Asmara Di Asrama

Asmara Di Asrama
Chapter 106 - Surga Dunia Level Istimewa


__ADS_3

"Gak bisa, Beb. Sebentar lagi Mami bakal datang," kata Fani sambil menolak ajakan Anton untuk ikut, karena Anton mendapat telepon dari rumah sakit bahwa ayahnya mengalami kecelakaan.


Mau tidak mau Anton pun pergi setelah memberi peringatan pada kekasihnya, "Awas, jangan macem-macem." Fani mengangguk patuh, bukan karena ingin menuruti Anton melainkan agar Anton tidak banyak bicara dan cepat pergi.


"Kok senyum-senyum gitu lo, kecantol sama cewek mana lo?" tanya Fani begitu melihat Diko yang baru kembali dari toilet.


"Ada deh," balas Diko sambil memilih duduk disamping Bagas. Padahal, Diko tersenyum pada Bagas karena rencana mereka membuat Anton pergi telah berhasil dan sekarang giliran urusan dengan Fani.


Namun, saat ingin menjalankan aksi berikutnya, ada wanita paruh baya yang datang. "Anak Mami sayang, maaf ya lama. Eh, siapa ini sayang?"


"Mi, kenalin temannya Fani."


"Hai, berondong tampan," sapa sang Mami dengan gaya yang menurut Diko dan Bagas sangat ugh.


"Mi, jangan gitu dong, yang paling tampan bagian aku ya," bisik Fani pada Maminya.


"Kan kamu masih betah sama si Anton."


"Kan Mami yang nyuruh biar Mami bisa deketin ayahnya si Anton kayak dulu Mami deketin om nya Abel."

__ADS_1


"Ssttt, pelan-pelan dong ngomongnya."


"Mami sih," jawab Fani.


Bagas dan Diko pura-pura mengobrol saat Fani dan Maminya menoleh ke arah mereka. "Fani nya Mami pinjam dulu ya bentar," ucap Maminya pada Bagas dan Diko. Keduanya mengangguk bersamaan dengan senyum yang dibuat-buat.


Setelah Fani dan Maminya pergi, Diko lebih dulu bersuara, "Lo dengerkan?"


"Ya, dan ini termasuk keberuntungan kita karena bukan hanya menolong Galang tapi juga menolong Abel. Kita dapat pelaku yang udah nipu om nya Abel."


"Gak nyangka banget gue."


"Kayaknya misi kita harus dirubah."


Belum sempat Bagas menjawab dan menjelaskan, Fani sudah tiba membawa minuman. "Nih, guys. Gue tau kalo kalian ga bakal mau minum yang aneh-aneh, makanya gue bikin jus apel."


"Widih, thanks banget, lo Fan."


"By the way, kalian ngapain kesini? Yah, terutama Bagas."

__ADS_1


"Lo gak tau kalo Bagas lagi ada masalah sama Ara, makanya gue ajakin kesini."


"Oh ya?" Fani terkejut dengan wajah yang sumringah, karena baginya ini kesempatan yang sangat bagus.


Lantas, Fani dengan percaya diri duduk disebelah Bagas dan menggenggam tangannya begitu saja. "Gue turut prihatin ya. Udah ga usah difikirin, mending have fun aja disini."


Bagas tersenyum menanggapi Fani. Melihat itu, Fani semakin merasa ini keberuntungannya.


"Emm, Fan, gue mau ke toilet."


"Mau gue antar?"


"Boleh," balas Bagas cuek, namun bagi Fani bukan cuek, melainkan Bagas sedang jual mahal saja padanya.


"Gue sendirian dong disini?"


"Lo mending check in hotel terdekat buat gue."


"Oh, lo gak mau pulang? Ya udah, Diko, lo check in aja di hotel sebelah, ga jauh kok. Trua kasiin kartu ini." Diko menerima kartu dari Fani dan bertanya apa gunanya kartu tersebut. Fani hanya menyuruh Diko untuk membacanya.

__ADS_1


"Oohhh, lo pemilik hotel itu. Wih, sukses banget lo jadi orang. Ya udah deh, gue kesana sekalian mau rendaman gitu di kolam renang. Asseekkk, bye..."


"Yuk, gue anterin." Bagas hanya merespon dengan anggukan dan Fani bersorak di dalam hatinya karena ia sangat yakin sebentar lagi ia akan merasa surga dunia di level istimewa.


__ADS_2