
"loh Papa kok ada disini ?" tanya Bagas pada Papanya yang datang ke kantor polisi
"iya Papa udah tau kejadian disekolah, ini Papa juga bawa flashdisk dan barang buktinya pisau dan apel tersebut"
"maaf ga ngasi tau dulu Bagas benar-benar panik takut orang-orang jahat itu kabur"
"panik karena takut orang-orang jahat itu kabur atau takut karena gadis itu kenapa-kenapa ?"
Bagas tak menjawab dan hanya diam dwngan ekspresinya yang datar
"yaudah sana kerumah sakit aja temenin Mama kamu biar Papa aja yang urus masalah ini disini bawa juga gadis itu kerumah sakit"
Bagas mematuhi Papanya dan langsung pergi, setelah kepergian Bagas wajah Dirgantara sang Ayah berubah menjadi sangat dingin
bagaimana tidak kesal karena ternyata orang-orang jahat itu sengaja mengambil gambar dan merekam murid-murid sekolah Bumi di jam pelajaran yang akan nampak seperti hanya tidur dan bermain-main saja bahkan dikantor semua guru juga nampak seperti tidur saja benar-benar mencerminkan sekolahan yang buruk padahal itu adalah kerjaan dari orang-orang itu
setelah mendapatkan gambar dan video itu mereka menyebar luaskan ke media sosial dan benar saja beberapa orang tua murid berdatangan ke sekolah tersebut ingin memprotes dan memberhentikan anaknya
tak hanya itu guru gadungan itu juga sengaja membuat beberapa anak pingsan dan dilarikan ke uks yang padahal darahnya akan diambil dan dijual secara legal
setelah menyerahkan semua bukti pada polisi dan juga melakukan klarifikasi atas kejadian tersebut Dirgantara merasa lega karena sekolah tersebut aman dan bahkan orang-orang memang banyak tidak memercayai berita tersebut dan orang tua yang sudah memprotes juga meminta maaf karena terlalu memercayai berita itu
__ADS_1
Dirgantara hanya memaklumi karena sebagai orang tua ia mungkin akan melakukan hal yang sama tidak ingin anak-anaknya diperlakukan seperti itu
setelah selesai Dirgantara menyusul kerumah sakit untuk membantu sang istri yang menghadapi masalah disana
"Ma.." panggil Dirgantara pada istrinya yang duduk didepan ruang pasien
"Mas Dirgan"
"Papa"
Karin dan Bagas kompak menghampiri Dirgan
"eh Ara sayang udah sadar ada yang sakit nak ?" tanya Karin karena melihat Ara yang sudah sadar
"nggak kok tan" jawab Ara yang sesekali melihat ke Bagas
"nah ini Bagaskara anaknya tante calon suami kamu" ujar Karin to the point yang membuat sang suami hanya geleng-geleng kepala saja
Bagas sebenarnya kaget dengan ucapan Mamanya tapi ia tetap dengan gayanya yang datar seakan tidak perduli
"Ma bahas nanti aja ya perjodohannya sekarang gimana anak yang didalam ruangan itu ?" tanya Dirgan mengalihkan pembahasan sang istri karena Dirgan bisa melihat kalo Ara merasa tidak enak yah malu-malu gitulah
__ADS_1
"oh iya Mas murid yang bernama Maya dari kelas 3 IPS itu ternyata dia itu punya sakit ginjal Mas bahkan sudah memasuki stadium akhir, Mama tadi juga diamuk sama Ibunya gara-gara teledor hiks Mama udah salah banget bikin anak orang itu sampe darahnya diambil hiks" Karin menjelaskan dengan tenang awalnya tapi memang sedari disekolahan tadi ia sudah menahan tangisnya karena merasa bersalah
"Mama yang tenang ya kita gak sepenuhnya salah nanti kita minta maaf ya dan kita bantu biaya pengobatannya" pujuk Dirgan pada istrinya yang berada didalam dekapannya
"kenapa ga temenin dia didalam aja ?" Dirgan bertanya lagi tapi Abel yang menjawab karena Karin masih berusaha menghentikan tangisnya
"em itu Prof orang tuanya melarang masuk"
permisi permisi
dokter dan 2 orang suster melangkah terburu-buru masuk keruangan Maya dirawat dan semua orang yang berdiri di sana menatap panik dan segera ikut kedalam ruangan
"maaf, kami sudah melakukan semaksimal mungkin" ucap sang dokter yang kemudian menyebutkan tanggal dan waktu pasien tiada
"Mayaaaaa" teriak sang Ibu yang memeluk anaknya dengan isak tangis yang terdengar memilukan
sang suami dan anak laki-lakinya menarik perempuan itu untuk duduk di sofa
Abel dan Ara mendekati Ibu Maya tersebut dan memeluknya begitu juga Karin yang memberanikan diri untuk ikut menenangkan
"Ibu yang tabah dan ikhlas ya karena Maya udah sembuh" bisik Ara dengan suara yang bergetar karena tidak dapat menahan air matanya yang akhirnya jatuh juga
__ADS_1