
"hei my yayank"
"kenapa sih tumben ngajakin ketemuan ?"
"disuruh duduk kek dulu"
"yaelah tinggal duduk aja repot banget"
huh
Chandra membuang nafasnya kasar, pacarnya itu selalu tidak bisa romantis tapi walau begitu Desty lah yang bisa memenangkan hatinya
"aku tuh mau cerita"ucap Chandra menyerahkan hp nya yang menampilkan gambar-gambar kiriman dari nomor asing
"cieee punya penggemar rahasia, pasti udah tau kan siapa sih siapa ? kasi tau dong" Chandra menyentil kening Desty pelan gemas bercampur kesal karena bukannya cemburu malah mengejek
Chandra nya tidak tau saja, karena ini pertama kalinya Desty cemburu tapi tidak tau harus bersikap seperti apa,jadinya ya seperti itu saja
"kalo gue cemburu harus terang-terangan ya ?"
"sayang, kapan sih jangan pakai lo gue kalo lagi berduaan hemm ?" tanya Chandra lembut
"hehe maaf ya, gue em maksudnya aku sebenarnya gak suka lihat foto itu, jujur aku takut kamu mikir macem-macem " Desty menjawab dengan tertunduk
Chandra tersenyum mendengar kejujuran dari Desty, karena tidak mau pacarnya merasa bersalah akhirnya Chandra melanjutkan ceritanya
"awalnya aku emang kaget, tapi kan aku udah dewasa ngapain harus langsung percaya kayak begituan jadi aku minta bantu sama Bagas buat ngelacak itu nomor dan berhasil yank"
Desty mendongak "siapa ?" tanyanya memang sedari tadi penasaran
"temen sekelas kamu kok yank, namanya Reva"
"ooohhhh... berarti dia suka dong sama lo eh kamu"
"ya gak tau, yang penting kan aku nya suka sama kamu aja"
blushh...
merah sudah pipi Desty mendengar pengakuan dari Chandra
"dih dih.. mau senyum ya senyum aja yank" ejek Chandra yang semakin membuat Desty membenamkan wajahnya ditelapak tangannya sendiri
__ADS_1
"yank diem gak" teriak Desty masih dengan posisinya
"eh eh apa tadi ? kamu panggil aku yank"
"enggak....." teriak Desty lagi yang akhirnya menyembunyikan wajahnya dipangkuan Chandra
"hahahahaha" sumpah Chandra tidak bisa lagi menahan tawanya merasa gemas dengan pacarnya yang menunjukkan saltingnya
"udah ih nanti susah nafas loh, atau sengaja biar aku kasi nafas buatan ?" goda Chandra terus menerus
Desty menegakkan posisi duduknya memberanikan diri menatap sang kekasih
"cantik" 1 kata yang kembali diucapkan oleh Chandra dan membuat Desty akhirnya senyum dengan lebar tidak lagi menahan senyum seperti sebelumnya
"makasih ya kamu mau bertahan sama aku"
"ngomong apaan sih ga denger" bohong Chandra yang kemudian menarik Desty kedalam pelukannya
"oh iya,aku udah mikirin betul-betul kalo aku siap nikah sama kamu setelah lulus SMA"
Chandra melepas pelukannya dan memegang kedua pundak Desty lalu bertanya "kamu serius siap ?" Desty mengangguk dengan mantap
Chandra kembali memeluk Desty lebih erat lagi berulang kali mengucapkan terimakasih karena kekasihnya mau mengikuti kemauannya yaitu nikah muda
Chandra berkeinginan nikah muda pun karena memang dia sanggup jika harus menafkahi Desty lahir maupun batin secara dia memiliki restoran bahkan sudah mulai membuka cabang ditambah lagi memasak itu memang hobinya Desty jadikan cocok
woy...
teriak adik-adik Desty siapa lagi kalau bukan Abel,Ara,Sasa dan ada Kevin juga Aron
itu yang adik-adik karena ada yang selain adik yaitu Rangga orang yang sedang menjadi topik pembicaraan kedua orang itu
Chandra semakin menarik Desty agar lebih menempel duduknya yang jelas itu terlalu nampak posesif
"pacaran gak ngajak-ngajak sih" ucap Sasa menyindir Desty
"mana ada pacaran ngajak-ngajak"sewot Desty menjelerkan lidahnya
"boleh gabung gak nih, kalo gak boleh kita mau cari tempat lain" Abel yang terdengar meminta izin padahal sendirinya langsung duduk
"gabung aja sini elah segala pake izin" Kevin yang menyahut dan juga langsung ikut duduk
__ADS_1
"bang sini duduk" ajak Aron pada Rangga, dan mau tidak mau Rangga pun ikut duduk walau sebenarnya merasa tidak enak karena ia banyak tidak mengenal rasanya yah gimana ya..
"emang mau pada ngapain sih cari tempat duduk ?" tanya Chandra yang diangguki oleh Desty
Rangga sesekali melihat kearah Desty dan Chandra yang nampak selalu menebar keromantisan, jujur ia teringat dengan Maya dan berandai jika Maya masih ada mungkin akan seperti pasangan dihadapannya ini
"mau main Uno nih, ikutan gak ?" jawab Abel yang langsung mengeluarkan kartu Uno dan buku juga pulpen untuk mencatat nilai nantinya
"ikutan lah" sahut Desty semangat langsung mengocok kartu Uno dan membagikan
"sampe berapa poin nih ?" tanya Aron ikut berbaur
"500 ajalah, abis tu pulang" Desty yang menyahut
1 jam bermain tidak ada yang merasakan bosan bahkan mereka kekurangan waktu,tapi mereka masih bisa mengingat waktu oleh karena itu mereka memutuskan pulang walau masih ada waktu kurang lebih 20 menit
"pisah disini ya guys.." ujar Abel sesampainya dijembatan batas lapangan dan jalan masuk asrama
"besok main truth or dare kuy" ucap Kevin memberi ide
"siappp" sahut Sasa dan Abel bersamaan
dan mereka pun berpisah berjalan ke asrama masing-masing.
sedang Rangga dan Chandra masih ditempat nya berdiri
"kenapa ?" tanya Rangga yang ditahan oleh Chandra
Chandra membuka hp nya dan menunjukkan gambar-gambar kiriman itu pada Rangga
Rangga tentu heran siapa orang yang mengambil gambarnya diam-diam dan apa tujuannya
tapi Rangga tidak peduli melainkan bertanya kenapa Chandra menahannya padahal sudah jelas bukan dia yang mengirim gambar tersebut
"gue to the point dari yang gue lihat digambar-gambar ini tatapan lo itu adalah tatapan kagum bahkan suka jadi lo ga usah ngelak karena sesama cowok jadi gue bisa tau maksud dari tatapan lo untuk Desty, gue cuman ngasi tau kalo Desty itu calon istri gue dan gue peringatin jangan sampe naruh hati pada hati yang sudah dimiliki, ok itu aja" setelah mengucapkan itu Chandra tersenyum dan pergi lebih dulu meninggalkan Rangga
Rangga tersenyum getir, dia tidak memiliki niat jahat atau apapun bahkan setelah melihat kemesraan Chandra dan Desty itu cukup membuat Rangga faham bahwa mereka adalah sepasang kekasih
"Maya, apa gue terlihat seperti orang yang akan mengambil pacar orang lain ?" gumam Rangga seakan bertanya pada Maya
Rangga mengepalkan tangannya kuat merasa tidak terima dengan teguran Chandra
__ADS_1
"gimana kalo gue benar-benar ambil Desty dari lo ?" Rangga tersenyum licik dan kemudian pergi