Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)

Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)
Bab 61. Koma


__ADS_3

Usai menandatangani surat pernyataan yang diberikan oleh Dokter, Aditia kembali bergabung dengan kedua orang tuanya. Mereka duduk di kursi tunggu.


Dinda kini sudah dipindahkan keruangan operasi. Wajah kekhawatiran terlihat dari wajah Aditia dan kedua orang tuanya. Mereka hanya bisa pasrah, sambil berdoa dalam hatinya, semoga ada keajaiban. Dinda dan bayi yang ada dikandungan bisa di salematkan.


"Mas, bagaimana keadaan Dinda?" tanya Lisa yang baru saja sampai di Rumah sakit tersebut, setelah mendapatkan kabar dari Aditia, Lisa langsung menuju kesana.


Aditia dan kedua orang tuanya, melihat kearah Lisa.


"Masih ditangani Dokter," sahut Aditia dengan suara pelan.


"Ya tuhan, sebenarnya apa yang sudah terjadi Mas? Kenapa Dinda bisa sampe kecelakaan?" cerca Lisa.


Raut wajah kesedihan terlihat dari wajah Lisa.


"Sudahlah Lis, sebaiknya kamu doakan saja Dinda dan bayinya agar mereka selamat," sahut Papah Mahendra.


Lisa akhirnya mengangguk, lalu ia duduk di samping Aditia.


Sementara Mamah Mawar, wanita itu tak membuka suaranya. Entahlah, kenapa Mamah Mawar merasa kalau Lisa ada hubungannya dengan kecelakaan yang menimpa Dinda. Tapi Mamah Mawar segara menepis pikiran buruknya itu, tidak mungkin Lisa seperti itu, selama ini hubungan Dinda dan Lisa sudah baik, bahkan lebih baik. Mamah Mawar tidak ingin berburuk sangka.


Setelah menunggu hampir 3 jam. Pintu ruangan operasi terlihat terbuka. Mereka langsung buru-buru menghampiri sang Dokter.


"Bagaimana Dok?" tanya Mamah Mawar, tak sabaran dan juga takut. Takut jika perkataan Dokter, tidak sesuai yang diharapkannya.


"Istri dan anak saja baik-baik sajakan Dok?" timpal Aditia.


Dokter terlihat mengehelai napasnya, sementara Aditia, Lisa, Mamah Mawar dan Papah Mahendra, jantung mereka berdetak tak karuan.


"Anak dan istri bapak berhasil di selamatkan," ujar Dokter.

__ADS_1


"Alhamdulillah..." ucap mereka serentak. Hatinya perlahan merasa lega.


"Tapi, kondisi bayi masih lemah, karna belum waktunya melahirkan, jadi bayi Bapak, akan menjalankan perawatan secara intensif. Karna lahir prematur."


"Lalu bagiamana dengan Dinda?" tanya Aditia..


"Ibu Dinda kini mengalami koma." Dengan berat hati sang Dokter memberitahu mereka.


"Apa koma?" tanya mereka serentak, dengan mata yang membulat sempurna.


Dokter terlihat menganggukan kepalanya sebagai jawaban.


Deg....


Aditia merasa jantungnya berhenti berdetak. Dinda koma? Hal itu benar-benar membuat Aditia terkejut.


"Iya Pak."


"Kami tidak bisa menentukan kapan Bu Dinda terbangun dari koma. Kalian berdoa saja, semoga Bu Dinda diberikan keajaiban lagi."


"Apa saya boleh menemui istri saya Dok?"


"Tentu saja, tapi nanti setelah di pindahkan ke ruang rawat ya!" Mereka semua terlihat menganggukan kepala.


"Kalau begitu saya permisi," pamit Dokter. Tanpa menunggu jawaban dari mereka, Dokter tersebut terlihat berlalu.


"Sabar ya Nak," ucap Mamah Mawar pada Aditia.


Aditia hanya mengangguk lemah. Ia sudah tak bisa berkata apa-apa. Hanya bisa berdoa semoga Dinda dan bayi kecilnya diberikan keajaiban oleh Tuhan.

__ADS_1


***


Aditia kini tengah menatap Dinda yang berbaring lemah, berbagai alat medis terlihat tertempel di tubuhnya. Aditia tak kuasa lagi menahan air mata, melihat kondisi istrinya itu.


Lalu pandangan Aditia beralih pada inkubator yang ada di samping Dinda, bayi mereka kini tengah tertidur lelap, namun kondisinya sangat memperihatinkan.


Dinda dan bayinya di tempat dalam satu ruangan atas permintaan Aditia.


"Sayang, bangunlah," lirih Aditia seraya menggenggam tangan Dinda dengan erat.


"Ya Tuhan, dosa apa yang sudah aku perbuat, kenapa engkau menghukum ku dengan cara seperti ini, aku tidak sanggup Tuhan, melihat orang-orang yang aku cintai dalam keadaan seperti ini. Ya tuhan, biarkan aku saja yang menggantikan posisi mereka," batin Aditia.


Sementara Lisa, dan kedua orang tua Aditia. Mereka hanya diam, dengan perasaan yang sama dengan Aditia. Mereka benar-benar merasa sedih melihat kondisi Dinda dan bayinya. Namun di balik itu semua, mereka merasa bersyukur, Tuhan masih memberikan kesempatan pada Dinda dan bayinya.


Bersambung...


Like


Komen


Vote.


Terima kasih.


Maaf ya belum sempet balas komen kalian.


Tapi aku selalu baca komentar kalian kok.


Terus ikuti kelanjutannya ya!!

__ADS_1


See u...


__ADS_2