Asmara Di Asrama

Asmara Di Asrama
Chapter 41 - Jangan Takut Selama Ada Kakak


__ADS_3

huweekkk


"duh udah dong muntahnya nya Tan" resah Reva yang sedari tadi ikut mondar-mandir membantu Tania yang terus memuntahkan sedikit air


"mual banget kak" rengek Tania dengan manja


"siapa suruh lo diem di balkon sampe subuh"


ting


"hp lo tuh ada pesan kek nya" Tania dan Reva pun keluar dari kamar mandi


Tania membuka pesan tersebut dan mukanya langsung kusut begitu tau isi pesan itu


"gue pulang dulu" pamit Tania yang mengambil jaket dan tas nya


"langsung mampir aja ke apotek sekalian" peringat Reva yang kemudian merebahkan dirinya ke ranjang


Tania hanya mengangguk dan keluar dari kamarnya, ketika sudah mendapat izin Tania pun menemui supir yang menjemputnya


"pak mampir ke apotek ya"


"siap non"


hanya perlu waktu setengah jam Tania pun sampai dirumahnya dan langsung masuk ke kamarnya karena tiba-tiba ia mual kembali

__ADS_1


tok tok tok tok


Tania yang baru keluar dari toilet berdiri terpaku menghadap pada pintu kamarnya yang diketuk oleh seseorang dari luar


ceklek


pintu terbuka dan nampaklah pria paruh baya dengan tatapan tajamnya


"kamu itu gak punya telinga ya ?" bentaknya kasar sambil berjalan ke arah Tania


plakkk...


Tania terhuyung oleh tamparan keras dari ayah tirinya, ya pria itu adalah ayah tirinya Tania


"dasar anak tidak bergun@, sudah mau naik ke kelas XI kamu belum bisa dapat apa-apa hah ?" Tania hanya memegang pipinya yang memanas dan terus menunduk dengan air matanya yang entah kapan air mata itu keluar Tania pun tidak menyadarinya


"Ayah.." panggil Tania lirih sambil menyerahkan sebuah benda kecil yang sedari tadi ia pegangi


Surya_ayah Tania mengambil benda itu dan mengamatinya "apa maksud kamu memberikan ini, apa ini hasilnya ? iya ?" tanya Surya yang tidak sabaran berharap anak tirinya menjawab iya


"aku ga pernah bisa ngelakuin apa yang ayah mau, itu bukan-"


plaakkkk


belum sempat Tania menyelesaikan penjelasannya Tania lebih dulu mendapat tamparan lagi dari Surya

__ADS_1


"hiks i-ini anak ayah, aku harus gimana ayah ?" ya Tania hamil, tadi di apotek Tania tidak jadi membeli obat melainkan membeli alat tes pack Tania curiga mual dan pusing yang dia alami bukan karena ia semalaman berdiam di balkon tapi karena itu tanda-tanda ia hamil


masuk toilet Tania langsung menggunakan alat tersebut dengan mengikuti cara-cara yang tersedia di kemasan itu


menunggu beberapa menit Tania pun melihatnya dengan mata yang menyipit dan ya Tania positif hamil


mendengar pintu diketuk Tania tau itu ayahnya tapi ia terpaku karena ia harus menerima kenyataan pahit bahwa anak yang dikandungnya juga anak ayah tirinya


ketika Tania ditampar Tania memang merasakan sakit dan Tania menangis karena selain dimaki oleh sang ayah Tania juga mersakan sakit dihatinya masa depannya benar-benar telah hancur


"kamu jangan asal bicara ya, saya ngelakuin itu sama kamu cuma satu kali dan lagi kamu itu saya tiduri sudah tidak peraw@n, jadi itu bukan anak saya, kamu itu sama aja kayak mama kamu, cih.. dasar jal@ng" setelah mengucapkan kalimat yang sangat menusuk dihati Tania, Surya pergi meninggalkan Tania yang masih terisak-isak


Tania begitu hancur sehancur-hancurnya ia menangis dengan suara tertahan bahkan ia memukul-mukul kepalanya merasa menjadi orang paling bodoh dan paling si@l


"aku ingat banget kalau ngelakuin itu 2 kali.. kenapa ayah ga mau ngakuin sih" kesal Tania yang terus memukul kepalanya


ceklek


pintu kamar Tania terbuka bukan ayahnya yang datang melainkan kakak tirinya_ Davin.


Davin berjalan menghampiri Tania setelah menutup pintu kamar adiknya


"hei kamu kok nangis, jelek banget sih adiknya kakak" Davin membantu Tania naik keatas kasur lalu kemudian Devin membenarkan rambut Tania dan menghapus air mata Tania, Tania tidak menolak hanya terus memandangi sang kakak yang memperlakukannya dengan lembut


Tania memeluk Davin dengan erat ia kembali menangis, baginya di dunia ini hanya Davin yang benar-benar tulus baik padanya padahal Davin pun hanya kakak tirinya tidak sedikitpun memiliki ikatan darah yang sama

__ADS_1


"jangan takut selama ada kakak" ucap Davin menenangkan Tania dan Tania mengangguk dalam pelukan sang kakak dengan senyum kecil yang terbit kembali, itulah kalimat yang selalu menjadi penenang bagi Tania


tangan Davin yang terus mengusap pundak sang adik kini beralih turun pada perut Tania dan mengusapnya lembut, saat Davin membawa Tania duduk dikasur ia melihat alat tes pack yang bergaris 2 tanda positif itu dan ia sudah tahu penyebab lain Tania menangis


__ADS_2