
"Lis, apa kabar? Kamu tidak ingat aku?" Cerca laki-laki itu lagi.
"Siapa kamu?"
"Aku Riki, teman sekolah kamu dulu."
"Oh, Riki. Teman sekelas yang sangat menyebalkan dan sering ngebuli orang!" sahut Lisa dengan sinis.
"Ayolah Lis, itukan dulu jangan diingat-ingat lagi. Ngomong-ngomong, sekarang kamu beda banget."
"Tentu saja aku yang dulu beda dengan aku yang sekarang! Dengar ya, sampai kapan pun aku akan tetap mengingat orang-orang yang sudah menyakiti aku dulu, termasuk kamu. Dan satu lagi, jangan sok akrab. Aku tidak suka! Awas, aku mau lewat," sinis Lisa, lalu ia berlalu melanjutkan langkahnya.
Riki menggeser tubuhnya, memberi jalan pada Lisa. "Sombong sekali dia. Penasaran apa memang kehidupan sudah membaik sekarang? Tapi perasaan, beberapa bulan lalu aku ketemu dengan orang tuanya, ibunya tidak berubah, masih seperti dulu." Ucap Riki pelan seraya menetap punggung Lisa yang terus menjauh dari pandangan.
"Ck, ngapain aku ngurusin dia. Masih ada hal yang lebih penting dari pada kepo dengan kehidupan si Lisa," ucapnya lagi. Riki pun kembali melanjutkan langkahnya.
***
Sementara itu, di sebuah apartemen mewah. Bella berasa menjadi ratu, bagaimana tidak. Reza menyediakan pelayan yang sangat penurut, Bella merasa di manjakan. Apa pun yang ia inginkan tinggal tunjuk tangan pasti akan di dapatkan. Menyenangkan bukan?
"Ah, enak sekali hidupku. Andai saja kak Riki berprilaku seperti ini kepadaku, aku pasti akan bahagia sekali. Tapi sayangnya itu tidak akan pernah mungkin. Apa ini saatnya aku harus melupakan kak Riki ya? Mulai menerima kak Reza, tapi aku sangat mencintai kak Riki, jika aku menyerahkan sekarang, percuma dong perjuangan aku selama ini untuk mendapatkan kak Riki, bahkan aku sudah menyakiti kakakku sendiri."
Bella bermonolog dengan dirinya sendiri, bingung harus bagaimana mana ia sekarang? Pergi dari kekangan Reza sepertinya tidak akan mudah, lalu bagaimana ia bisa meraih Riki kembali. Jika setiap hari ia hanya berdiam diri, menjadi tawanan ayah dari si jabang bayi. Bukan hanya itu, mengingat tentang perjuangannya ingin menikah dengan Riki, bahkan dengan keegoisannya, Bella sudah menyakiti hati kakaknya sendiri.
"Bagaimana kabar kak Dinda ya sekarang?" Tiba-tiba Bella teringat kepada Dinda, ada rasa rindu yang bersarang dihatinya, Dinda memang sosok kakak yang penyayang dan pengertian serta tanggu jawab, Bella akui itu semua, jujur saja dalam hati kecilnya ia sangat menyayangi kakaknya itu, namun ego mengalahkannya. Dinda terlalu terobsesi dengan Riki, sehingga ia gelap mata. Demi obsesinya itu ia bahkan melupakan jasa sang kakak, merebut Riki dengan piciknya.
"Apa kak Dinda akan memaafkan aku? Setalah apa yang aku lakukan?" Lirih Bella, ada rasa sesal dihatinya, sudah merebut calon suami kakaknya itu. Tapi mengingat apa sudah ia lakukan kepada sang kakak, apa mungkin Dinda akan memaafkannya? Bahkan tidak sepengetahuan Bella, kakaknya kini terjebak dalam situasi yang sangat rumit.
"Aku harus mencari kak Dinda, aku akan minta maaf padanya, terserah nanti dia akan memaafkan aku apa tidak! Tapi semoga saja kak Dinda memaafkan aku, aku sudah tidak punya siapa-siapa di dunia ini selain kak Dinda," ucap Bella.
"Hey baby, aku pulang!" suara Reza terdengar. Bella langsung tersentak dari lamunannya, ia terkejut tiba-tiba saja Reza sudah ada dihadapannya.
"Astaga, kamu mengagetkan aku saja!" Kesal Bella.
"Sorry baby, aku tadi sudah permisi. Hanya saja kamu tidak menyahut, seperti kamu sedang melamun. Kamu lamunin apa hah? Mantan suami kamu itu?"
"Kalau ia emang kenapa hah?" Bella menjawab dengan memalas. Entah kenapa ia sangat sebal jika berbicara dengan Reza, bawaannya ingin marah-marah.
"Kau kejam baby." Lirih Reza penuh drama. Terlihat sangat lebay di mata Bella. Lihatlah tingkahnya, demi apa Bella bisa mencintainya. Sangat menjengkelkan bukan, jika sampai Bella bisa jatuh cinta dan menerima Reza.
__ADS_1
"Tapi okelah baby, aku memaafkan kamu kali ini. Tapi ingat ini untuk yang pertama kalinya kamu memikirkan si kirik itu,"
"Riki, dia itu manusia bukan anak anjing, kamu main ganti-ganti saja nama orang!" pungkas Bella, memotong ucapan Reza.
(Kirik, kalau ditempatku itu emang sebutan buat nama anak anjing guys😅 tau tuh si Reza main ganti nama orang saja 😂ðŸ¤)
"Ya-ya terserah kamu saja baby. Tapi aku tidak suka kamu menyebut namanya oke."
"Terserah!" ketus Bella. Namun bukannya Reza marah atau apa, dia malah gemas melihat Bella. Reza mengakui kalau ia sudah jatuh cinta pada Bella. Gadis yang kini tengah mengandung darah dagingnya itu.
'Ya ampun, gelar Casanova--ku sepertinya akan segera berakhir. Kalau Aditia tau bisa jadi bahan tertawaannya aku,' gumam Reza.
"Oh iya kak, aku boleh minta izin gak?" Ucap Bella dengan manis, tentu saja Bella seperti itu ada maunya.
Tapi niatnya baik, Bella ingin mencari keberadaan kakaknya Dinda, seperti niat awalnya.
"Tunggu-tunggu! Kamu barusan manggil aku apa baby?"
"Kakak!"
"Wah-wah, seperti sudah ada kemajuan. Tingkat baby, kalau bisa kamu panggil aku dengan sebutan sayang!" seru Reza seraya menaik turunkan alisnya menggoda Bella.
"Ck, ngimpi," jawab Bella namun dalam hatinya. Bella hanya menampakan senyuman manisnya.
"Tidak," sangkal Bella dengan cepat. "Aku ingin mencari kakakku," lanjutnya.
"Kakak? Emang kamu punya kakak? Kenapa kamu tidak pernah bercerita baby!"
"Apa kakak pernah bertanya?" Reza langsung mengelengkan kepalanya.
"Lalu, laki-laki apa perempuan kakak kamu?"
"Perempuan."
"Siapa namanya?"
"Kak Dinda." Jawab Bella.
"Dinda? Seperti aku tidak asing dengan nama itu! Ciri-cirinya bagaimana?" Tanya Reza antusias.
__ADS_1
Lalu Bella menyebutkan semua ciri-cirinya Dinda. Reza menyimak dengan serius. 'Kenapa ciri-cirinya hampir sama dengan Dinda bini mudanya si Aditia ya?' gumam Reza.
"Emm baby, apa kakakmu itu sudah menikah?" tanya Reza lagi. Bella langsung menganggukkan kepalanya pelan, ia tau pernikahan kakaknya itu tetap berlangsung walaupun tanpa Riki, Bella tau ada laki-laki yang menggantikan calon suami kakaknya itu.
"Kamu tau calon suaminya?"
"Tidak kak," jawab Bella dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Seperti ia benar-benar sudah menyesali semuanya.
"Aneh kanapa kamu tidak tau?" Reza menggaruk kepala yang tidak gatal. Heran! Bagaimana seorang adik tidak tau kakaknya menikah dengan siapa? Bahkan nama kakak iparnya sendiri tidak tau.
"Ceritanya panjang kak!"
"Ceritakan, sepanjang apa--pun aku akan dengarkan."
Bella menghelai nafasnya, ia mengusap air mata yang sudah menetas dari sudut matanya itu. Lalu ia menceritakan semuanya pada Reza.
***
Sementara itu, Aditia, Dinda dan mamah Amira serta papah Mahendra. Mereka kini tengah berkumpul di ruang tengah. Aditia sengaja meminta kedua orang tuanya berkumpul, ada hal penting yang ingin Aditia bicarakan pada mereka.
Dinda terlihat menundukan kepalanya, seraya memainkan jari-jarinya. Dinda tidak tau apa maksud suaminya itu mengajaknya.
"Ada Aditia?" Tanya papah Mehendra.
"Iya mau bicara penting soal apa?" timpal mamah Amira.
"Pah, mah. Seperti Aditia akan mengambil keputusan, bahwa kita akan kembali ke rencana awal kita saja," jawab Aditia seraya melirik kearah Dinda lalu kembali menatap ke kedua orang tuanya.
"Rencana awal? Ucap mamah Amira dan papah Mahendra secara bersamaan. Mereka saling melemparkan pandangannya, lalu menatap Aditia dengan tatapan penuh tanda tanya.
Bersambung...
Maaf ya up-nya malam banget. Lagi sibuk benget.
Semalam saja aku sampe ke tiduran, saking lelahnya itu. Karna aktifitas real life sangat sibuk.
Jangan lupa like, komen dan Votenya ya.
Terima kasih, sudah setia menunggu kelanjutan cerita Dinda.
__ADS_1
Salam sayang dari Author.
Love u..