
"Akhirnya selesai juga, beli camilan yuk bestie" Sasa menghampiri meja Abel dan Ara mengajak dengan nampak tak sabar
"Halah alasan lo Sa, bilang aja lo buru-buru kek gini mau ketemu pacar lo yakan.." Abel langsung saja faham dengan Sasa yang nampak buru-buru dan benar saja buktinya Sasa senyum-senyum malu karena ketahuan
Sebenarnya Ara mau bertanya apa tidak makan pagi tapi Ara urungkan karena ia berfikir mungkin beda jika disini dan juga Ara pun masih merasa kenyang setelah makan bubur ayam tadi biasanya Ara itu setelah makan sandwich di jam istirahat akan makan pagi lagi yang sedikit lebih berat dari sandwich
Ara tak mau aneh-aneh cukup mengikuti alurnya saja begitu terus dan pasti akan terbiasa
"Emm aku mau ke toilet dulu dimana ya ?" tanya Ara yang memang sedari tadi belajar sudah lumayan menahan
"Gue antar aja yuk" tawar Abel namun Ara menggeleng
"Jangan, kasi tau aja biar aku terbiasa"
Abel dan Sasa saling menoleh dan mereka setuju lantas menjelaskan arah menuju toilet
"Ok makasih"
"Kalo gitu gue sama Sasa nunggu ditangga depan ya Ra" ucap Abel yang kemudian pergi bersama Sasa
Kesempatan
itulah yang ada dibenak Tania dan Fani yang kebetulan mereka belum keluar dari kelas
"Rencana dimulai" ucap Tania yang terlihat geram
Ara keluar dari kelas mulai berjalan mengikuti arahan dari Abel yang diikuti oleh Tania dan Fani
Ara tersenyum karena akhirnya ia berhasil sampai di toilet
Saat Ara masuk Tania langsung ingin mengunci pintu toilet yang digunakan Ara tapi sayang itu toilet yang tidak memiliki kunci
"Shitt.. Fan pakai kunci yang dipintu itu bisa gak ?" tanya Tania sedikit berbisik menunjuk pada toilet sebelahnya
Fani menggeleng tapi ia langsung menarik Tania keluar
"Kok kelua-" Tania tak menyelesaikan omongannya namun berubah menjadi tersenyum licik melihat Fani yang mengunci pintu toilet utama
"Gak papa lah toilet didalem gak bisa dikunci yang penting toilet utamanya bisa karena kan ini toilet lama pastinya jarang Murid-murid kesini"
"Yah semoga sih yaudah yuk tinggalin aja anggap aja ini sambutan awal" ujar Tania dan Fani pun setuju cukup segitu saja untuk hari ini
Tania dan Fani pergi meninggalkan Ara yang terkunci dari luar tanpa merasa bersalah sedikitpun
Ara keluar dari toilet dan mencuci tangannya di wastafel saat sudah selesai Ara berjalan ke pintu utama dan mencoba menggeser pintu tersebut
__ADS_1
Ara sedikit heran kenapa tidak bisa dibuka lalu Ara mencoba lebih kuat lagi dan tetap tidak bisa juga
Ara bingung dalam fikirnya apa mungkin pintunya rusak atau ada yang tidak sengaja menguncinya tapi Ara berfikir kembali biasanya pintu utama itu tidak pernah ditutup apalagi dikunci seperti ini kecuali setelah semua murid sudah pulang sekolah dan itu yang melakukan adalah petugas kebersihan
Tidak putus asa Ara berteriak dari dalam minta tolong dan menggedor-gedor pintu tersebut
Sudah 4 atau 5 kali Ara berteriak dan menggedor tapi seakan percuma
Lebih menyesalnya lagi Ara lupa membawa hp nya jadi ia tidak bisa menelpon Abel atau Sasa
Ara berdiam sejenak dan kembali melakukan hal yang sama yaitu menggedor-gedor tanpa berteriak lagi
Dan detik itu suara kunci yang diputar membuat Ara urung mengeluarkan air matanya, ya Ara sudah hampir menangis
Pintu bergeser dan Ara segera berucap "terima kas-" Ara tak menyelesaikan omongannya karena kaget melihat siapa yang menolongnya
Deg
seorang cowok tampan bermuka datar berdiri dihadapannya dan cowok itu adalah orang yang Abel bilang suka padanya
"Lo gak apa-apa kan ?" tanya cowok itu dengan muka datarnya
"em i-iya aku gak apa-apa kok makasih ya udah nolongin aku"
Hening
Keduanya sama-sama diam sampai akhirnya cowok tersebut lah yang memutus keheningan itu
"Ayo gue antar ke teman-teman lo" ajaknya pada Ara karena ia berfikir siapa tau masih ada Tania dan Fani yang menghadang Ara
Ara pun tak menolak cukup tadi ia menolak Abel yang mau menemaninnya dan berakhir terkunci didalam toilet
Saat dikelas tadi perbincangan Tania dan Fani sedikit didengar oleh seseorang yang duduknya tak berada jauh dari kedua perempuan licik itu
Dan Seseorang itu adalah Bagaskara
Bagaskara adalah ketua kelas yang memiliki paras tampan dan Bagas memiliki sikap cuek namun karena sikap cueknya itulah banyak temannya yang segan dengan Bagas
Walau Bagas itu dingin dan datar tak sedikit perempuan yang mengaguminya dari mulai teman sekelasnya sampai kakak kelasnya
Bagas yang mendengar rencana Tania dan Fani awalnya diam saja karena tidak tahu juga rencananya apa namun Bagas juga mendengar Abel yang menjelaskan arah toilet kepada Ara jadi bisa Bagas simpulkan rencana Tania dan Fani adalah ditoilet tersebut
Dengan jarak sekitar 5 menit barulah Bagas pergi menyusul ketiga perempuan itu
Diperjalanan ke toilet Bagas melihat Tania dan Fani tertawa puas dengan Tania yang sambil melempar dan menangkap kunci toilet yang ada ditangannya
__ADS_1
"Serahin kunci itu" Bagas bersuara tegas yang terdengar seperti sebuah perintah
Tania dan Fani gelagapan melihat tatapan Bagas yang terlalu tajam
"Bu-buat a-apaan emangnya ?" tanya Tania dengan gugup sedang Fani hanya berani menunduk tak mau ikut-ikutan
"Gue bilang serahin kunci itu sekarang juga" tanpa mau menjawab Bagas hanya mengucapkan kembali ucapannya dengan lebih menekankan kata "kunci"
Tania ingin berucap kembali namun ia malah bungkam mendengar ancaman dari Bagas
"Atau mau gue laporin lo berdua ke guru BK karena udah ngunciin orang terlebih orang itu adalah murid baru yang gak tau apa-apa"
Sontak Tania mengulurkan kunci itu tanpa menoleh sedikitpun kepada Bagas dan setelahnya Bagas pergi meninggalkan Tania dan Fani
"aghhh.... shitt" Tania berteriak marah setelah Bagas pergi dan tak terlihat lagi "pakai susuk apaan sih tuh murid baru sampe-sampe Bagas mau turun tangan langsung buat dia" lanjutnya berucap kesal dengan dada yang turun naik mengatur nafasnya yang tak beraturan
"Udah lebih baik kita pergi dulu kita fikirin nanti aja" ajak Fani yang langsung menarik tangan Tania begitu saja
...----------------...
"Aduh Ara kok lama ya tuh anak buang aer apa buang batu sih ?" Abel sedikit berucap kesal pasalnya ia sudah capek. capek menunggu Ara dan capek melihat Sasa dan Kevin yang terus pamer kebucinan
"Sa coba lo telpon si Ara gue ga bawa hp nih"
Tak ada jawaban
"Wooiiii bumbu Sasaaaa" teriak Abel yang membuat orang disekitarnya pun menoleh kepadanya
"apasih Bel gue gak budeg kok gak usah teriak-teriak kek gitu"
"Cih gak budeg, gue dari tadi nyuruh lo buat nelpon si Ara" Sasa hanya menyengir dan langsung menelpon Ara
perasaan gak ada tuh Abel ngomongin gue apa iya gue terlalu hayal ma my bunny kali ya batin Sasa sambil menunggu telponnya tersambung
"Gak diangkat Bel udah 2 kali malah gue telponnya"
ck
Abel berdecak dan kemudian mengajak Sasa untuk menyusul Ara
Baru akan beranjak nampaklah Ara yang berjalan kearah mereka
Namun mereka dibuat melongo sebab Ara datang tak sendirian melainkan bersama Bagas si ketua kelas yang tak pernah nampak akrab dengan siapapun
"Kok bisa ?" ucap Abel dan Sasa bersamaan
__ADS_1