
Madam Karin lagi-lagi memanggil Ara dan teman sekamarnya untuk membantunya membuat kue ulang tahun, sengaja membuat sendiri karena akan terasa lebih spesial
ya, hari ini anak sulungnya akan pulang dari luar kota karena permintaan orang tuanya terutama Karin sang ibu, Karin memintanya pulangpun karena anak sulungnya sedang libur
"Madam ga apa-apa kan nih minta tolong sama kalian lagi ?" tanya Madam Karin memasukkan adonan kue yang sudah siap dimasukkan kedalam oven
"jangan ditanya lagi Madam, ngerepotin banget" jawab Abel dengan santainya
mendengar jawaban Abel semua yang ada disitu hanya ketawa karena pastinya itu hanya gurauan bukan sungguhan
"buat calon suami kamu loh Bel"
"nah kan mulai nih nenek-nenek asal ngejodohin aja"
"enak aja nenek-nenek orang Madam masih awet kek begini"
"jangan gitulah Bel biar nenek-nenek kek gitu beliau ini calon mertua gue" Desty membela Madam Karin yang padahal ikut meledek
Ara dan Sasa hanya bisa tertawa mendengar omongan ketiga orang itu tidak mau ikut menimpali lebih baik jadi pendengar saja
"Tan, em kok kak Bagas tadi ga masuk sekolah ?" Ara memberanikan diri untuk bertanya sebenarnya sih malu karena pasti akan diledek tapi entah kenapa seperti ada rasa yang mendorongnya untuk bertanya
__ADS_1
"kan sakit Ra"sahut Sasa menoleh pada Ara
ah Ara salah tanya saking menahan malunya, Ara menggigit bibirnya dan bertanya lagi
"i-iya maksudnya sakit apa ?" tanyanya terbata
Karin tersenyum sejenak kemudian menjawab "Ara mau tau sesuatu gak ?"
yang awalnya Ara menunduk kini iya menatap Karin dengan berani mendengar pertanyaan dari Karin membuat Ara berfikir apa ada sesuatu yang terjadi dengan Bagas ?
Desty memberi isyarat pada Abel dan Sasa untuk pergi saja takutnya pembicaraan diantara keduanya serius
...flashback 3 tahun yang lalu...
seharusnya tahun ini adalah tahun dimana seorang anak laki-laki mulai mendaftarkan diri masuk ke sekolah menengah atas namun sayang sebuah peristiwa mengharuskan ia harus mengurungkan itu semua dan dia adalah Bagaskara
dipagi hari itu Bagas melakukan perjalanan ke bandara dengan tujuan sekolah ke London sesuai dengan keinginannya tapi naas mobil yang dikendarai oleh Bagas ditabrak oleh mobil truk yang memuat barang berat
diperempatan jalan mobil Bagas melaju dengan kecepatan lumayan tinggi dan orang yang mengendarai truk datang dari arah kiri itu ternyata sedang mabuk dan mengendarai dengan ugal-ugalan yang berakhir menabrak mobil Bagas sedangkan Bagas yang membanting setir pun akhirnya mobil milik Bagas terpelanting jauh dan menabrak sebuah bangunan tua sampai hancur menimpa mobil yang masih ada Bagas didalamnya
kedua orang yang mengalami kecelakaan tersebut dengan cepat dilarikan ke rumah sakit tapi sayang orang yang menabrak itu menghembuskan nafas terakhirnya didalam ambulans sedang Bagas masih tidak sadarkan diri
__ADS_1
Bagas mengalami koma selama 7 bulan dan mengalami lumpuh dikedua kakinya bukan hanya itu karena setelah sadar dari komanya Bagas juga mengalami kebutaan sementara, dari itu Bagas berubah menjadi orang yang pendiam tidak banyak bicara dan bersikap acuh
sebagai orang tua Karin dan Dirgan tidak pantang menyerah untuk pengobatan sang anak bahkan sampai berobat keluar negeri sekalipun sudah mereka lakukan
diakhir tahun pertama sampai pertengahan tahun kedua Bagas memang pasrah dan juga menyerah tapi melihat kedua orang tuanya berusaha pantang menyerah Bagas mulai bertekad untuk bisa sembuh kembali
dari itu Bagas mulai rajin ikut terapi sesuai keinginan orang tuanya dan menerima tawaran orang tuanya mencari donor mata untuknya
Bagas juga sering belajar diam-diam dengan bantuan Kakak sulungnya jadi jika nanti ia masuk sekolah tidak sulit lagi dan yang dipelajari oleh Bagas adalah tentang jurusan anak IPA
padahal keinginan Bagas itu sekolah di London dengan mengambil jurusan Teknologi seperti hobinya yang selalu bergelut dengan komputernya
tapi tidak lagi setelah ia bangkit untuk sembuh, Bagas mengubah cita-citanya menjadi seorang dokter
akhir tahun kedua Bagas berhasil melalui terapi-terapi yang ia lakukan dan berhasil, Bagas sudah tidak lumpuh lagi
dan pertengahan tahun ketiga Bagas juga berhasil mendapatkan donor mata yang benar-benar cocok untuknya
bukan hanya itu karena kabar baiknya lagi sebuah asrama dan sekolahan impian Karin dan Dirgantara berhasil dibangun dan dioperasikan
awal tahun keempat Bagaspun mendaftar sekolah di sekolah milik orang tuanya sendiri
__ADS_1