Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)

Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)
Bab 9. Memperbalikkan fakta!


__ADS_3

Dinda terbangun, saat mendengar adzan subuh berkumandang. Rasanya ia baru saja memejamkan matanya, tak terasa sudah subuh saja. Ya memang semalam Dinda tidur sangat larut, ia baru tidur beberapa jam saja.


Dinda pun berajak dari kasur, sekilas ia menoleh kearah Aditia yang masih tidur di sofa, ingin rasanya Dinda membangunkan Aditia untuk melakukan shalat subuh bersama, tapi niat itu Dinda urungkan. Ia takut Aditia akan marah, karna menganggu tidurnya, tapi bukankah sesama umat muslim kita harus saling mengingatkan. Dengan ragu-ragu Dinda pun berjalan mendekati suaminya itu. Ia akan mencoba membangunkan suaminya itu.


"Mas, bangun..." Ucap Dinda, ia menepuk pelan bahu suaminya.


"Emmm," Aditia menggeliat, dengan suara khas orang yang masih mengantuk berat.


"Bangun mas, kita shalat subuh!"


"Iya kamu duluan saja sayang!" Jawab Aditia, masih memejamkan mata, lalu menarik selimut sampai menutupi kepalanya.


'Apa sayang?' gumam Dinda. Ia sedikit terkejut, apa benar tadi Aditia memanggilnya dengan sebutan sayang? Tak sadar Dinda tersenyum, entah mengapa hatinya sedikit berbunga-bunga. Apa itu tandanya Aditia sudah mulai menerima kehadirannya?


"Mas jangan tidur lagi, ayo cepat bangun!" Ucap Dinda, ia menarik selimut yang menutupi kepala suaminya itu.


"Lisa sayang, aku masih ngantuk. Kamu duluan saja ya, nanti aku nyusul." Jawab Aditia, ia masih memejamkan matanya. Memang ia masih sangat mengantuk, Aditia belum menyadari kalau yang membangunkannya itu Dinda, istri mudanya. Bahkan Aditia lupa bahwa kini ia tengah tidur di kamar Dinda.


'Lisa? Aku bukan Lisa mas, aku Dinda. Aku pikir sebutan itu nyata untukku mas, ternyata tidak. Aku terlalu berharap padamu mas, maafkan aku,' ucap Dinda dalam hatinya. Hatinya sudah berbunga-bunga saat Aditia menyebutnya dengan sebutan sayang. Tapi bunga itu seketika langsung layu, saat mendengar Aditia menyebutnya dengan nama istri pertama suaminya itu.


Dinda pun berlalu, ia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, untuk mengambil air wudhu. Dalam kamar mandi Dinda menatap pantulan dirinya di cermin yang berada dihadapannya.


"Apa aku salah berharap pada suamiku? Kenapa nasibku malang sekali, sampai kapan aku menjadi istri yang tak dirindukan?" Ucap Dinda, sambil menatap pantulan dirinya di cermin tersebut. Butiran air mata lolos begitu saja membasahi wajahnya.


"Aku tidak boleh cengeng!" Ucap Dinda, segara ia mengusap air mata yang membasahi pipinya itu. Usai itu Dinda segara mengambil air wudhu, karna waktu subuh sangat singkat, Dinda tidak mau kalau sampai kehabisan waktu shalat subuh-nya, hanya karna meratapi nasib malangnya itu. Usai mengambil air wudhu, Dinda keluar dari kamar mandi tersebut, segara ia melakukan kewajibannya, melaksanakan shalat subuh-nya.


Sementara itu, Aditia mulai membuka mata perlahan, saat mendengar lantunan ayat suci Al-Qur'an, suara itu sangat merdu, membuat Aditia yang mendengarnya merasa hatinya damai dan tenang. Cukup lama Aditia mendengarkan suara yang membuat hatinya tentram itu, hingga Aditia tersadar ia langsung menoleh kearah sumber suara yang melantunkan ayat suci Al-Qur'an tersebut.


'Dinda?' batinnya.


'Sial aku baru sadar, kalau aku tidur di kamar wanita itu. Eh tunggu, jadi tadi yang membangunkan aku itu dia? Bukan Lisa? Bodoh kenapa aku tidak mengingatnya,' batin Aditia lagi. Ia menggerutu dirinya sendiri.


Aditia segera beranjak dari sofa, ia berjalan keluar dari kamar istri mudanya itu. Dinda tak menyadari Aditia yang keluar dari kamarnya, karna ia masih fokus membaca Al-Qur'an tersebut. Aditia langsung berjalan menuju lantai dua, ia menuju kamar istri pertamanya.


Klek...


Aditia membuka kamar tersebut, lalu masuk.


Dilihatnya Lisa masih tertidur lelap. Aditia langsung berjalan menghampiri Lisa, lalu membaringkan tubuhnya kembali di samping istri pertamanya itu, Aditia yang masih mengantuk itupun kembali memejamkan matanya, sambil memeluk Lisa.


Sementara itu, Dinda yang baru saja selesai. Usai ia membereskan alat shalatnya. Dinda baru menyadari jika suaminya sudah tidak ada di kamarnya.


"Loh kamana mas Aditia?" Ucap Dinda, "apa dia sudah bangun dan kembali ke kamar mbak Lisa?'' Lanjutnya. Benar ucapan Dinda, sudah di pastikan bahwa suaminya pasti kembali ke kamar Lisa.


Sudahlah biarkan saja, pikirnya.


Dinda pun bergegas menuju dapur, untuk membuatkan sarapan. Di lihatnya di dapur sudah ada bi Santi.


"Pagi bi," sapa Dinda.


"Eh nyonya, pagi nyonya!" Jawab bi Santi. Kini bi Santi sudah terbiasa dengan nyonya mudanya itu, setiap pagi memang mereka sudah berkutat di dapur. Bi Santi sudah tak melarang nyonya mudanya itu lagi.


Tak lama kemudian mereka pun selesai menyiapkan makanan untuk sarapan. Dinda menatanya di atas meja makan, setalah itu ia kembali menuju kamarnya, untuk membersikan tubuhnya yang terasa sedikit lengkap setalah berkutat di dapur.


Aditia dan Lisa sudah bangun, Aditia kini sudah rapi dengan setelan jas yang sudah melekat di tubuh gagahnya.


"Sayang aku langsung berangkat ke kantor ya!" Pamit Aditia.


"Loh gak sarapan dulu mas?" Tanya Lisa.


"Enggak sayang, mas ada metting pagi ini. Nanti masa sarapan di kantor saja,"


"Ya sudah hati-hati ya mas!''

__ADS_1


"Iya sayang, aku berangkat ya." Pamit Aditia lagi, lalu ia mengecup kening Lisa. Usai itu Aditia pun langsung berangkat menuju kantornya.


Lisa tersenyum, ia tersenyum dengan senyuman yang sulit di artikan.


"Ini kesempatan aku buat balas sakit hatiku pada kamu madu, karna semalam kamu sudah mengambil suamiku, ya walaupun sebenarnya aku yang menyuruh suamiku untuk tidur denganmu, tapi aku tetap saja tak rela. Lihat saja, aku akan membuatmu sengsara hari ini," ucap Lisa. Sambil memikirkan rencana-rencana jahatnya.


Dengan langkah yang anggun Lisa pun keluar dari kamarnya, ia berjalan menuruni anak tangga. Namun Lisa tak melihat Dinda, biasanya madunya itu sudah duduk manis di kursi meja makan, menunggu kedatangan dirinya dan Aditia. Setiap pagi memang mereka selalu sarapan bersama, menikamati sarapan pagi mereka, namun bagi Dinda bukan hanya menikmati sarapan, tapi dia menikamati kesakitan hatinya, melihat kemesraan suami dan istri pertamanya.


'Kemana wanita itu?' Ucap Lisa dalam hatinya.


"Bibi, bi...." Teriak Lisa.


"Iya nyonya, ada yang bisa saya bantu?" Jawab bi Santi, sambil membungkuk hormat pada majikannya itu.


"Dimana si Dinda?"


"Nyonya muda, di kamarnya nyonya."


"Apa dikamar? Enak sekali hidupnya sudah menumpang, bisanya cuman malas-malasan lagi," ucap Lisa sinis.


"Nyonya tadi sudah membuatkan sarapan kok nyonya, tadi dia membantu saya. Setalah itu dia berpamitan, katanya mau mandi nyonya!" Bi Santi mencoba menjelaskan semuanya, entah kenapa rasanya ia tak rela mendengar cacian yang di tuturkan majikanya itu untuk Dinda.


"Siapa yang menyuruhmu berbicara?" Tanya Lisa kesal. Ia tidak suka bi Santi yang terkesan membela madunya itu.


"Maaf nyonya!"


"Sudah sana pergi kamu," usir Lisa sambil mengibaskan tanganya.


Bi Santi mengangguk, lalu ia pun berajak dari hadapan majikanya itu. 'Semakin hari kok sikap nyonya Lisa semakin keterlaluan, dia memperlakukan nyonya Dinda semena-mena, ucapnya gak di jaga pula, nyonya Dinda--kan istrinya tuan Aditia juga, wajarlah dia tinggal di rumah ini, tidak pantas rasanya kalau nyonya Lisa bilang kalau nyonya Dinda menumpang di rumah ini. Huh dasar wanita bermuka dua, saya gak nyangka ternyata sikap aslinya seperti itu. Kasian sekali nyonya Dinda, semoga tuan Aditia segera terbuka matanya, biar dia bisa melihat mana yang baik dan mana yang tidak. Huh saya gemes sendiri rasanya!' batin bi Santi.


Sementara itu, Dinda sudah selesai mandi, kini ia sudah berpakaian rapi.


Tok tok tok


Terdengar pintu kamarnya di ketuk, tepatnya bukan di ketuk tapi di gedor-gedor karna suaranya sangat kencang.


"Mbak Lisa, ada apa ya?" Ucap Dinda, ia langsung berjalan menuju pintu kamarnya dan membuka pintu kamar tersebut.


"Iya mbak ada apa?" Tanya Dinda kepada Lisa, yang tengah menatap dirinya kesal. Lisa melipat kedua tangannya di depan dada, ia menatap Dinda dengan tatapan tajamnya.


"Enak banget ya hidup kamu, sudah numpang tidak tau diri lagi," cibir Lisa.


"Maksud mbak apa?"


Lisa tersenyum smirk, "pura-pura tidak tau lagi," ucapnya, lalu Lisa menunjuk wajah madunya itu, "dengarnya Dinda, kamu jangan berharap mas Aditia akan jatuh cinta sama kamu, kamu jangan pernah berharap pada suamiku, sadar posisi kamu. Mas Aditia menikahimu hanya untuk menjadikan kamu alat pencetak anak, bukan menjadikan kamu istrinya, kamu jangan bangga dan besar kepala karna mas Aditia sudah tidur bersamamu." Lanjut Lisa, membentak-bentak istri kedua suaminya itu.


"Lisa apa yang kamu lakukan?" Terdengar suara teriak seorang wanita.


Lisa dan Dinda langsung menoleh kearah sumber suara tersebut, Lisa terlihat begitu terkejut, saat melihat kedua mertuanya yang tengah berjalan kearah mereka. Sementara Dinda ia terlihat menundukan kepalanya.


"Ma--mah, pa--pah..." Ucap Lisa terbata-bata. 'Sial kenapa kedua mertua sialanku ada di sini? Apa mereka mendengarkan semuanya! Arrggg...' lanjut Lisa berucap dalam hatinya.


Ya kedua orang tua Aditia baru saja sampai di rumah tersebut, mereka berencana akan menginap di sana, mereka memang sengaja datang berkunjung, tanpa memberitahu Aditia dan kedua menantunya itu. Kedatangan mereka untuk memastikan bahwa Aditia bersikap adil pada kedua istrinya. Karna mereka tau Aditia masih tak bisa menerima Dinda, mereka juga ingin memastikan bahwa Dinda baik-baik saja di sana. Tapi mereka begitu terkejut, saat melihat dengan mata kepala mereka sendiri, Lisa yang tengah membentak-bentak Dinda. Bahkan Lisa berbicara yang sangat keterlaluan kepada madunya. Mereka tak menyangka bahwa sikap Lisa seperti itu, bukannya yang mengusulkan pernikahan itu, Lisa sendiri, tapi kenapa sekarang dia seperti ini?


Mamah Amira langsung menarik Dinda kedalam pelukannya. Ia marasa kasihan serta merasa bersalah, pasti Dinda sangat terluka dengan ucapan Lisa.


"Lisa, tak sepantasnya kamu berbicara seperti tadi." Tegur papah Mahendra. Ia menatap tajam Lisa, ia begitu kecewa dengan sikap Lisa kepada Dinda.


"Dinda itu madu kamu Lisa, dia istrinya Aditia juga. Kamu jangan egois, Aditia sekarang bukan milik kamu seorang, kamu harus ikhlas berbagi suami kamu dengan madu kamu. Bukannya semua ini yang kamu mau? Kamu sendiri yang menyarankan suami kamu untuk menikah lagi! Tapi apa, lihatlah kenyataan. Papah kecewa sama kamu Lisa!" Pekik papah Mahendra.


"Kamu keterlaluan Lisa, apa selama ini kamu selalu memperlakukan Dinda seperti ini hah? Harusnya kamu itu sadar diri Lisa, harusnya kamu bersyukur. Dinda mau menikah dengan Aditia, bahkan dia menerima kalau dirinya dimadu.'' Timpal mamah Amira, ia tak bisa menahan emosinya. Karna Lisa benar-benar keterlaluan, pikirnya.


Lisa tak berkutat, ia hanya terdiam sambil menundukan kepalanya. Lisa tak menyangka bahwa secepatnya ini kedua mertuanya itu mengetahui kebusukannya. Kedua mertuanya itu, sudah di pastikan akan mengadu pada suaminya. Harus bagaimana dia sekarang?

__ADS_1


'Sial ini semua gara-gara kamu Dinda, awas saja kalau sampai mas Aditia marah padaku, aku pastikan akan membuat hidup kamu lebih sengsara dari pada sekarang madu sialan,' batin Lisa.


Sementara Dinda, ia tak bisa berkata apa-apa. Ada rasa senang di hati Dinda karna mertuanya mengetahui sikap busuk istri pertama suaminya itu. Namun Dinda juga merasa kasihan pada Lisa, yang terlihat ketakutan.


***


Aditia kini tengah mengemudikan mobilnya menuju kantor.


"Ya ampun, aku lupa bawa berkas yang kamarin," ucap Aditia. Aditia pun memutar arah mobilnya, ia kembali ke rumahnya, untunglah jarak rumahnya belum terlalu jauh. Hingga hanya butuh waktu lima menit, akhirnya Aditia sampai, ia langsung turun dari mobilnya. Aditia jalan terburu-buru masuk ke dalam rumahnya, namun langkahnya terhenti saat melihat orang tua dan kedua istrinya yang terlihat sedang berseteru.


"Ada apa ini?" Tanya Aditia. Mereka langsung menoleh kearah Aditia.


"Mas," teriak Lisa. Ia langsung berlari kearah Aditia dan memeluk suaminya itu sambil terisak tangis.


"Sayang kamu kenapa?" Tanya Adita panik, melihat istri yang di cintainya itu menangis. Lisa tak menjawab ia malah semakin terisak.


"Mah, Pah. Ada apa ini?" Kini Aditia bertanya pada orang tuanya, sambil menatap mereka penuh tanya.


"Aditia kamu harus tegas kepada kedua istri kamu," jawab papah Mahendra.


"Maksud papah?"


"Lihatlah kelakuan Lisa, dia sangat kurang ajar kepada Dinda. Papah dan mamah melihat Lisa tadi membentak-bentak Dinda," jelas papah Mahendra.


"Iya Aditia, harusnya kamu bisa membuat kedua istrimu itu akur!" Timpal mamah Amira.


"Mah, Pah. Lisa tidak mungkin melakukan itu. Sudah deh kalian jangan mengarang. Lisa itu wanita yang baik, dia tidak mungkin seperti itu, Aditia kenal betul bagaimana istri Aditia."


"Apa kamu bilang, kami mengarang? Aditia mamah dan papah melihat dengan mata kepada kita sendiri, tadi Lisa berbicara yang tidak pantas pada Dinda."


"Lisa apa benar yang dikatakan mereka?" Aditia yang masih tak percaya akhirnya bertanya kepada Lisa.


Lisa langsung mengelengkan kepalanya. "Tidak mas mereka semua bohong, aku tidak mungkin melakukan hal itu. Dinda tadi memarahiku duluan mas, dia bilang dia akan menyingkirkan aku, dia akan membuat aku dan kamu berpisah, aku tidak terima itu mah. Makanya aku memarahinya, jika dia tidak berkata seperti itu, aku juga tidak akan mas! Mas percayakan sama aku?" Dusta Lisa. Ia menyangkal semuanya dan malah memperbalikkan fakta, yang menyudutkan madunya.


"Tidak mas, itu tidak benar." Sangkal Dinda, ia tak terima, karna ia tak melakukan hal itu. Kenapa Lisa malah memperbalikkan fakta?


"Diam kamu, kamu benar-benar keterlaluan!" Pekik Aditia pada Dinda.


"Mas sumpah mas, aku tidak melakukan apa yang mbak Lisa katakan, justru mbak Lisa yang tiba-tiba memarihiku."


"Mbak kenapa mbak memperbalikkan faktanya mbak?" Lanjut Dinda.


"Apa maksud kamu Dinda? Kamu masih tak mau mengaku?" Tanya Lisa, ia masih menitikan air mata buayanya. Seolah-oleh dirinya yang dizolimi oleh Dinda dan mertuanya.


"Harusnya kami yang bertanya, apa maksudmu Lisa? Benar kata Dinda kanapa kamu memperbalikkan fakta, jelas-jelas Dinda tak salah apa-apa disini!" Sahut mamah Amira penuh amarah.


"Cukup!!" Teriak Aditia.


"Aku percaya sama Lisa. Dia tidak mungkin melakukan seperti yang kalian tuduhkan. Sepertinya papah dan mamah sudah di hasut oleh wanita ini," lanjut Aditia menunjuk Dinda.


Dinda mengelengkan kepalanya. Kenapa semuanya jadi seperti ini? Kanapa Dinda yang di salahkan?


Benar, cinta memang tak berlogika. Jika orang sudah mencintai seseorang, bahkan dia akan mendadak tuli, mendadak buta. Seperti halnya Aditia, ia lebih mempercayai istrinya yang bermuka dua itu, dari pada kedua orang tuanya. Bahkan Aditia tak mempercayai mamah Amira, wanita yang sudah melahirkannya. Seorang laki-laki walaupun sudah menikah, namun tetap saja letak surganya masih di wanita yang sudah bertaruh nyawa melahirkannya ke dunia yang tak lain adalah ibunya.


"Kamu benar-benar sudah buta Aditia. Kami kecewa sama kamu!" Ucap papah Mehendra, lalu mamah Amira mengangguk, membenarkan ucapan suaminya.


'Mampus kau Dinda, kau pikir dengan kedua orang tua mas Aditia membelamu, kamu bisa bebas begitu saja! Kamu bisa memiliki mas Aditia, jangan mimpi kau Dinda,' batin Lisa.


Bersambung...


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya guys ya!! Like, komen dan Votenya.


Salam sayang dari Author.

__ADS_1


I love you...


Terima kasih.


__ADS_2