Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)

Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)
Bab 80. Gelisah


__ADS_3

Aditia kini tengah duduk di kursi kebesaran-nya. Entah mengapa Aditia merasakan gelisah. Sedari tadi ia mencoba fokus mengerjakan pekerjaannya, namun tidak bisa.


Ada rasa gelisah, takut, perasaannya bercampur aduk. Setalah tadi ia pulang dari Restoran. Ya, alasannya Lisa.


Terus terang saja, Aditia ingin segara tau kebenaran.


Apa benar Lisa sudah menikah lagi dan hamil. Jika tidak, apa yang kini ditakutinya akan terjadi.


Mengingat, sebelum kejadian Dinda kecelakaan, ia sempat tidur bersama Lisa malam itu. Jangan, jangan sampai itu terjadi.


Tapi kemungkinan itu sangat besar, Aditia tau bahwa Lisa sebenarnya bisa punya anak, dalam arti rahimnya selama ini tidak bermasalah. Selama menikah dengan Aditia ternyata Lisa mengonsumsi obat pencegah kehamilan. Sampai saat ini Aditia tidak tau kenapa alasan Lisa meminum obat itu? Karna pada saat itu Aditia bertanya, Lisa tidak memberikan jawaban.


Hanya "Maaf, Maaf, dan Maaf" saja yang terlontar dari bibir Lisa kala itu.


Aditia menyugar rambutnya dengan kasar.


"Tidak, itu pasti bukan anakku. Lagian Lisa minum pil pencegah kehamilan, dia tidak mungkin hamil. Ya tidak mungkin."


"Ya Tuhan, tolong jangan berikan cobaan pada rumah tanggaku dan Dinda, kami baru saja memulainya." Aditia bermonolog dengan dirinya sendiri.


Antara yakin dan tidak, ya pasti. Aditia berharap bahwa anak yang di kandung Lisa bukan anaknya.


Setalah lama bergelut dengan pikirannya, Aditia memutuskan untuk pulang, karna tidak mungkin ia melanjutkan pekerjaannya dalam kondisi kalut seperti ini. Lebih baik Aditia pulang ke Rumah, Dinda dan baby Azka mungkin akan jadi penawaran dari rasa kalutnya.


Aditia membereskan meja kerjanya, setalah itu ia berajak dari duduknya, dan segera bergegas keluar dari ruangan tersebut.


***


Dinda dan kedua mertuanya terlihat tengah bercengkrama di ruang tengah, seraya bermain dengan baby Azka.


Pancaran penuh kebahagian terlihat dari wajah mereka, ke hadiran baby Azka memang benar-benar mengubah dunia mereka, semakin indah.


"Aduh, cucu Oma kayanya ngantuk nih," ucap Mamah Adelia saat melihat baby Azka yang tengah menguap.


"Azka mau bobo, ayo kita bobo dulu yuk," ujar Dinda.


"Biar Mamah aja yang boboin baby Azka ya Din."


"Boleh Mah," sahut Dinda.


"Ayo kita bobo sama Oma," ucap Mamah Adelia seraya membawa baby Azka ke pangkuannya.


"Mamah boboin dulu Azka ya," pamitnya diangguki oleh Dinda dan Papah Mahendra.


"Haduh kelakuan Mamahmu itu Din," ucap Papah Mehendra. Seraya menatap punggung istrinya yang tengah berjalan menuju kamar Azka.


"Gak apa-apa Pah, justru aku senang. Mamah benar-benar menyayangi Azka," sahut Dinda.


"Tentu saja Din, baby Azka-kan cucu kita. Kita semua sayang sama Azka."

__ADS_1


"Oh iya, Papah mau dibikin teh atau kopi?" tanya Dinda.


"Boleh tuh Din. Kopi aja, tapi jangan banyak-banyak gulanya. Gula Papah naik nanti," jawab Papah Mehendra sambil tersenyum merkah.


"Siap Pah, tunggu sebentar ya, Pah."


Papah Mehendra mengangguk, lalu Dinda berlalu menuju dapur. Tak lama kemudian Dinda terlihat kembali, dengan nampan yang berisi secangkir kopi.


"Ini Pah, kopi hitam, gulanya sedikit. Biar gula Papah gak naik," ujar Dinda seraya meletakan cangkir yang berisi kopi untuk Papah mertuanya itu.


"Wih, mantap..." Mata Papah Mehendra berbinar, laki-laki parubaya itu langsung mengambil cangkir kopi tersebut.


"Awas masih panas Pah," ucap Dinda.


"Hehe, iya Din. Nanti sajalah, tunggu anget," sahut Papah Mehendra, lalu ia meletakan kembali cangkir kopinya itu.


Mamah Adelia terlihat kembali, menghampiri suami dan menantunya itu.


"Udah bobo Mah?" tanya Dinda pada Mamah Adelia, yang kini sudah duduk di samping Dinda.


"Udah dong," jawabnya diiringi dengan senyuman.


"Wih, ada kopi, punya siapa ni?" tanya Mamah Adelia, tanpa menunggu jawaban dari Dinda dan suami, wanita itu langsung mengambil cangkir kopi tersebut, lalu meminumnya. Dan...


"Aww, panas..." teriaknya, Mamah Adelia langsung meletakan kembali cangkir kopi tersebut.


"Hahahaha..." Papah Mehendra tertawa. Sementara Dinda, ingin rasanya dia juga tertawa, tapi takut dosa, alhasil hanya menahan tawanya saja.


"Lah mau bilang gimana? Wong Mamah langsung main seruput aja, gak nunggu kita jawab, ia gak Din?'' ucap Papah Mahendra, masih dengan tawanya.


"Dinda ambilkan minum bentar ya Mah," ucap Dinda, ia langsung berjalan menuju dapur.


"Jus aja Din," teriak Mamah Adelia.


"Iya Mah," sahut Dinda yang mendengar suara teriakan Mamah Mertuanya itu.


"Ketawa aja terus!" ketus Mamah Adelia pada suaminya.


"Hahaha, habis bencanda Mamah garing."


"Garing kok ketawa!"


"Hahaha...."


"Ini Mah jus-nya," ujar Dinda seraya memberikan jus jeruk kepada Mamah mertuanya itu.


"Aduh makasih ya sayang," ucap Mamah Adelia tulus, lalu mengambil gelas yang berisikan jus tersebut, dan meminumnya sampai tandas.


Dinda melongo sambil menelan silivanya. Melihat Mamah mertuanya itu, yang langsung meminum jus tersebut sampai tandas.

__ADS_1


"Habis nguli di mana Mah?" goda Papah Mahendra.


Mamah Adelia tak menggapinya, hanya memberikan tatapan mautnya saja. Membuat sang suami langsung jep. Diam tak berkata-kata apa-apa lagi.


Dinda menahan tawanya melihat ekspresi Papah mertuanya itu. Apa ini yang dinamakan SUSIS? SUAMI TAKUT ISTRI.


Namun detik kemudian, Dinda beristighfar dalam hatinya. "Astagfirullah, apa yang aku pikirkan," batin Dinda.


Namun Dinda tak bisa memungkiri bahwa dirinya bahagia mempunyai kedua mertua seperti Mamah dan Papah Aditia itu. Mereka asik. Ya, walaupun sedikit lebay. Gak apa-apa, lebay itu anggap saja bumbu rumah tangga juga.


"Oh iya Din, apa kamu gak niat buat menyewa baby sister untuk baby Azka?" tanya Mamah Adelia, kembali membuka percakapan mereka.


"Mau sih Mah, tapi belum ketemu yang cocok!" jawab Dinda.


"Emm, nanti Mamah bantu carikan deh Din. Kita itu harus cari baby sister yang sudah mapan, mapan dalam arti, pengalaman, cekatan, terus cari yang usainya di atas 30 tahun, biasanya kalau usia segitu sudah ada tipe keibuan," papar Mamah Adelia.


"Emm, begitu ya Mah. Gini Mah tadi bi Santi bilang sama Dinda, katanya dia ada keponakan yang ingin berkerja."


"Keponakan Bi Santi?" Dinda mengangguk.


"Usai berapa tahun Din?" tanya Mamah Adelia.


"Baru lulus SMA sih Mah, tapi kata Bi Santi dia mandiri, tulang punggung keluarga juga, tadinya aku mau keponakan Bi Santi buat jadi baby sisternya Azka."


"Usianya masih muda sekali berarti, belum berpengalaman juga. Terserah kamu sih Din, tapi Mamah jujur aja rasanya kurang setuju," ucap Mamah Adelia.


"Iya Papah juga!" timpal Papah Mahendra.


Dinda terlihat bingung, sebenarnya Dinda juga kurang srek, tapi ia merasa kasian dengan keponakan Bi Santi itu.


"Tapi kasian juga sih dia. Begini saja, kamu bicarakan saja dulu sama suami kamu, kalua dia setuju. Ya gak apa-apa. Kita ikutan aja," lanjut Mamah Adelia.


"Iya nanti, Dinda bicara dulu sama Mas Aditia."


Bersambung...


Like


Komen


Vote


Dulu guys.


Gift juga boleh, hehe


Kopi sama bunganya di tunggu.


Oh iya, maaf mungkin aku keliru, nama Mamahnya Aditia alias mertuanya Dinda. Itu Namanya Adelia, kalau aku salah nulis di bab yang kemarin-kemarin maaf ya. Belum sempat cek lagi, hehe

__ADS_1


Nanti kalau senggang aku cek, dan revisi.


Terima kasih.


__ADS_2