
Usai selesai mengurus administrasi rumah sakit. Aditia mengantarkan Dinda menuju rumah orang tuanya, Dinda di antar oleh mobil Aditia, sementara Kedua orang tuanya pulang dengan mobil terpisah. Sedangkan bi Santi, ia tak ikut mengantar, karna Aditia menyuruhnya untuk pulang ke rumah, dengan menggunakan taksi.
Dinda duduk di samping suaminya, yang tengah fokus mengemudikan mobilnya, sesekali Aditia menoleh kearah istrinya itu.
"Sayang, kamu baik-baik ya di rumah mamah dan papah,'' ujar Aditia. Seraya meraih tangan Dinda dan menggenggamnya, sementara sebelah tanganya memegangi setir.
Dinda menoleh kearah Aditia, ia hanya tersenyum sambil mengangguk kepalanya sebagai jawaban.
"Setiap Minggu aku akan mengunjungimu," lanjut Aditia, lalu mengecup punggung tangan Dinda.
"Iya mas." Sahut Dinda.
"Tapi gak apa-apakan, mas hanya mengunjungi kamu setiap weekend saja? Kamu taukan jarak rumah kita ke rumah mamah sama papah lumayan jauh, kalau aku berangkat ke kantor dari rumah mamah sama papah, membutuhkan waktu yang lama."
"Iya mas, tidak apa-apa kok!'' jawab Dinda, 'itu lebih baik mas, lebih jarang kita bertemu, mungkin akan lebih mudah untukku melupakan kamu,' lanjut Dinda berucap dalam hatinya.
Satu jam kemudian, akhirnya mereka sampai di rumah mamah Amira dan papah Mahendra. Aditia langsung berpamitan kembali kepada istri dan kedua orang tuanya, karna ia masih harus ke kantor.
"Aku pamit dulu mah, Pah." Ucap Aditia, diangguki oleh kedua orang tuanya. "Aku titip Dinda." Lanjutnya.
"Iya kamu tenang saja Aditia, mamah pasti akan menjaga Dinda, dia menantu mamah. Kamu percayakan saja Dinda sama kami, kami akan menyayangi, tidak akan mendzaliminya seperti Lisa." Sahut mamah Amira, sedikit sinis.
Aditia hanya menghelai nafasnya, "sayang kalau ada apa-apa kabari aku ya!" Ucap Aditia kepada Dinda, Dinda hanya mengangguk sebagai jawabannya. Lalu Aditia pun mulai melajukan mobilnya meninggalkan rumah ke dua orang tuanya.
"Ayo sayang kita masuk!" Ajak mamah Amira, ia mengandeng tangan Dinda.
"Iya mah," sahut Dinda. Mereka pun berjalan masuk ke dalam rumah tersebut.
***
Sementara itu, Aditia kembali melajukan mobilnya menuju kantor. Sebenarnya Aditia enggan meninggalkan Dinda, walaupun bersama kedua orang tuanya. Aditia ingin mendampingi Dinda dalam masa hamil mudanya itu, namun Aditia tidak bisa apa-apa. Tapi ada yang mengganjal di hatinya saat ini, kenapa orang tuanya begitu sangat sinis dengan Lisa? Padahal dulu kedua orang tuanya sangat menyayangi Lisa, tapi semenjak Dinda hadir dalam pernikahan mereka, Dinda jadi prioritas utama mereka, sementara Lisa, kedua orangtuanya itu seperti melupakan Lisa begitu saja.
Apa karna Lisa tak memberikan mereka cucu? Tapi tidak mungkin orang tuanya sekejam itu, menghakimi Lisa. Bukan salah Lisa juga tak bisa memberikan cucu kepada mereka, Lisa juga menginginkannya, tapi apa boleh buat, rahim Lisa bermasalah.
"Sebenarnya apa yang Lisa perbuat sehingga mamah dan papah berubah, seperti membencinya?"
"Tidak mungkin mamah dan papah membenci Lisa hanya karna tidak bisa memberikan cucu pada mereka, apa ada hal yang tidak aku tau selama ini?" Ucap Aditia, ia bermonolog dengan dirinya sendiri.
***
Kediaman Aditia.
Lisa baru saja pulang, tanganya terlihat di penuhi belanjaan. Dengan langkah yang anggun dan senyuman di wajahnya, ia melangkah memasuki rumahnya.
"Bibi..." Teriak Lisa.
__ADS_1
Bi Santi yang mendengar majikannya itu memanggilnya, langsung berjalan cepat menghampiri Lisa.
"Iya nyonya," jawabnya.
"Ini bawakan semua belanjaan saya," Lisa menyerahkan semua belanjaan itu pada bi Santi. Bi Santi dengan sigap langsung Mengambil alih samua belanjaan tersebut, "ingat jangan sampai ada yang lecet, itu barang-barang mahal," lanjut Lisa.
Bi Santi mengangguk patuh, ia pun membawa belanjaan tersebut menuju kamar Lisa.
Lisa yang merasa sangat lelah, ia mendudukkan dirinya di sofa yang berada di ruang tengah, "kemana si madu sialan itu? Kok gak keliatan!'' ujarnya.
"Eh-eh bi tunggu!" Panggil Lisa kepada bi Santi yang baru saja kembali menyimpan belanjaan Lisa tadi.
"Iya nyonya, ada apa?"
"Si Dinda kemana?"
"Oh nyonya Dinda, nyonya Dinda tadi--"
Ting tong...
Belum saja bi Santi melanjutkan ucapannya, suara bell rumah terdengar.
"Ck, siapa sih yang bertamu menganggu saja!" Ujar Lisa dengan wajah kesalnya.
"Sana lihat bi," lanjutnya. Bi Santi mengangguk, lalu ia berlalu dari hadapan Lisa, untuk melihat siapa tamu yang datang.
"Maaf apa benar ini rumah Lisa?" Tanya wanita tersebut.
"Iya benar, maaf siapa ya?" Ucap bi Santi dengan ramah.
Senyuman terlihat terambang dari wajah yang terlihat sudah mulai mengkerut itu, "saya ibunya Lisa, apa saya boleh bertemu dengan Lisa bi?"
"Ibunya nyonya Lisa?" Bi Santi menatap wanita itu tak percaya. Wanita itu terlihat menganggukan kepalanya.
"Maaf bu, setau saya nyonya Lisa sudah tidak mempunyai ibu, maksud saya ibunya nyonya Lisa sudah meninggal. Maaf ya bu, ibu jangan mengaku-ngaku!"
"Ya allah, saya benar ibunya Lisa. Saya ibu kandungnya Lisa," ucap wanita itu dengan bibir yang gemetar, ia tak menyangka Lisa seperti itu.
"Ada apa bi?" Teriak Lisa, wanita itu terlihat berjalan menghampirinya.
"Ini nyonya, ibu ini mengaku kalau beliau ibunya nyonya," sahut bi Santi.
Lisa terlihat membulatkan mata, ia begitu terkejut saat melihat wanita itu.
"Em, bibi boleh ke dalam biar saya yang tangani ibu-ibu gak jelas ini," titah Lisa diangguki oleh bi Santi. Bi Santi pun berlalu dari sana.
__ADS_1
Usai kepergian bi Santi, Lisa langsung menyeret wanita itu dengan kasar. Lalu melepaskannya dengan sedikit mendorongnya, hingga wanita itu kehilangan keseimbangan dan terjatuh.
"Lisa, kamu kenapa nak?" Lirih wanita itu dengan mata berkaca-kaca.
"Sekarang kamu pergi dari sini!" Bentak Lisa.
"Lisa kenapa kamu mengusir ibu nak, ibu sangat rindu sama kamu, kamu kenapa tidak ada kabar nak?" Wanita itu berdiri, kembali menghampiri Lisa dan ingin memeluknya.
"Stop!!" Tahan Lisa, "jangan dekat-dekat saya!"
"Lisa apa kamu tidak rindu sama ibu nak? Lisa ayahmu sedang sakit dia ingin sekali bertemu denganmu, pulanglah nak, pulang walaupun sebentar, kasian ayahmu dia terus menanyakan kamu." Wanita itu terlihat memohon.
"Dengar ya! Ke dua orang tua saja sudah meninggal. Saya sudah tidak punya orang tua. Dan sebaiknya anda pergi dari sini dan jangan pernah datang lagi ke rumah ini. Anda mengerti?" Pekik Lisa, dengan teganya ia wanita itu.
"Lisa ibu mohon, jangan seperti ini nak," wanita itu bersujud di kaki Lisa, berharap belas kasian dari putrinya itu.
"Pergi." Bentak Lisa, ia mendorong wanita itu, agar melepaskan kakinya. Setelah terlepas, Lisa langsung berajak meninggalkannya masuk ke dalam rumah.
"Lisa kanapa kamu seperti ini nak," lirih wanita itu sambil terisak tangis. Lalu ia bangkit dan berjalan meninggalkan rumah tersebut. Hatinya begitu sangat hancur, dengan susah payah ia mencari keberadaan Lisa yang selama ini tidak pernah menemuinya dan menghilang begitu saja, betapa bahagia ia saat mendengar kabar bahwa Lisa sudah menikah, bertahun-tahun ia mencari Lisa akhirnya ia bisa bertemu juga, namun usai menemui putri satu-satunya Lisa bersikap seolah-olah tak mengenalinya. Hati ibu mana yang tak sakit jika anak kandungan-nya sendiri tak mengakuinya dan malah memperlakukannya dengan kasar.
***
Aditia tengah mengemudikan mobilnya untuk pulang ke rumahnya, hari ini ada masalah di kantornya yang membuat tenaga dan pikiran cukup terkuras untuk menyelesaikan masalah tersebut.
Aditia menghelai nafasnya, sebelah tanganya memijat pelipisnya keningnya. Kepalanya terasa sedikit pusing, hingga ia sedikit kehilangan konsentrasi menyetir mobilnya itu. Dan...
Aditia langsung meng-rem mobilnya secara mendadak saat melihat seorang wanita yang sedang berjalan terserempet olehnya.
"Astagfirullah," ucap Aditia terkejut. Ia langsung ke luar dari mobilnya untuk melihat kondisi wanita tersebut.
"Bu, ibu baik-baik sajakan?" Tanya Aditia, "maafkan saya bu, saya tak sengaja."
"Tidak apa-apa nak, ibu tidak apa-apa. Hanya kaki ibu saja sedikit sakit." Jawab wanita parubaya tersebut.
"Ya ampun bu, saya benar-benar minta maaf. Mari saya bantu bu," Aditia membantu ibu berdiri.
"Ibu mau kamana?"
"Saya mau pulang nak!" Jawab ibu tersebut sambil menahan rasa ngilu di kakinya.
"Saya antar ya bu," ucap Aditia dan diangguki oleh ibu tersebut. Aditia membawa ibu itu ke mobilnya.
Bersambung...
Jangan lupa like, komen dan Votenya ya.
__ADS_1
Terima kasih.