue udah latihan kok sekarang gak bisa sih, payah banget gue" batin Rangga merutuki dirinya sendiri


"hei kamu kok gugup sih ? tarik nafas dulu abis itu keluarin pelan-pelan" Rangga mengikuti ucapan Yuna


huuuhhh


lantas Rangga berdiri dari duduknya lalu berpindah ditepi kursi Yuna dan Yuna bingung jadi ia memutar tubuhnya menghadap Rangga


"kamu ngap-" Yuna tidak jadi bicara melihat Rangga yang mengeluarkan sebuah kotak cincin warna biru yang didalamnya ada cincin berwarna silver


"apa Ibu bersedia menerima lamaran saya" belum selesai Yuna bingung dan kaget Yuna semakin membolakan matanya, dia tidak salah dengar kan ?


"ka-kamu em maksudnya-" kini giliran Yuna yang gugup bahkan ia bingung mau berucap apa


"saya tau umur saya lebih kecil dari Ibu, tapi kalau boleh jujur saya sudah suka sama Ibu dari pertama kita bertemu. Awalnya saya merasa mungkin itu hanya karena rasa nyaman dari adik pada kakaknya tapi nggak Bu saya udah faham gimana perasaan cinta itu"


"saya udah berencana dari kemaren semester genap awal untuk menyatakan perasaan saya tapi saya masih takut jika Ibu menolak saya atau Ibu udah punya kekasih tapi saya berjanji setelah saya lulus baru saya akan melamar Ibu saya siap dengar jawaban Ibu"


Rangga dengan lancarnya mengungkapkan semua yang ia susun dari awal tidak gugup seperti awal pembicaraan tadi

__ADS_1


Rangga memberanikan diri untuk mendongak menatap Yuna dan saat itu juga tatapan mereka bertemu seakan mereka saling menyelami satu sama lain


Yuna tersenyum kecil dan detik berikutnya Rangga bersorak yes saat Yuna mengangguk kecil


"Bu Ibu ga bercanda kan ?" tanya Rangga memastikan dan Yuna menggeleng menutup mulutnya karena ia sedang tertawa melihat Rangga bersorak tadi hingga membuat beberapa orang di cafe itu menoleh


dan orang-orang di cafe menyadari jika sedang ada penembakan perasaan oleh karena itu semua ikut bersorak


cieeeee


pasang pasang pasang


semua menyuruh Rangga agar memakaikan cincin yang ia pegang agar segera melingkar dijari manis Yuna


tapi Yuna seperti mendapat sebuah ingatan, ya Yuna ingat saat Rangga dengan modusnya ingin membantu Yuna turun dari motor dengan menggenggam tangan Yuna dan ternyata dari itu ternyata Rangga sudah merencanakan hal tersebut


prok prok prok prok


semua bertepuk tangan melihat Yuna dan Rangga yang terus menerus melontar senyum malu-malu dan tidak lagi menghiraukan keramaian dari suara tepuk tangan


semua kembali pada urusan masing-masing, Rangga masih tidak menyangka dan sedikit ada ketidakpercayaan dengan barusan yang terjadi, jadi ia bertanya lagi pada seorang wanita yang kini menjadi calon istrinya


"sama kayak kamu, saya juga merasa nyaman dan ini pertama kalinya saya jatuh cinta jadi liat kamu yang benar serius sama saya tidak salah kan jika saya nerima kamu ?"


"iya Ibu harus percaya sama saya, dan apa Ibu siap jika nanti kita ke jenjang lebih serius lagi ?" Yuna mengangguk malu-malu ia juga merasa geli dengan sikapnya yang nampak seperti abg baru pertama kali jatuh cinta

__ADS_1


memang benar sih pertama kali tapi dia bukan lagi seorang anak abg


"dari sekarang boleh dong ganti panggilan masa sama calon istri manggilnya Ibu, aku kamu an ya ?"


nyessss


rasanya ingin meleleh saja mendengar ucapan Rangga, Yuna susah payah menutupi rasa saltingnya jadi ia hanya mengangguk


"aku janji setelah ini akan ngumpulin uang buat menuju jenjang lebih serius lagi dan belajar cari nafkah buat kamu"


ekhem


Yuna berdehem dan ia menunduk " ini pipi kiri kanan ngapain narik-narik mulu" gumam Yuna pada pipinya yang terus menarik membuat bibirnya ikut tertarik dan jadilah membentuk sebuah senyum lebar


Rangga terkekeh dengan kelakuan Yuna, ia masih bisa mendengar gumaman dari Yuna


"kenapa kamu harus malu ? emang aku salah ya yang langsung mencoba dan membiasakan panggilan aku kamu an ini ?"


"enggak kok" jawab Yuna cepat dan Rangga kembali tertawa dengan tangan yang mengusap pelan kepala Yuna


srrrr...


Yuna merasakan darahnya mengalir begitu deras dari ujung kepalanya yang diusap sampai ujung kakinya, bisa tidak sih Rangga jangan begini ? bikin anak orang baperan dari tadi.


"yes, misi penembakan berhasil!." batin Rangga tak habis-habisnya merasakan percaya diri dengan cara membuat Yuna terus-terusan baper dan salah tingkah.

__ADS_1


__ADS_2