
Mobil milik Aditia terlihat memasuki halaman rumahnya.
"Itukan mobil Papah? Apa mereka ada di sini?" ucap Aditia, menatap mobil yang ada di depannya. Lalu ia keluar dari mobil dan berjalan menuju rumahnya.
"Asalamualaikum..." ucap Aditia, seraya membuka pintu rumah dan melangkah kakinya masuk ke dalam rumahnya itu.
"Walaikum'salam," jawab Dinda, dan kedua orang tuanya mereka langsung melihat kearah Aditia.
"Tumben, udah pulang Mas?" tanya Dinda, seraya meraih tangan suaminya itu, lalu menyalaminya dengan takzim.
"Iya sayang," jawab Aditia sambil tersenyum. Lalu Aditia meraih tangan Mamah dan Papahnya secara bergantian.
"Mamah dan Papah kapan ke sini?" tanya Aditia, yang kini sudah duduk bergabung bersama mereka.
"Tadi pagi," jawab Mamah Adelia.
"Emm..."
"Iya pagi-pagi sekali Dit, Mamah kamu banyak drama, katanya kangen sama cucunya!" sahut Papah Mehendra.
"Apaan sih Papah, lebay!" pekik Mamah Adelia.
"Azka mana?" tanya Aditia.
"Bobo Mas," jawab Dinda.
"Emm, ya sudah, aku mau mandi dulu," Aditia berajak dari sofa.
"Biar aku siapkan air untuk Mas mandi." Dinda ikut berajak. Aditia mengangguk.
"Mah, Pah, Dinda tinggal dulu ya," pamit Dinda, diangguki oleh kedua Mertua itu.
***
Semantara itu Reza kini tengah mengamati isi sebuah berkas yang baru saja di ia dapatkan dari orang kepercayaannya.
Ya, berkas tersebut adalah informasi tentang Lisa. Reza sengaja bergerak cepat, karna ia juga penasaran apa yang sebenarnya terjadi.
"Emm, apa gue kasih tau Aditia sekarang ya? Ah sepertinya jangan sekarang, informasi belum lengkap!"
Reza kembali memasukan berkas tersebut ke dalam laci, ada hal yang harus ia cari tau dulu, sebelum ia memberikan informasi tentang Lisa itu pada Aditia.
***
Usai berbincang-bincang, dan tidak terasa sudah larut malam. Aditia dan Dinda memutuskan untuk tidur, begitu juga dengan Mamah Adelia dan Papah Mehendra. Mereka ke kamar masing-masing.
Aditia membaringkan tubuhnya menghadap Dinda, dengan tangan yang melingkar di pinggang istrinya itu.
__ADS_1
"Mas, lagi ada masalah?" tanya Dinda, sedari tadi ia mengamati wajah sang suami, yang terlihat gelisah.
"Tidak Sayang, aku tidak apa-apa. Hanya lelah saja!"
Aditia berdusta, padahal sebisa mungkin Aditia menyembunyikan rasa gelisahnya itu, tapi tetap saja Dinda bisa menebaknya, tapi tidak mungkin Aditia mengatakan tentang kegelisahan itu pada Dinda, apa lagi ini masalah Lisa.
"Yakin?" tanya Dinda, ia masih tak percaya dengan jawaban yang Aditia berikan.
"Iya Sayang,'' Aditia tersenyum, seraya menyakinkan Dinda.
"Sudah, ayo kita tidur," lanjutnya, membawa Dinda ke dalam dekapannya. Dinda hanya mengangguk, menurut. Lalu mereka pun mulai memejamkan matanya.
***
"Apa?" teriak Aditia. Rasanya ia tak percaya dengan informasi yang baru saja ia dapatkan.
"Jadi, benar Lisa hamil anakku?" ucap Aditia, dengan bibir bergetar, seketika tubuhnya terasa lemas.
"Ya Tuhan, cobaan apa lagi ini? Apa engkau tidak mengizinkan aku bahagia, hidup dengan Dinda dan anak kami, kenapa engkau hadirkan Lisa kembali," lirih Aditia. Dengan mata yang berkaca-kaca.
Perasaan sudah tidak bisa lagi diungkapkan dengan kata-kata. Aditia bingung harus bagaimana? Ia tidak mungkin kembali bersama Lisa, sudah tidak ada rasa cinta pada mantan istrinya itu, kenapa harus tumbuh janin di rahimnya. Dan, bagaimana nanti Aditia menjelaskan pada Dinda? Apakah Dinda akan menerimanya?
Baru saja Aditia merasakan kebahagiaan bersama wanita itu, apa kebahagian itu akan hancur lagi? Apa Dinda kali ini akan tetap bersamanya?
"Tidak..."
"Tidak..." teriak Aditia.
"Mas, kamu mimpi apa?" Dinda terlihat panik, seraya terus menepuk-nepuk pipi suaminya.
Aditia langsung membuka matanya, dengan dada bergemuruh.
"Mas, Mas baik-baik ajakan?" tanya Dinda. Menatap Aditia cemas.
Aditia tak menyahut pertanyaan istrinya itu, ia hanya menatap Dinda, dengan tatapan yang sulit diartikan. Lalu Aditia memeluk Dinda dengan erat. Dinda hanya terdiam, ia merasa bingung.
"Syukurlah semuanya hanya mimpi, semoga mimpi ini tidak jadi kenyataan," batin Aditia.
"Mas, kamu mimpi apa?'' Dinda yang masih penasaran bertanya kembali pada suaminya itu.
Aditia melepaskan pelukannya, "aku hanya mimpi buruk Sayang,'' jawab Aditia.
"Mimpi buruk apa?"
"Enggak bukan apa-apa. Sudah jangan dipikirkan, sebaiknya kita tidur lagi," ajak Aditia, ia tak mau memberitahu Dinda tentang mimpi buruknya itu. Bagi Aditia itu mimpi buruk yang sangat menakutkan.
"Tidur, lihat jam Mas, ini udah subuh. Ayo bangun kita menunaikan kewajiban kita," ucap Dinda.
__ADS_1
"Hah, benarkah?" Aditia mengalihkan pandangannya pada jam yang ada di atas nakasnya, benar jam sudah menunjukkan pukul setengah lima pagi.
"Iya'kan?"
"Hehe, iya sayang. Ya sudah, Mas ke kamar mandi dulu," ucap Aditia, tersenyum cengengesan, lalu ia bangun, dan beranjak menuju kamar mandi.
Dinda terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya.
Tapi, Dinda penasaran. Apa yang di mimpikan oleh suami itu, sehingga kelihatannya Aditia sangat begitu ketakutan tadi.
Setalah beberapa saat kemudian, Aditia keluar dari kamar mandi. Setalah itu Dinda bergantian masuk ke kamar mandi.
Saat Dinda sudah selesai dari kamar mandi, Aditia terlihat sudah siap, sudah rapi memakai sarung dan baju Koko dan tak lupa peci hitam yang melingkar di kepala.
'Subhanallah' Dinda bergumam dalam hatinya, bertapa berkharismanya suaminya itu.
"Ayo Yang, nanti keburu akhir," sentak Aditia. Membuat Dinda langsung menundukan kepalanya. Lalu Dinda segara memakai mukena. Mereka menggelar sejadah, dan mulai menjalankan kewajiban mereka. Aditia mengimami Dinda dengan sangat khusu.
Setalah melakukan selesai menjalankan solat subuh, Dinda langsung menuju dapur untuk membuat sarapan. Sementara Aditia, kini ia tengah mengasuh baby Azka yang sudah terbangun, memang sudah menjadi rutinitas baru untuk Aditia, setiap pagi selalu menjadi baby sister dadakan untuk baby Azka.
"Azka, tau gak Ayah lagi gelisah. Tadi malam Ayah mimpi buruk," ucap Aditia, ia bercerita pada baby Azka, yang pada dasarnya tidak mengerti apa-apa. Baby Azka nampak asik dengan mainan gigitan bayi miliknya.
"Semoga mimpi Ayah itu, memang hanya sebatas mimpi ya Nak, Ayah tidak mau sampai Bunda dan kamu meninggalkan Ayah nanti, berjanji pada Ayah ya Azka, kalau kamu dan Bunda gak akan ninggalin Ayah, apa pun yang terjadi," ucap Aditia kembali, seraya menatap buah cintanya itu.
"Mas..." suara Dinda, membuat Aditia terkejut.
"Eh Yang, ngagetin aja."
"Maaf Mas. Mas mandi saja gih, biar aku yang jagain baby Azka," titah Dinda.
"Emang udah selesai bikin sarapan?"
Dinda mengelengkan kepalanya.
"Belum, tadi Mamah yang ambil alih."
"Oh, ya sudah Mas mandi dulu."
"Ayah mandi dulu ya sayang," lanjut Aditia, sambil mengecup pipi gembul Azka.
Bersambung...
Like
Komen
Vote
__ADS_1
Jangan lupa.
Terima kasih.